[UPDATE SESUAI TARGET!]
.
"Kakak gue yang bikin lo bunting, kenapa gue yang harus nikahin?" - Erwin.
*****
Hidup seorang ketua genk motor yang diidolakan banyak gadis, tak semulus kelihatannya. Sifat dingin dan cuek Erwin bukan tanpa alasan, ada ban...
Berhubung banyak pembaca yang baru join, kayaknya gak afdhol kalau aku stop di tengah jalan
Boleh, kan? Aku tamatin dulu?
Yang new version tetap lanjut
And, fyi, versi baru bukan season 2 dari versi yang sekarang ini ya. Tapi lebih ke cerita dengan tema dan latar yang beda, plot juga.
Tapi dasar ceritanya masih sama dan karakter mereka juga sama
Enjoy the story😉
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa hari setelah kondisi Candra membaik, dokter mengizinkan keluarga membawanya pulang.
"Tha, tolong Mama ambilin bubur di dapur, Sayang," pinta Tari, yang langsung dituruti oleh Thalita.
Di kamar, saat ini hanya ada Tari, Erwin, dan Candra yang sedang berbaring di ranjang. Pria itu tak henti memandang istrinya dengan lekat. Sedangkan Tari, memasang wajah acuh dan sengaja menghindari kontak mata. Namun, dia tetap sembari merapikan baju dan obat Candra di tempat yang seharusnya. Tak lupa menyiapkan beberapa obat yang dijadwalkan diminum siang ini.
"Ma," panggil Candra. Tari tak menggubrisnya, membuat Candra merasa bersalah.
"Erwin, barang di mobil udah diturunkan semua, kan?" Tari bertanya pada Erwin.
"Sudah, Ma," jawab Erwin.
Tari mengangguk. Sebelum keluar, Tari berpesan, "Nanti suapin Papa kamu, Mama pergi sebentar."
Erwin yang memahami situasi, hanya bisa diam berusaha tidak turut campur.
"Erwin," panggil Candra, dengan suara lirih.
Erwin menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Candra menggenggam tangan Erwin, sembari berkata, "Mama kamu pasti masih marah."
"Gak terlalu dipikirin, Pa," balas Erwin, "Aku udah tahu harus apa. Soal Mama, nanti aku yang akan jelasin."
***
Malam ini, Erwin berkumpul dengan beberapa anggota inti genknya di tempat biasa mereka balapan. Namun, kali ini tidak ada aktivitas serupa. Hanya ngopi-ngopi santai.
"Gue yakin pelakunya yang rambut kuning!" Robby nyeletuk.
"Bego! Petunjuknya ini mengarah ke rambut merah!" sangkal Andhika.
Suara berisik teman-temannya yang sedang bermain game di ponsel, membuat Erwin cukup terganggu.
"Kalian main apaan, sih?" tanya Erwin.
"Ini ... game detektif," jawab Andhika, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.