Judul: Menunggu yang Tak Pasti
Ada seorang pemuda bernama Umar, mahasiswa keperawatan yang dikenal baik hati dan teguh pendirian. Di masa mudanya, Umar mencintai seorang wanita bernama Hana. Perasaan itu tumbuh sejak mereka masih sekolah, saat Umar melihat Hana membantu seorang anak kecil yang terjatuh di jalan. Sejak saat itu, Hana menjadi sosok yang sangat berarti bagi Umar.
Namun, takdir tidak selalu berpihak. Setelah lulus sekolah, Hana pergi melanjutkan pendidikan di kota lain. Hubungan mereka perlahan menjauh. Umar tetap bertahan, menyimpan rasa cinta yang sama selama bertahun-tahun. Ia sering merenung sendiri di malam hari, bertanya-tanya apakah Hana pernah mengingatnya.
Waktu berjalan, Hana mulai hidup dengan dunianya sendiri. Ia melupakan Umar, sementara Umar tetap setia menanti tanpa pernah menyatakan perasaannya secara langsung. Setiap kali ia ingin melangkah, ia dihantui rasa takut—takut ditolak, takut kehilangan kesempatan meski hanya menjadi kenangan di hati Hana.
Suatu hari, Umar melihat sebuah foto Hana di media sosial, berdiri di samping seorang pria. Foto itu menghancurkan hatinya. Ia sadar, Hana telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Malam itu, Umar menangis dalam sunyi, melepas semua harapannya yang telah ia pelihara selama hampir tujuh tahun.
Namun, di titik terendah itu, Umar berjanji pada dirinya sendiri: ia harus bangkit. Ia mulai fokus pada kuliah, memperbaiki diri, dan mengejar mimpinya menjadi dosen. Ia menyadari, mencintai seseorang tidak selalu harus memilikinya. Cinta sejati adalah tentang mendoakan kebahagiaan orang yang dicintai, meski itu berarti harus merelakan.
Tahun berganti. Umar akhirnya lulus dengan nilai terbaik dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di kampus barunya, Umar bertemu seorang wanita bernama Aisyah, seorang dosen muda yang sering mengadakan kegiatan sosial. Aisyah kagum pada kedewasaan dan tekad Umar. Hubungan mereka bermula dari diskusi akademik hingga tumbuh menjadi saling mendukung dalam kebaikan.
Pada akhirnya, Umar menikah dengan Aisyah dalam sebuah acara sederhana namun penuh kebahagiaan. Di malam pernikahannya, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Terima kasih, Hana, telah mengajariku apa itu cinta. Dan terima kasih, Aisyah, telah memberiku kesempatan untuk mencintai lagi."
