Caramela • Part 23

123 38 1
                                    

halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!

⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIR

happy reading!
•••

PRANK!

Suara kaca yang pecah berkeping-keping terdengar keras.

Caramela yang sedang merebahkan diri di tempat tidur langsung terduduk dengan jantung berdegup kencang.

Matanya membelalak ke arah jendela kamarnya yang kini hancur, pecahan kaca berserakan di lantai.

Di tengah kekacauan itu, pandangannya jatuh pada sebuah batu besar yang tergeletak di lantai kamarnya. Napasnya memburu saat menyadari ada selembar kertas yang terikat di batu tersebut.

Dengan tangan gemetaran, ia perlahan mendekat dan berjongkok untuk mengambilnya.

Surat itu diikat kuat dengan tali, seolah seseorang benar-benar ingin memastikan Caramela membacanya.

"Gue bakal terus ngawasin lo, Caramela,"

Apa ini sebuah ancaman lagi?


Ceklek.

Begitu pintu kamarnya terbuka, Caramela refleks meremas surat itu dan menyelipkannya ke dalam laci meja belajarnya sebelum Elvio sempat melihatnya.

"Om Elvio..." suara Caramela terdengar bergetar, berusaha bersikap tenang meski jantungnya masih berdegup kencang.

Elvio melangkah masuk dengan ekspresi serius. Matanya langsung tertuju pada jendela yang pecah berantakan, lalu ke batu besar yang tergeletak di lantai. Rahangnya mengeras.

"Kenapa bisa begini?" tanyanya tegas, suaranya terdengar penuh kewaspadaan.

Caramela menelan ludah, mencoba mencari jawaban yang tidak mencurigakan. "Aku juga gak tau Om... Tiba-tiba ada yang ngelempar batu ke jendela kamarku."

Elvio berjalan ke jendela dan mengintip keluar, matanya meneliti halaman rumah yang sepi. Tidak ada siapa pun.

"Siapa pun yang ngelakuin itu, mereka pasti ngincer kamu." Elvio berbalik menatap Caramela, ekspresi protektifnya semakin jelas. "Mulai sekarang, Om gak bakal biarin kamu sendirian."

Caramela hanya mengangguk pelan, berpura-pura tenang meskipun pikirannya kacau. Ia harus merahasiakan surat itu.

Elvio menatap Caramela serius, nada suaranya penuh ketegasan. "Untuk sementara waktu, kamu tidur di kamar tamu lantai satu dulu sampe Om tau siapa pelakunya,"

"Tapi- "

"Gak ada tapi-tapi Caramela,"

"Oke Om,"

Lalu Caramela segera pergi ke kamar tamu seperti yang diperintahkan Elvio.

Kamar tamu ini lebih kecil dari kamarnya, tapi setidaknya ia aman.

Di luar kamar, samar-samar Caramela mendengar suara Elvio. Ia seperti sedang menelepon seseorang, suaranya rendah dan tegas.

"Saya gak peduli gimana caranya, cari pelakunya sampe dapet,"

Caramela menelan ludah. Ia tidak tahu siapa yang sedang Elvio telepon, tapi jelas Elvio berusaha mencari pelaku insiden tadi.

Tangannya tanpa sadar meremas pinggiran ranjang kasur dengan kuat.

Ketakutan semakin menghimpitnya. Bukan hanya karena ancaman dari luar, tetapi juga rahasia yang ia simpan.

Tanpa sadar, Caramela menggigit bibir bawahnya. Terlalu keras. Sampai rasa perih menjalar seiring dengan tetesan darah yang mulai mengalir. Ia tersentak dan cepat menyentuh bibirnya - ada darah di ujung jarinya.

Caramela menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Bukan hanya tentang pelemparan batu tadi.

Bukan hanya tentang seseorang yang sedang mengincarnya.

Tapi juga tentang rahasianya - tentang kehamilannya yang ia sembunyikan.

•••
don't forget to vote n comment ‼️

Caramela (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang