"Tolong jangan pergi lagi diantara kita" Starla menatap seluruh wajah yang berada di pemakaman itu dengan lekat.
"Kalau memang harus ada korban lagi, boleh gak gue aj-" Izumi membungkam mulut kekasihnya cepat.
Starla dan Nela menatap gundukan tanah yang usai disiram itu dengan bunga mawar dan melati yang aromanya masih menyeruak memasuki indra penciuman mereka ber 4.
"Jangan ngomong yang macem-macem disini kak, bahaya!". Izumi melepaskan tangannya dari mulut Kubo kemudian terdiam menatap Nela dan Starla yang masih sibuk mengeluarkan semua kesedihannya.
"Kita ngapain sih?"
"Memantau pacar kita masing-masing, gimana sih!?" Riku menggeleng, tak percaya pada pertanyaan Ryu.
"Ayo pulang, udah mendung" Izumi bangkit, dan memberikan kode kepada Kubo untuk mengajak Nela dan Starla meninggalkan tempat itu.
"Ayo El, ayo La. Ryu sama Riku gak bakal suka liat kalian berdua sedih. Udah ya?" Kubo memaksa senyuman terbit di wajahnya. Nela berdiri dan mengusap air matanya yang masih mengalir.
Starla memeluk batu nisan milik Riku begitu erat, enggan meninggalkan tempat itu.
"La, udah, ayo pulang, udah gerimis, keburu jadi lebat hujannya, ayo!" Starla menggeleng dan tetap memeluk batu nisan itu.
"La, ayo, hujannya udah mau mulai lebat" Kubo berusaha melepaskan tangan gadis itu dari batu nisan dengan nama Riku Nakamaru.
"Jumi, bantuin, Lala gak mau ninggalin makan Iku" Izumi menatap lekat mata Kubo sebelum akhirnya ia kembali menuju pemakaman dan menatap Starla yang masih menangis dengan kencang, suaranya tertutup dengan suara gemuruh yang menyambar.
"KAK LALA, DENGERIN IZUMI, DENGERIN, TATAP IZUMI!!" Teriakan Izumi membuat Starla menatap wajahnya dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"DENGERIN IZUMI, KAK IKU GAK AKAN PERNAH NINGGALIN KAK LALA, BIARIN KAK IKU ISTIRAHAT SAMA KAK KIKI!" Air mata laki-laki itu tak bisa dibendung lebih lama lagi.
Starla tak berkutik, Nela menatap derasnya hujan yang turun. Sekelebat bayangan saat ia diantar pulang oleh Ryu kembali terekam di memori ingatannya seperti kaset.
"Jum, kalo semisal kemarin gue sempet narik kak Riku, dia masih disini kan?" Izumi menggeleng, ia menatap wajah Starla dengan linangan air mata yang menutupi pandangannya.
"Kak Lala gak salah, kecelakaan gak ada yang tau" Kubo berjongkok disamping Starla dan memeluk gadis itu yang semakin histeris dengan tangisannya.
"Nela mana?" Kubo menatap sekeliling kuburan itu, Nela tak ada di pengelihatannya.
"Buruan cari Nela!!" Kubo berdiri disusul oleh Izumi dan Starla, hujan semakin lebat, gemuruh pun tak henti-hentinya saling bersahut-sahutan.
"Nela, gak lucu ya! Sini Nel, ayo kita pulang!" Kubo dengan lantang berteriak, mencari keberadaan Nela.
"Disini" Nela kembali dengan sekantung kresek es krim.
"Buat apa?? Mau mukbang?"
"Hooh, yakali mukbang, biar gak sedih"
"Kalo emang masih belum bisa nerima kepergian Kiki, mau nangis lagi gapapa kok Nel" Nela menggeleng, membuka bungkus es krim itu dan memakannya.
"Enggak, kasian cowo gue gak tenang nanti, haha"
"Ketawa karir? Jelek, maksa banget" sindir Starla yang masih menangis, namun mulutnya menggigit es krim pemberian Nela.
"Biarin, daripada lo, nangis megangin batu"

YOU ARE READING
The 6 Friends of Fate
Action"Bukan gue!" "Gue gak tau apa-apa" "KALO SEMUA BILANG ENGGAK, TERUS SIAPA YANG JADI IMPOSTOR!?" Teriakan Nela menggema. 'Mereka udah saling tuduh? Kayaknya seru' "IZU LO, LO BUAT JANJI SAMA IBLIS!?" "RIKU AWAS!" "RYU!!" "NELA UDAHH MAU LO SAMPE NAN...