UPDATE UPDATE BEPP!!
YUHUUU!
Gimana update kemaren? Sakit banget kan bacanya??? Aku tambahin lagi nih hari ini, tapi tenang, selain sedih sedihan, di akhir juga ada momen revealing yang bisa bikin kalian seneng, duhhh, gimana ya???
Arman bakalan meninggal gak yaa?
Ah kita lihat nanti aja deh ya bepp, sekarang sih intinya selamat membaca aja, jangan lupa di vote dan komen bepp, biar aku makin semangat nulisnya.
See you di hari Rabu, alias di tahun baru uhuyyy.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
CHAPTER 54
THIRD POV
Abas menyetir dengan keadaan diri yang panik, sebenarnya, ketika ia melihat anak laki-lakinya itu babak belur hatinya sudah sangat marah, namun sebagai pria yang bijak, ia tidak mau jika dirinya harus kalah oleh emosi sepihak, maka dari itu, ia meminta penjelasan dari orang yang bersama dengan Arman tadi, apa yang Abas dengar bukanlah seperti yang ia bayangkan, ia membayangkan Arman menabrak orang dan kabur sehingga warga terpaksa harus mengejar dan menyiksanya, atau, dia menabrak kendaraan orang yang bersama dengan Arman tadi, tapi ternyata bukan, apa yang dia dengar justru jauh dari apa yang di ekspektasikanya, bahkan Abas sempat membantah, menolak mengakui bahwa Arman mampu menghamili orang lain, Arman memang pemuda yang sedang dalam masanya untuk bermain main dengan wanita, tapi Abas yakin, Arman cukup pintar untuk membatasi dirinya sendiri, makanya tadi Abas sempat tidak percaya dengan apa yang orang-orang itu katakan.
Tapi kemudian, wanita yang bersama mereka, mendekat ke arahnya, menunjukan foto-foto Arman yang sedang tertidur bersama dengan wanita itu, wanita yang tidak berbusana dalam foto itu, amarahnya mendidih, ia bingung, ia kecewa, kecewa karena kepercayaan yang diberikannya kepada Arman harus dibuang secara sia-sia begitu saja, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Abas, ia sudah tidak tahu harus berkata apa, tamparan keras ia berikan pada Arman, tamparan itu begitu keras, bahkan sampai Abas sendiri kaget, karena seumur hidupnya, ia tidak pernah menampar semua anaknya, mendisiplinkan anaknya pun hanya dengan ucapan verbal saja, dan mereka bisa patuh, Abas tidak menyangka, ia harus menggunakan tangannya untuk menampar Arman pada hari ini.
Begitu keras tamparan tangan Abas, sampai-sampai kepala Arman yang menunduk langsung menoleh dengan cepat dan keras, lebih kaget lagi ketika bagian samping kening Arman beradu dengan tembok keras disampingnya, saat itu juga perasaan Abas berubah, ia melihat pemuda yang terduduk lemas itu sebagai anak kecil lagi, anak kecil yang setiap hari menunggunya dengan wajah ceria ketika Abas pulang dari kantor, anak kecil yang selalu merajuk ketika ia tidak dibelikan bola sebagai hadiah ulang tahunya, Abas menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu selalu mengusap dengan lembut dan penuh kasih sayang Arman, malam ini untuk pertama kalinya, memberikan luka di tubuh Arman, cipratan darah menempel pada tembok, kening Arman sobek sedikit akibat benturannya dengan tembok.
Nafsu amarah Abas semakin memuncak ketika ia mendengar olokan yang terus di lontarkan oleh pria di depannya, apalagi ketika ia mendengar ocehan tentang bagaimana orang seperti dirinya dan anaknya yang bodoh dan tidak berfikir, setan seperti menguasai dirinya dengan cepat, Abas melompat ke arah pria itu, melancarkan tinjuan demi tinjuan pada wajahnya, kedua temannya memukuli Abas, tapi dirinya seperti mati rasa, tak pernah ia hiraukan mereka, fokusnya hanya pada satu pria di bawahnya, wanita yang mengaku hamil itu berusaha memisahkan Abas, namun ia tidak mampu, tubuhnya terdorong, kembali mencoba hingga pria yang ia siksa itu mendorong adiknya dengan begitu keras, membuatnya jatuh dan tersungkur ke belakang.
Sebuah teriakan terdengar dari Arah belakang, suara Adil, memanggil namanya, meneriakkan nama Arman, sontak Abas kembali teringat dengan Arman yang tadi ia tampar, perasaannya tidak enak, mata Abas melotot kaget ketika melihat Arman tersungkur di lantai, wajah anaknya bak bersandar pada ubin lantai yang dingin, Adil terlihat mengangkat tubuh Arman, menyimpan kepalanya di pangkuan.
Abas berdiri dari tubuh pria itu, dengan cepat menghampiri Arman, memangku tubuh anaknya, telinganya berdengung kencang, semua suara di sekitar Abas seperti teredam di telinganya, hanya suara hembusan angin menyeruak suaranya, ia menatap wajah Arman, anaknya yang terkulai lemah, tubuh yang dulu ia pangku setiap malam karena Arman selalu menunggunya pulang lembur hingga larut, kali ini, meski penuh dengan luka dan darah kering, ia masih tetap dapat melihat garis wajah Arman yang mirip dengannya, hidung Arman yang tinggi dan kecil, sama sepertinya, walau kini hidung Arman terlihat bengkok, bibir tipis Arman yang sama dengan bibir Abas, tipis dan merah, walau kini bibir Arman mulai berubah warna menjadi ungu gelap dan tidak segar.
Jantung Abas berdegup kencang, merasakan tubuh Arman yang perlahan mulai dingin, ia mulai merasakan takut, ketakutan yang besar, menyesal, penyesalan, mengapa dia menampar anaknya, mengapa ia menampar Arman, bodoh, Abas membuka pintu mobil, mendudukkan Arman disana, Adil dengan cepat ikut masuk kedalam, ia dengan cepat melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah, menekan pedal gas dengan penuh, berharap ia tepat waktu hingga sampai ke rumah sakit.
Dengan panik Abas berusaha fokus menatap ke arah depan, telinganya mendengar suara Adil yang terus memanggil nama Arman sambil menepuk pipi pemuda itu.
“Om!!! Cepetan Om!!!.” Abas hanya mengangguk menanggapi perintah Adil, tangannya bergetar sambil memegang kendali stir.
UHUKKKKK!!!!!
Abas merasa seluruh bebannya terangkat ketika ia mendengar Arman batuk, melihat dari kaca kecil, terlihat Arman batuk, memuntahkan darah kental, hidung Arman mimisan.
“Dil! Tidurin miring Dil!.” Titahnya, Adil menidurkan Arman dengan posisi menyamping, Arman kembali muntah darah, tapi kali ini tidak di sertai batuk, yang artinya tadi Arman tersedak oleh darahnya sendiri.
Badan Arman tiba-tiba mengejang, kaku.
“OM!!!!!.” Panggil Adil, Abas sadar bahwa Arman mengalami kejang.
“Tenang Dil, kamu coba lihat mulut Arman, dia gigit bibir atau lidahnya gak?.” Adil bergerak, melihat ke arah mulut Arman yang berdarah, tidak, Arman tidak sedang mencelakai dirinya sendiri.
“Nggak Om.”
“Tenang Dil, diemin aja, Arman udah di posisi nyamping kan? Nanti kamu hitung berapa kali dia kejang.” Titah Abas, padahal rumah sakit tidak begitu jauh dari rumah, mengapa perjalanan ini terasa begitu jauh, Abas bahkan mengumpat kasar ketika hanya tinggal beberapa meter saja untuk sampai di rumah sakit, ia malah terjebak lampu merah, tanpa perduli, ia langsung menatap gas, menerobos lampu merah yang tidak terlalu padat, klakson dari mobil lain berbunyi, tapi ia tidak perduli, ia terus melaju hingga sampai di rumah sakit, tidak sempat parkir, ia berhenti tepat di depan pintu UGD.
Adil masih terus mengusap tubuh Arman, sedangkan Abas memanggil para petugas medis yang kemudian dengan cepat membawa tandu beroda, mereka menyuruh Adil keluar dari mobil, melihat Arman yang di pangku oleh petugas medis, seketika Adil meneteskan air mata, Arman tidak lagi berteriak kesakitan, tapi terlihat dari reaksi tubuhnya ketika petugas medis mengangkat tubuhnya, Arman mengejang kencang dan mengepalkan tangannya, tidak mampu lagi untuk sekedar berteriak kesakitan.
Layaknya cerita dalam sinetron drama, Adil dan Abas berjalan bersama sambil ikut mendorong tandu medis bersama para petugas medis, mata Arman terpejam, dalam cahaya lorong rumah sakit yang terang, Abas bisa melihat wajah Arman dengan jelas, pelipisnya robek dan terus mengalirkan darah segar, Abas memejamkan matanya ketika ia melihat kondisi tubuh Arman, goresan lecet yang begitu parah dari betis hingga ke paha, celana Jersey pendeknya yang robek, telapak tangan hingga ke bagian tangan atasnya juga sama, goresan dalam dari aspal yang keras, pergelangan kaki atau ankle Arman yang bengkak berwarna ungu kemerahan, Abas membayangkan pria pria tadi memaksa Arman untuk berjalan dengan kakinya yang terluka, mata Abas berair, tidak sanggup.
