bab 23

16 9 0
                                    

Selamat membaca.


"Yaudah endak apa apa. Lain kali jangan di ulangin lagi." Ujar mas Bentala dengan lembut.

"Iya. Sekali lagi Ren minta maaf." Setelah mengucap kan perminta maafan aku pun pergi dari kamar mas Bentala.

.

Disini lah aku memandangi keindahan kota solo di sore hari lewat jendela ku. Banyak burung burung bertebangan di angkasa. Dulu waktu masih sd di dekat rumahku ada bangunan megah yang diberi nama oleh masyarakat sekitar adalah 'omah lowo' kalau di bahasa indonesia yang artinya rumah kelelawar.

Dulu nya rumah itu milik orang kaya yang tinggal di solo. Yang dihuni oleh sepasang suami istri kaya raya. Hingga pada saat suami istri itu meninggal dunia dan tak ada yang menempati rumah itu hingga terbekalai tak ter-urus. Dan di jadikan sebagai rumah para kelewar. Pada saat sore hari menjelang maghrib lebih tepat nya. Para kelelawar itu keluar dari rumah itu membentuk kelompok yang tak terhitung jumlah nya.

Pada saat adzan maghrib berkumandang. Kelelawar itu seperti membentuk barisan untuk menjelajahi semesta. Ketika sore hari pasti aku bisa melihat fenomena itu. Namun sekarang tempat menjadi tempat penginapan dan kelelawar tadi telah hilang. Kalau boleh jujur aku ingin melihat kelelawar yang berbaris menjelajahi semesta. Tapi aku juga senang ada nya tempat penginapan itu karena 'omah lowo' tadi jadi terurus dan indah.

Aku masih termenung membayangkan masa kecil ku yang amat bahagia. Dimana kita belum mengerti apa itu masalah. Yang kerjaannya hanya makan, tidur, main, dan sekolah. Aku merindukan masa kecil yang berlarian karena dikejar ibu sebab aku tak mau mandi. Masa kecil yang tak pernah terlupakan.

Saat aku mendengar adzan maghrib berkumandang aku menutup jendela. Karena aku masih teringat mitos yang hantu akan masuk kedalam rumah saat maghrib.

Saat ingin duduk di meja belajarku pintu terbuka munculah pelita dengan senyuman hingga menunjukan giginya.

"Ada apa?." Tanya ku.

"Kak Ren sibuk?."

"Enggak. Kenapa?."

"Mau endak tak ajak ke mini market depan?."

"Kenapa endak nyuruh mas aja."

"Mas endak mau."

"Yaudah ayok." Pelita pun menggandeng tangan ku menuntun keluar kamar.

"Naik sepeda aja ya." Pelita hanya mengangguk setuju.

Jalan jalan sudah gelap. Lampu lampu jalan bersinar terang. Jalan jalan kota solo ramai akan pengendara. Aku mengayuh sepeda dengan lunglai, pelita yang dibelakang ku hanya duduk sambil berpegang pada baju ku.

"Emang nya kamu mau beli apa?."

"Beli es krim sama jajan." Ucap nya semangat.

"Pantes mas ga mau kamu aja makan eskrim terus sampe gigi mu ompong tuh." Pelita hanya meringis memperlihatkan gigi ompong nya yang baru di cabut kemaren.


Jangan lupa vote dan komen.

Koreksi jika ada yang salah.

Terimakasihh banyak.

Cerita nya makin hari makin ga jelas.

Sorry aku lagi kangen zein yang asli.

Belenggu Kasih Dikota BengawanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang