46

510 118 31
                                    

Angin sepoi-sepoi mengenai tubuh. Burung-burung merpati berterbangan kelompok di sekitar taman sampai sungai Han.

Duduk berdua namun sedikit berjarak. Rita ngomong panjang lebar selama Rora memegang kertas, penuh tulisan tangan cantik Chiquita.

Dia terlamun lama. Bunga yang tergelatak di sebelahnya bergerak tertiup angin.

Dain sayang~
Makasih untuk waktunya.
Aku beruntung punya pacar kayak kamu yang aku suka sejak kelas 1 SMA.

.

.

.

.

.

.

.

Bruk! Koper diberikan pada petugas. Chiquita berbalik, memeluk orang tuanya sambil tersenyum lebar.

Nanti, kita bakal ketemu lagi di lain waktu.
Aku berharap, aku ketemu kamu waktu udah punya pasangan baru yang lebih menghargai keberadaan kamu.

Chiquita jalan mendekati teman-temannya. Dia melihat Ruka yang tersenyum angguk sambil Rami memberikan kue yang dia beli agar Chiquita bisa makan dalam perjalanan.

" Ada Pharita disana. Tenang aja." Kata Ruka bikin Chiquita tersenyum angguk.

Kamu jangan marah yaa.
Maafin aku.
Aku baru inilah ingkar janji sama kamu.
Kamu...bisa naik bebeknya sama Pharita.

Chiki melepas pelukan Rami. Dia beralih ke Ahyeon yang memeluknya.

" Take care Chiquita~"

" Hem. Makasih."

Aku gak bakal lupa sama kamu.
Kamu someone special di hidup aku selama remaja bareng temen-temen.
I love you Lee Dain.
Aku bakal rindu terus sama kamu naik motor berdua.
Bye....see you

Pesawat take off. Chiquita menoleh keluar kaca, melihat pesawat melintasi taman kota yang berdekatan dengan sungai Han. Dia tersenyum lebar sambil nunduk. Gak boleh nangis karena ini bukan perpisahan terakhir! Dia pasti bakal ketemu sama Rora lagi.

" Dain...." Panggil Rita. Rora noleh ke arahnya sambil merasakan genggaman dan elusan Rita.

" Kenapa hidupku begini Rita? Apa aku gak pantas punya pasangan?"

" Tuhan ngasih tau secara halus kalau jalan kehidupan kamu begini buat dapat pasangan yang lebih baik dari Chiquita."

" Tapi aku mau dia~"

Rita terdiam. Tanpa kedip, air mata Rora menetes.

Ini pertama kalinya dia nangis depan orang. Di depan sahabatnya!

" Aku selalu sendiri akhirnya~"

Rita gak banyak ngomong. Dia langsung menggeser duduknya sambil keluarkan sapu tangan dari tas kecilnya. Lalu dia usap pipi Rora.

" Dain, Papa kamu pernah bilang, terkadang nangis bisa mengurangi beban. Jadi, nangis aja. Ngeluarin air mata bukan hal memalukan."

Dain nunduk. Dia mengusap wajahnya lalu dia remas-remas rambutnya.

Rita nemenin. Dia gak bisa banyak ngomong karena gak mungkin balik juga Chiquita ke Rora. Dia udah ada pasangannya di Thailand. Bahkan meninggalkan Rora begini sebenarnya berat minta ampun dengan hubungan yang masih baru.

" Rita...."

" Hem?"

" Kamu....mau ninggalin aku juga?" Tanya Rora bikin Pharita memberi gelengan.

Triple R (COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang