Cerita hanyalah karangan Penulis. Saya berusaha memberikan karya-karya yang baik.
🍭Story tentang couple Satzu, Mitzu, Jitzu atau salah satunya.
🍭Atau mungkin hanya sekedar POV saja.
Mentari senja menyisakan semburat jingga pucat di balik jendela rumah sakit yang dingin. Tzuyu, Dokter muda yang menangani Mina sekaligus kekasihnya masuk ke ruangan. Hujan rintik-rintik membasahi kaca, menciptakan alunan melodi sendu yang mengiringi kesunyian ruang itu.
Bau desinfektan yang tajam bercampur dengan aroma bunga anggrek putih yang Tzuyu bawa, menciptakan kontras yang menyayat hati. Mina, dengan wajah pucat dan mata yang sayu, terbaring lemah di ranjangnya. Selang infus terpasang di tangannya yang kurus, menjadi pengingat nyata akan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Tzuyu, dengan ekspresi wajah yang menggambarkan kelelahan dan keprihatinan yang mendalam, mendekat. Langkah kakinya pelan, seakan takut membangunkan Mina dari mimpi buruknya. Ia meletakkan bunga itu di nakas, aroma harumnya seakan tak mampu mengusir aroma medis yang menusuk hidung. Tangan Tzuyu yang besar dan hangat meraih tangan Mina yang dingin, sentuhannya lembut, penuh kasih sayang yang mencoba meredakan rasa sakit yang tak terlihat.
Mina: (Senyumnya tipis, hampir tak terlihat, namun memancarkan kepasrahan yang menyedihkan) Selamat Natal, Honay. Terima kasih untuk bunganya. Wanginya... menenangkan.
Keheningan menyelimuti ruangan, hanya suara hujan dan isak tangis yang tertahan dari Mina yang memecah kesunyian. Tzuyu merasakan getaran lemah di tangan Mina, seakan merasakan denyut nadi kehidupan yang semakin melemah. Ia duduk di samping ranjang Mina. Ia menggenggam tangan Mina yang dingin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanyanya lembut.
"Sama seperti biasanya. Sakit, tapi aku baik-baik saja" jawab Mina dengan mencoba untuk tersenyum.
"Jangan berbohong Mina-ya, aku tahu kau sedang kesakitan" ucap Tzuyu menahan tangisnya.
"Aku hanya tidak ingin kau khawatir" lirih Mina.
"Aku khawatir, Sayang. Aku sangat khawatir" ujar Tzuyu menangis dan mencium tangan Mina.
Mereka terdiam sejenak, hanya suara hujan dan tangisan lirih Tzuyu yang terdengar. Mina menatap Tzuyu dengan tatapan penuh cinta.
"Aku bersyukur telah bertemu denganmu, Tzu" kata Mina.
"Aku juga, Mina. Hal terindah yang pernah aku lakukan adalah bertemu denganmu" jelas Tzuyu.
. . *******
Hari-hari berlalu seperti pasir yang jatuh di antara jari-jari. Keadaan Mina semakin memburuk, wajahnya semakin pucat, napasnya semakin sesak. Namun, di tengah penderitaan itu, cinta mereka bersemi semakin erat. Tawa dan air mata bercampur menjadi satu, menciptakan ikatan yang tak terpisahkan. Mina, diantara rasa sakit yang menyiksa, menemukan kedamaian dalam kehadiran Tzuyu. Bukan perawatan medis yang Tzuyu berikan, tetapi juga perhatian kecil yang membuat Mina merasa dicintai dan dihargai.
Suatu malam, di bawah cahaya lampu redup, Mina meminta Tzuyu untuk membacakan puisi kesukaannya. Suaranya lemah, namun matanya berbinar, memancarkan cahaya cinta yang tak pernah padam. Tzuyu membacakan puisi itu dengan suara bergetar, suaranya bercampur dengan isak tangis yang tertahan. Setiap kata yang diucapkannya, seakan menjadi pengingat akan waktu yang semakin menipis. Ruangan itu dipenuhi dengan emosi yang begitu kuat, cinta, kesedihan, dan kepasrahan. Mina memejamkan mata, merasakan kedamaian di tengah badai emosi yang menerjang. Ia menikmati suara Tzuyu yang menenangkan.
Beberapa saat kemudian Mina terlelap tidur, namun saat ia bangun ia melihat Tzuyu masih setia menemaninya. Air mata mengalir di pipinya. Bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan karena telah menemukan cinta sejati. Ia tahu begitu tulusnya Tzuyu mencintainya.
"Tadi aku bermimpi kita menikah di Pantai, dengan pasir putih dan ombak yang tenang" Mina menceritakan mimpinya. Tzuyu tersenyum.
"Kita akan menikah, Mina. Di Pantai, atau dimana pun kau mau. Janjiku padamu"
"Aku ingin... menanam pohon di halaman rumah kita. Pohon Sakura" ujar Mina penuh semangat meski ia terlihat lelah.
"Iya, kita akan menanamnya bersama, dan kita akan menua bersama" ujar Tzuyu penuh harap.
Beberapa saat kemudian mereka terdiam sejenak, hanya suara detak jantung mereka yang terdengar di ruangan sunyi. Cinta mereka, meski dibayangi kematian, semakin kuat dan abadi.
"Semua akan baik-baik saja, Sayang" ucap Tzuyu lalu mencium kening Mina.
. . ********
Malam Natal tiba kembali, tapi kali ini terasa berbeda. Udara dipenuhi dengan keheningan yang mencekam. Mina terbaring kaku di ranjangnya, napasnya tersengal-sengal. Tzuyu duduk di sampingnya, tangannya menggenggam tangan Mina yang semakin dingin. Cahaya lilin Natal yang berkedip-kedip di sudut ruangan, hanya mampu menerangi sebagian kecil dari kesedihan yang menyelimuti mereka. Wajah Mina pucat seperti kain kafan, mata sayunya menatap Tzuyu dengan tatapan penuh cinta dan perpisahan.
Mina: (Suaranya nyaris tak terdengar, hanya berupa bisikan) Tzuyu...
Tzuyu: (Menggenggam tangan Mina erat-erat) Aku mencintaimu. Lebih dari kata-kata yang mampu kuungkapkan.
Mina: (Senyum tipis kembali muncul, kali ini lebih menyayat hati daripada sebelumnya) Aku juga mencintaimu, Tzuyu. Lebih dari apa pun di dunia ini.
Air mata Mina mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Tzuyu menghapusnya dengan lembut, jari-jarinya terasa dingin dan basah.
"Janji padaku, Tzuyu... Jangan melupakan aku" pinta Mina.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Mina. Sampai kapan pun.
Mina memejamkan matanya. Tangannya terlepas dari genggaman Tzuyu. Tzuyu memanggil nama Mina, suaranya penuh keputusasaan, namun hanya disambut oleh keheningan yang memilukan. Mina telah meninggal dunia. Tzuyu memeluk tubuh Mina yang dingin, air mata membasahi wajahnya. Natal kali ini adalah Natal yang paling menyedihkan dalam hidupnya.
"Tuhan, mengapa kau ambil yang paling berharga di hidupku?"
. .
*******
Tzuyu berdiri di depan makam Mina, angin dingin menerpa wajahnya. Ia meletakkan bunga anggrek putih yang telah layu di atas makam itu, sebagai persembahan terakhir untuk cinta yang telah sirna. Hujan kembali turun, mencuci kesedihannya yang tak terkira.
"Merry Christmas, Sayang"
Kalimat itu terucap lirih, menghilang ditelan angin dan hujan.
__________________________________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.