*Chapter 62*

935 108 43
                                    

Gara memandang takjub mobil yang berada di hadapannya. Hyundai keluaran terbaru, Hyundai palisade night edition sebutannya. Salah satu mobil terkenal di negara Korea.

"Berapa kalian beli ini? Keren banget," Tanya Gara pada dua abangnya dengan mata berbinar. Senang sekali bisa mendapatkan mobil seperti itu.

"Beli satu aja lah. Satu itu aja bikin dompet gue menjerit." Jawab Shino.

Gara mendesis, geregetan. "Maksud gue, berapa duit buat beli nih mobil. Bukan jumlah mobilnya, Bang Shino yang pinter!" Ujarnya pada sang abang yang terlalu pintar itu. Lawan kata nya pintar maksudnya.

"Oh, makanya yang jelas dong kalo ngomong." Balas Shino menyalahkan Gara.

"Jadi, kalian patungan beli mobil ini?" Gara kembali bertanya tapi bukan pada Shino, melainkan bertanya pada Thaka. Karena ia menolehkan kepalanya ke arah Thaka, tidak ke arah Shino.

"Iya, awalnya abang udah beli hadiah sendiri sebenarnya. Tapi karna kasian Shino kan rekeningnya lagi diblokir sama papa, jadi abang bantuin dia beli hadiah buat kamu." Jawab Thaka.

"Hadiah yang dari Bang Tha sendiri apa emangnya? Gak abang balikin 'kan hadiahnya? Mana gue mau liat?"

"Di halaman belakang. Anak singa yang ada dua itu.. satunya dari papa, satunya lagi dari abang. Abang kira papa gak bakal kasih hadiah itu makanya abang aja yang mau kasih. Eh ternyata papa kasih hadiah itu juga, jadinya double deh. Maaf, ya." Ujar Thaka merasa tidak enak karena sudah memberikan hadiah yang sama dengan hadiah yang Papa nya berikan pada adiknya itu.

"Owalah, gak pa-pa, bang. Ngapain minta maaf. Gue malah seneng dapat dua anak singa. Lucu-lucu gitu. Makasih, ya, bang. Abang royal banget sih. Kebanyakan uang nih kayaknya. Harusnya abang gak usah bantuin Bang Shino, biar aja dia beliin sendiri hadiah buat gue. Uang dia 'kan banyak. Liburan ke Paris aja dia bisa. Masa beli hadiah buat adeknya gak bisa." Gara melirik sekilas ke arah Shino yang berdiri di samping kirinya. Sengaja menyindir dan mengungkit kembali perihal abangnya yang sempat berlibur ke Paris.

"Ya justru karna abis dari Paris, uang gue jadi menipis, Gar. Ditambah rekening sebagian diblokir sama papa. Jadi makin menipis lah uang gue." Balas Shino dengan wajah dibuat sedih. Biar adiknya merasa kasian padanya.

"Itu mah derita lo. Siapa suruh liburan ke Paris?! Gak ngajak-ngajak kita lagi. Pergi berdua doang sama pacar. Coba kalo punya banyak uang tuh kayak bang Thaka, royal ke adiknya bukan malah royal ke pacar,"

Memang realita tidak seindah ekpektasi. Gara sama sekali tidak merasa kasian pada Shino. Gara malah masih merasa kesal karena abangnya itu liburan ke Paris tidak mengajaknya. Padahal ia juga 'kan pengen liburan kesana.

"Iya, maaf. Sekarang gue 'kan udah gak punya pacar. Jadi mulai sekarang gue bakal royal ke lo. Gak royal ke pacar lagi."

"Yaudah,gue maafin. Tapi ajarin gue nyetir mobil, ayok!" Gara mengajak dua abangnya dengan antusias.

Shino merotasikan bola mata. Adiknya ini tidak sadar diri. Bernapas saja masih dibantu alat pernapasan, malah sok-sokan mau belajar mengemudikan mobil. Hadeh.

"Perlu gue ambilin cermin? Biar lo ngaca dan liat sendiri kondisi lo sekarang yang masih memprihatinkan ini? Belajar napas yang bener dulu, baru belajar nyetir mobil!" Emang dasarnya mulut Shino itu tidak ada filternya. Asal ceplos saja, tanpa memikirkan apa perkataan yang dilontarkan itu baik atau justru malah membuat orang yang mendengar menjadi sakit hati. Shino sebenarnya tidak bermaksud mengejek. Ia hanya ingin adiknya itu lebih memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri yang masih belum baik. Tapi cara penyampaiannya saja yang salah.

Bukk!!

Nah kan!
Thaka langsung memukul kepala saudara kembarnya itu dengan cukup keras. Shino pun langsung meringis kesakitan dibuatnya.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang