Caramela • Part 21

108 35 3
                                    

halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!

⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIR

happy reading!
•••


Caramela sedang mengecek catatan presentasinya. Lalu tiba-tiba Laura menepuk bahunya dengan panik.

"Mel! Flashdisk nya ketingalan!" suara Laura terdengar nyaris berbisik, tapi kepanikannya jelas terasa.

Caramela mengerutkan kening. "Hah? Udah lo cek semuanya?"

"Udah, tapi gak ada!" Laura dengan cepat menggeledah tasnya lagi, merogoh setiap kantong, tapi hasilnya nihil. "Astaga, pasti ketinggalan di rumah!"

Laras, Sherly, dan Vinia yang duduk di dekat mereka ikut menoleh.

"Terus gimana? Setengah jam lagi kita mau presentasi," Laras bertanya khawatir.

Laura menggigit bibirnya, lalu menatap Caramela dengan wajah memohon. "Mel, ikut gue ke rumah, ya?"

"Tapi-"

"Kita naik motor punya Laras aja, biar cepet,"

Caramela ragu sejenak. Pergi sekarang berarti mereka harus buru-buru dan tidak punya banyak waktu untuk persiapan. Tapi kalau tidak, mereka tidak bisa presentasi sama sekali.

"Oke, ayo," jawab Caramela akhirnya.

Laras mengeluarkan kunci motornya, "Kalian hati-hati ya, jangan dibawa panik, takut kenapa-kenapa,"

Tanpa membuang waktu, mereka segera berlari keluar kelas menuju parkiran.

Begitu sampai parkiran, Caramela dan Laura langsung pergi.

Perjalanan menuju rumah Laura benar-benar mendebarkan. Karena aura mengendarai motor dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya, mencoba menghemat waktu sebanyak mungkin.

Sementara itu, Caramela mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.

Perutnya terasa sedikit keram, membuatnya menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa tidak nyaman itu.

Astaga, dia lupa kalau sedang hamil.

Begitu juga dengan Laura. Dalam kepanikannya, sahabatnya itu sama sekali tidak menyadari kondisi Caramela. Tapi Caramela tahu, mereka tidak punya pilihan lain. Keadaan sedang genting. Ia harus bertahan.

Setelah lima belas menit yang terasa begitu panjang, akhirnya mereka tiba di rumah Laura.

Laura buru-buru memarkir motor dan langsung menarik Caramela masuk ke dalam.

Saat mereka melewati ruang santai, langkah mereka tiba-tiba terhenti.

Di sana, Gisella sedang duduk di sofa bersama seorang laki-laki.

Laura mengernyit. "Kak Gisel? Kok masih di rumah? Lo gak kuliah?"

Gisella menoleh dan tersenyum santai. "Kelas gue di cancel. Dosennya ada urusan mendadak."

"Oh." Laura tampak tidak terlalu mempermasalahkan itu. "Ya udah, gue sama Caramela ke atas dulu,"
katanya sambil menarik Caramela menuju kamarnya.

Namun, tanpa Laura sadari, Caramela diam terpaku di tempatnya sejenak.

Matanya masih tertuju pada laki-laki di ruang santai tadi. Wajahnya...

Asing.

Tapi ada yang aneh. Wangi parfumnya berbeda.

Kemarin... laki-laki yang bersama Gisella memakai parfum yang sama seperti pelaku yang memperkosanya.

Apakah ini orang yang sama?Karena kemarin, Caramela hanya melihat sekilas dan dari samping.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.

"Mel, ayo!" suara Laura menyadarkannya.

Caramela buru-buru mengikuti Laura keluar dari kamar, tapi pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

•••
don't forget to vote n comment ‼️

Caramela (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang