Suasana di depan pintu kamar Injun Oppa seakan berhenti. Pelukan erat antara aku dan Injun Oppa seakan menyatukan kembali kepingan kenangan yang terpisah bertahun-tahun. Di dalam pelukan itu, kami berdua terus menangis, meluapkan segala perasaan yang selama ini terpendam.
"Oppa....." suaraku bergetar di dalam dekapan Injun Oppa. "Aku benar-benar merindukan Oppa..... Kenapa Oppa pergi waktu itu ?"
Aku bisa merasakan tubuh Injun Oppa sedikit menegang ketika mendengar pertanyaan itu. Dia menghela napas panjang, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk menjawab. Tangannya masih memelukku dengan erat, seolah takut aku akan pergi jika dia melepaskan pelukan itu.
"Maafkan Oppa, Ody-ah..... Maaf karena Oppa pergi begitu saja....." suara Injun Oppa terdengar serak. "Waktu itu, Oppa tidak punya pilihan lain...."
Aku melepaskan pelukan kami perlahan, menatap wajah Injun Oppa yang sepertinya berhenti menua. Dalam ingatanku, tidak ada yang berubah dari wajahnya itu. Yang berbeda adalah, ada luka tersembunyi di balik sorot matanya.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Oppa ? Kenapa Oppa meninggalkan kami ? Kenapa Oppa meninggalkan aku ?"
Injun Oppa memandangku lama.
"Oppamu yang lain tidak mengatakan apapun kepadamu ?"
Aku menggeleng lemah dan aku bisa mendengar Injun Oppa mendengus pelan.
"Mereka benar-benar menepati janji mereka padaku...." gumam Injun Oppa lirih, dia menundukkan kepalanya. "Oppa memaksa mereka untuk tidak menceritakan apapun kepadamu.... Kau masih sangat kecil saat itu...."
Aku mengulurkan tanganku dan memegang tangan Injun Oppa.
"Oppa... tidak apa-apa.... Sekarang aku sudah dewasa.... Ceritakan saja semuanya...." ujarku meyakinkan Injun Oppa. Aku sudah tahu sebagian besar cerita dari penyelidikanku sendiri. Aku hanya perlu tahu detail penting yang terlewatkan olehku dan juga Akkinta.
Injun Oppa menatap mataku dalam-dalam. Dengan suara berat dia mulai bercerita.
"Tiga belas tahun yang lalu..... sebuah kecelakaan hebat terjadi di lingkungan Samseong Seoul. Kecelakaan yang melibatkan dua mobil tersebut mengakibatkan seluruh penumpang di salah satu mobil meninggal dunia karena mobil tersebut terbakar, sementara mobil yang satu lagi yang dikemudikan dengan pengaruh alkohol menderita cedera di bagian kepala. Berita yang beredar, selain penumpang yang meninggal terbakar di dalam mobil, ada satu penumpang yang ternyata selamat namun kondisinya sangat kritis...."
Oke, aku sudah tahu soal kecelakaan ini.
Injun Oppa menjeda ceritanya. Dia menarik napas yang terdengar sangat berat. "Tapi, kejadian yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu....."
"Apa maksud Oppa ?" tanyaku penasaran.
Injun Oppa menarik napas panjang, tangannya sedikit gemetar di dalam genggaman tanganku. Spontan, aku mengelus permukaan kulit tangan Injun Oppa.
"Tidak hanya dua mobil yang terlibat di dalam kecelakaan itu, Ody-ah.... Ada tiga mobil..... Mobil yang lain adalah mobil yang Oppa tumpangi bersama dengan manajer Oppa...."
"Oppa terlibat dalam kecelakaan itu ?" tanyaku.
Injun Oppa memejamkan matanya sesaat. "Iya....." ungkapnya berat.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
"Astaga....."
Aku beringsut maju, memegang kedua bahu Injun Oppa dengan kedua tanganku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...