Mata Adil melihat ada memar yang telrihat di perut Arman, Jersey futsal Arman sedikit terangkat, penasaran, Adil menaikan Jersey itu sedikit lebih ke atas, Adil menahan nafas, apa yang mereka lakukan kepada Arman? Di perutnya ada memar yang memanjang hingga ke arah dada, berwarna merah gelap yang besar, pantas saja Arman sampai muntah darah tadi.
Mata Arman terbuka, melihat ke arah sekitarnya, pandanganya buram, cahaya lampu lorong yang bergerak, ah bukan, dirinya sendiri yang bergerak, ia mendengar sebuah isakan pilu, menggerakkan kepala ke arah samping, bahkan dalam keadaan mata yang buram, Arman masih mengenali pria itu, Adil, ia tidak suka melihat Adil menangis, seketika bayangan dari awal mereka bertemu berputar di kepala Arman, bagaimana polosnya Adil, bagaimana jahatnya dirinya dulu pada pria malang itu, bagaimana hubungannya dengan Adil berjalan hingga ia bisa jatuh begitu dalam kepada Adil, bahkan hingga hari ini.
Air mata Arman menetes, melewati darah darah kering dan luka di wajahnya, meski sulit, ia tersenyum lemah, merasakan tangannya di genggam oleh Adil, dengan lemah, ia berusaha untuk mengusap tangan hangat itu.
Kali ini mata Arman melihat ke arah Abas, Ayahnya, pria tegas yang selalu menjadi kebanggaannya, mata Ayahnya merah, mengapa? Ingin ia memeluk sang Ayah, menenangkannya, meminta maaf kepadanya atas kebodohan yang dia lakukan, meminta maaf atas kekecewaan yang begitu besar yang ia berikan kepada Ayahnya, pelan terasa, usapan tangan Ayahnya menyapu kening Arman, Arman merasa tenang, meski dengan tubuh yang terus berdenyut nyeri, matanya terasa begitu berat, setiap tarikan nafas yang ia ambil terasa begitu menyakitkan, tapi entah mengapa hatinya merasa aman dan nyaman, ia lelah, sudah sejak tadi ia berusaha agar terus berjaga dan tidak kehilangan kesadaran, tapi kali ini ia benar-benar lelah, ia tidak sanggup lagi, kemana bundanya? Ia memerlukan pelukan hangat bundanya, ia kedinginan, kemana Kak Mira? Ia benar benar butuh semangatnya kali ini, Bunda, maafkan anakmu ini, batin Arman, matanya semakin memberat, hingga kemudian menutup, gelap.
Adil merasakan tangan Arman mengusap lembut tangannya, ia memandangi wajah Arman, matanya terbuka, menatap Adil kemudian tersenyum tipis, panik Adil ketika ia sadar, mata Arman perlahan menutup, usapan tangan Arman berhenti, Adil baru sadar, di belakang kepala Arman, ada darah yang menggenang, kental dan pekat, semakin panik Adil karenanya, petugas medis menyuruh Adil untuk berhenti dan tidak ikut masuk kedalam ruangan emergency, begitu juga dengan Abas, mereka berhenti, pasrah, berdiri didepan pintu yang tertutup, berpisah dengan Arman.
Isakan Adil semakin keras terdengar, ia terduduk dan menangis, menutup wajahnya, meski pelan, tapi Abas juga sama kacaunya dengan Adil, matanya basah dan merah, ia mengajak Adil berdiri dan duduk di kursi tunggu.
Abas membiarkan Adil menangis agar Adil merasa tenang, ia kemudian memanggil istrinya, memberitahukan tentang kondisi Arman.
Beberapa saat kemudian Anisa datang, wajahnya terlihat marah dan khawatir, ia berjalan cepat ke arah Abas, kemudian memeluk suaminya itu erat sekali, erat dan lama, pelukannya terlepas saat ia mendengar isak tangis Adil, Anisa mendekat ke arah Adil, memeluk Adil erat sambil terus mengusap punggung Adil, menyuruhnya untuk tenang.
“Gimana?.” Tanya Anisa kepada Abas.
“Masih di dalem, belum ada kabar apa-apa.” Jawab Abas, ia mendudukkan dirinya di kursi samping Adil.
“Kalo sampe Arman kenapa-napa, atau lebih parah kalo kita sampai kehi-.”
“Bund!.” Potong Abas, ia tidak mau mendengar Anisa mengucapkan kata itu, trauma kembali menghantui Abas, setelah beberapa tahun silam ia mengalami hal serupa seperti ini, dulu ia membawa anak bungsunya, adik dari Arman ke rumah sakit seperti ini, tapi dengan penyebab yang berbeda.
“Jangan Bun, ayah gak mau denger.”
“Mereka harus dapet balasan yang setimpal Yah! Mereka gak boleh di biarin berkeliaran bebas, bunda nggak ikhlas, apalagi perempuan tadi, demi Tuhan nggak ikhlas!.” Suara Anisa pecah, setelah dari tadi ia bersikap tangguh dan menenangkan Abas juga Adil, tapi tetap saja, Ibu mana yang bisa kuat melihat anaknya terluka seperti ini?
“Ayah juga Bund, tapi ayah minta, saat ini kita fokus dulu ke Arman ya, perempuan?.”
“Iya, perempuan yang ngaku-ngaku hamil anaknya Arman.” Wajah Abas terlihat kaget, ia belum berkata apapun pada istrinya, darimana dia tahu?
“B-bunda tahu?.” Anisa mengangguk, Adil mendadak menghentikan tangisnya, memandang kaget ke arah Anisa.
“Bunda tadi pulang dulu ke rumah Yah, bunda kaget, kenapa ada orang gak dikenal di depan rumah, makin kaget waktu ngeliat ada perempuan lagi duduk sambil kesakitan megang perut, laki-laki bertiga itu langsung pergi, ninggalin perempuan yang lagi nangis itu sendiri.” Ucap Anisa, Abas dan Adil diam mendengarkan dengan seksama.
“Bunda makin kaget waktu ngeliat celana perempuan itu basah, anyir, bunda sadar itu darah, buru-buru bunda bawa perempuan itu ke sini, di perjalanan dia gak berenti nangis sambil megangin perutnya, ngeracau kesana kemari, bunda kira dia lagi mabok atau halusinasi, tapi dia minta maaf terus terusan, nangisnya makin kenceng waktu Bunda sebut nama Arman di telpon.” Anisa mendudukkan dirinya di samping Abas.
“Dia minta maaf, bunda bingung kenapa dia minta maaf, akhirnya dia ngaku kalo dia ngejebak Arman, sambil kesakitan dia nunjukin foto Arman sama dia yang telanjang dada, sambil nangis dia jelasin kalo foto itu diambil waktu Arman gak sadar karena mabuk Yah, dia juga jujur kalo yang ia kandung itu adalah anak pacarnya sendiri, bukan anaknya Arman.”
Mendengar itu, seketika Adil merasa marah, sangat marah, tangis sedihnya berganti dengan rasa benci yang teramat sangat, jantung Adil berdetak kencang.
Abas menangis tersedu, ia merasa gagal, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, mengapa ia menampar Arman, harusnya ia yakin pada pendiriannya bahwa Arman itu terlalu pintar untuk sekedar menghamili wanita, ia memang yakin Arman bukan anak yang sempurna, atau anak yang baik, tapi ia yakin Arman bukanlah anak yang bodoh, ia tidak akan seteledor itu, sama seperti Adil, rasa sedih di dalam hati Abas berganti menjadi amarah, seketika perkataan istrinya tadi menjadi begitu masuk akal.
“Bunda bener, ayah gak bakalan biarin mereka lepas dari jerat hukum dan pertanggung jawaban, sialan!, belajar dari mana mereka? Dimana hati mereka? Mau ancurin masa depan orang lain, pemuda yang gak ada sangkut pautnya sama sekali sama mereka? Biadab.” Anisa mengangguk setuju, ia memeluk tangan suaminya, tidak ada suara lain lagi terdengar, hanya sunyi lorong rumah sakit.
“Yah!.” Panggil Anisa.
“Hmm?.”
“Bunda jahat gak Yah? Tadi, waktu perempuan itu turun dari mobil Bunda, Bunda langsung tampar dia keras banget.” Ujar Anisa, Abas diam tidak menjawab.
“Tapi habis itu tetep bunda panggilin nurse buat bawa kursi roda kok.” Lanjut Anisa.
“Kayaknya kalo Bunda nyiksa dia dulu juga nggak bakalan di sebut jahat bund.” Jawab Abas, Anisa mengangguk, Abas meminta izin untuk melepaskan pelukan Anisa.
“Mau kemana?.” Tanya Anisa.
“Manggil lawyer.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Arman
RomansaBercerita tentang Adil yang sejak kecil hidup susah setelah ditinggal Ayahnya hingga ia hampir putus sekolah ketika ia SMA, sehingga mau tidak mau ia harus bersedia untuk di urus dan disekolahkan oleh orang tua angkatnya, ia kira hidupnya akan mulai...
