Setelah kejadian tempo lalu tentang terbunuhnya seorang model papan atas Johanes victacius, kehidupan sepasang suami istri itu kembali seperti biasanya. Hanya saja, ada yang berbeda dengan intensitas keduanya.
Sejak kejadian itu berlalu, baik Lyn maupun Vier, keduanya jadi lebih sering berinteraksi. Entah itu selalu berada di ruangan yang sama, atau berbincang ringan ketika berpapasan.
Lyn tidak tahun mengapa hal itu terjadi, seakan aktivitas yang mereka lakukan itu terjadi secara alami dan tanpa disengaja. Begitu pula dengan pria matang yang menjadi suaminya, Vier. Dia nampak menikmati moment pendekatan yang amat terlambat mereka lakukan tersebut.
Bayangkan saja, hidup bersama selama dua tahun namun mereka seperti orang asing yang terpaksa harus hidup bersama dalam satu atap. Tanpa komunikasi lancar layaknya suami istri, dan tanpa interaksi layaknya pasangan yang berjanji dihadapan tuhan.
Namun, kejadian kemarin sepertinya sedikit menyadarkan mereka akan pentingnya komitmen dalam sebuah hubungan. Menyatukan dua insan yang saling bertolak belakang dan saling berbeda pandangan hidup melalui sebuah insiden yang untungnya tidak menjadi skandal dalam rumah tangga keduanya.
"Mau kemana?". Vier menyandarkan punggungnya di sofa, dengan sebelah tangan bertengger ke sandaran sofa tersebut dan kaki panjangnya yang saling bertumpu satu sama lain, menyilang.
Alisnya terangkat tinggi ketika netra coklat itu mendapati sang istri yang telah berpakaian rapih dan berdandan cantik. Dengan gaun putih tulang yang panjang menjuntai hingga ke lantai, belahan pinggir gaun yang memanjang hingga ke pertengahan paha mulus yang tak pernah ia sentuh sekali pun, lalu potongan atas gaun yang rendah hingga menampilkan bahunya yang indah dan terlihat menggoda.
Belum lagi di bagian punggung gaun itu yang mengekspos hampir keseluruhan bagian tubuh belakang wanita cantik tersebut.
Vier mengeram rendah sambil memikirkan kemungkinan tempat apa yang akan dikunjungi wanita anggun tersebut. Mungkinkah ia kan menemui pria lain yang sering dibicarakan Bryan sebagai selingkuhan wanita itu?.
Jika bukan, mengapa Lyn berdandan dengan begitu mempesona seperti saat ini?.
Berbagai pikiran negatif saling hingga di kepala Vier. Membuat pria matang itu mengepalkan telapak tangannya dengan erat. Menahan untuk tidak menanyakan semua pertanyaan di kepalanya tersebut.
"Aku akan pergi sebentar ke pesta penyambutan kepala rumah sakit baru hari ini. Kenapa?". Lyn bertanya bingung ketika melihat ekspresi Vier yang terlihat sedang menahan emosi.
Apa yang salah?.
Kepalan tangan Vier yang mengerat perlahan dikendurkan ketika ia mendengar jawaban dari istrinya. Entah mengapa ia merasa lega saat mendengar hal itu.
Mungkinkah ia merasa cem...ah tidak mungkin. Bukankah ia tidak mencintai wanita yang menjadi istrinya itu. Lantas mengapa ia harus merasakan perasaan kekanakan tersebut.
Vier yakin jika dirinya hanya menjaga ego dan harga dirinya sebagai seorang pria yang tidak ingin diselingkuhi ataupun bahkan berselingkuh. Demi menjaga nama baiknya dan juga nama baik dua keluarga.
Ya hanya itu.
Mungkin.
Perasaan seseorang, siapa yang tahu.
"Tidak ada, ku pikir kau akan bekerja dengan menggunakan gaun dan berdandan can..ehm berdandan seperti hendak berjalan diatas catwalk". Vier memalingkan wajahnya saat sampai di akhir kalimat.
Lyn terdiam dengan kebingungan. Apa yang dibicarakan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Sangat tidak jelas dan tidak penting.
Lagipula, sejak kapan pria itu mulai perhatian hingga bertanya kemana ia akan pergi dan memperhatikan penampilannya.
Sungguh aneh.
"Kalau begitu, aku pergi dulu".
"Hm". Vier menjawab singkat.
Setelah Lyn berlalu dan keluar dari rumah, Vier mengumpati dirinya sambil menutup wajah dengan frustasi.
Apa yang baru saja terjadi, mengapa kalimat tidak berbobot itu keluar dari mulutnya yang berharga. Seperti bukan dirinya yang hanya mengeluarkan kalimat-kalimat penting yang menghasilkan banyak uang.
Tanpa sadar wajah tampan itu memerah bahkan hingga ke telinga. Ia kembali merutuk tidak jelas sambil memukul kepalanya ringan.
"Hais memalukan".
"Apanya yang memalukan?". Tiba-tiba Bryan yang datang entah darimana menyerobot duduk di samping Vier dan membuat pria itu terkejut.
"Astaga".
Bryan memicingkan mata. Sejak kapan pria itu mudah terkejut.
"Apa yang terjadi, dan kejadian menarik apa yang aku lewatkan?". Bryan bertanya penasaran. Ia memepetkan duduknya pada pria yang menjadi sahabat sekaligus bosnya di tempat kerja itu.
"Menjauh dariku". Vier berkata dingin sambil menghempaskan tubuh Bryan dengan keras hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Aassh...ck, tega sekali kau mendorongku hingga terjatuh. Kau pikir lantai rumahmu itu selembut payudara wanita di club milik Daniel, huh". Bryan menggerutu. Ia menepuk-nepuk bokongnya yang terasa sakit.
"Menjijikan". Ucap Vier sarkas.
Bryan terkekeh lalu duduk kembali di samping sahabatnya itu. "Ayolah, kau bukan pria polos kawan. Bahkan bayi yang baru lahir pun sangat menyukai benda kenyal kramat itu". Ia tertawa
Pria itu merangkul bahu Vier yang langsung dihempaskan begitu saja tanpa perasaan.
"Ck kau kasar sekali. Pantas saja istrimu itu tidak betah berada di rumah dan mencari pria lain di luar sana". Bryan menyeringai jahil.
Sedangkan Vier, pria itu sudah mendelik dan menatap tajam Bryan yang ada disisinya. "Istriku tidak betah berada di rumah karena dia bekerja. Bukan sepertimu yang libur sehari dipakai untuk menjaja wanita di club malam. Dan dengar, Lyn tidak mungkin berselingkuh dariku. Aku tahu bagaimana sifat istriku sendiri".
Ya, Vier tahu bahwa Lyn sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Dan dia tidak mungkin mencari pria lain disaat dirinya telah menikah dan memiliki suami setampan dan semapan Vier.
Setidaknya, itulah yang ada dipikiran Vier saat ini.
"Jangan naif kawan, istrimu memang sangat menjunjung tinggi harga diri dan nama baik keluarga kalian. Namun, tidak menutup kemungkinan jika istrimu mencari kehangatan lain diluar sana ketika suaminya bahkan seperti tidak berminat padanya. Apa kau sadar, sikapmu selama ini seperti menunjukkan bahwa kau sama sekali tidak menganggap Lyn dalam hubungan kalian. Ya meskipun istrimu sama saja sih. Hais bagaimana mengatakannya ya, kalian itu sama saja. Saling membentengi diri dan tidak mau membuka hati satu sama lain".
Bryan berhenti sebentar untuk menenggak minuman yang baru saja disajikan seorang maid untuknya.
Setelah minuman itu tandas, ia melirik Vier yang terdiam dan seperti merenung.
Bagus, sepertinya dia termakan oleh ucapanku.
"Dan satu lagi. Ku harap kau mulai membuka diri padanya. Lindungi milikmu seperti kau yang selalu melindungi apa yang telah kau dapatkan selama ini. Jangan biarkan istrimu berpaling dan meninggalkanmu dengan pria lain. Berusahalah mencintainya dan buat dia juga mencintaimu".
Vier masih terdiam.
"Ngomong-ngomong, tadi aku bertemu istrimu di depan. Dia sangat cantik dan seksi. Ck, jika aku jadi kau, aku tidak akan membiarkan istrimu pergi dengan penampilan menggairahkan seperti itu. Ah ya, kalau kau berniat tidak ingin memiliki istrimu, aku rela menampungnya di rumahku".
Plak
Vier menampar kepala Bryan dengan keras. "Jangan harap".
Setelah itu, ia kemudian berlalu dan meninggalkan Bryan yang kini tertawa puas dibelakangnya.
"Aku tahu bahkan kau sudah mencintainya Vier. Bahkan jauh sebelum kalian terikat dalam pernikahan ini. Hanya saja, kau terlalu bodoh untuk menyadari hal itu".

KAMU SEDANG MEMBACA
Lyn?? (ON-GOING)
RandomVier tidak menyangka bahwa dia akan menjatuhkan hatinya pada perempuan penuh misteri seperti Lyn. Dengan segudang rahasia yang dimiliki perempuan itu, ia bahkan tidak berharap lebih pada pernikahan hasil perjodohan tersebut. Namun, apa boleh buat. H...