12

588 56 9
                                    

Rune menghela nafas lega.

Pekerjaannya sudah hampir selesai. Dia sekarang bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang.

"Syukurlah Rune, kafe sudah mulai sepi setelah ramai satu hari penuh."

Hegi, patner Rune bekerja, mengusap dahinya yang sedikit berpeluh. Dia sedikit lelah, melayani banyak sekali orang hari ini.

"Bagaimana dengan kembar? Apakah kamu ingin menjemputnya?"

"Tidak, aku sudah menitipkannya kepada Alvin."

Hegi mengangkat sebelah alisnya. "Alvin?"

"Ini tetanggaku, dia seorang mahasiswa."

"Dia alpha?"

Rune menatap Hegi yang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Ada apa? Tatapanmu sangat mencurigakan!"

Hegi mendengus kecil. "Astaga Rune, bagaimana tatapan ini sangat mencurigakan? Jelas-jelas ini adalah tatapan penuh dukungan untukmu."

Rune mengerut jijik. "Dukungan untuk apa? Aku tidak memerlukannya," ujarnya tak acuh.

"Oh ayolah."

Hegi merangkul bahu Rune dengan tiba-tiba. "Menurutmu bagaimana dengan alpha itu? Apakah dia tampan?"

Rune mengangkat alisnya. "Yah, lumayan," jawabnya.

"Apakah kamu tidak tertarik kepadanya?"

"Untuk apa?"

Hegi melepas rangkulannya dari Rune dan beralih meninju bahu omega itu.

"Cih, kenapa masih bertanya? Sudah  jelas itu karena kamu adalah seorang janda."

Ekspresi Rune hancur berkeping-keping. Dia tampak sensitif dengan kata-kata 'janda' yang keluar dari mulut sialan Hegi.

"Apa hubungannya ini dengan janda?" tanya Rune dengan nada geram.

Hegi tersenyum lebar dan mulai menjelaskan sesuatu dengan nada bangga. "Dengar, sebagai sesama omega aku tahu apa yang dibutuhkan."

Hegi berdehem pelan, menaik turunkan alisnya dengan genit. "Sudah menjadi rahasia umum kalau kebutuhan pokok omega adalah servis yang bagus dari alpha."

Hegi tertawa renyah sebentar kemudian kembali melanjutkan. "Aku pikir untukmu yang sudah lama menjanda, kamu pasti merindukan sentuhan-sentuhan alpha, benar 'kan?"

Rune berdecih. "Berhenti bicara tentang hal-hal cabul! Aku tidak segatal itu untuk menjadi rindu sentuhan alpha. Lagipula Alvin masihlah seorang pelajar, aku pasti gila jika menyukai seseorang yang lebih muda dariku."

Hegi segera cemberut. Dia hendak mengatakan sesuatu lagi sebelum seseorang teman kerja mereka yang lain tiba-tiba memanggil dari ambang pintu ruang istirahat.

"Seseorang bantu aku melayani pelanggan yang baru datang, dia ada di meja no 09, cepatlah aku sedang memiliki urusan dengan toilet sekarang!" orang itu berlari kencang, menembus pintu toilet dengan gerakan kilat seraya memegangi perutnya.

Rune bangkit berdiri. "Biar aku yang melakukannya," katanya lalu meninggalkan Hegi yang termenung diam.

Rune keluar dari ruang istirahat. Dia meraih buku menu dan berjalan dengan ringan menuju meja no 09.

"Permisi tuan tuan, saya datang untuk menanyakan pesanan."

Rune menundukkan wajahnya, dia bersiap dan mencoba fokus untuk menulis setiap pesanan yang akan terlontar. Dia tidak menyangka bahwa pelanggan ini malah memanggil namanya dan membuatnya tertegun sejenak.

(Hiatus) [ABO] Happy Family! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang