Memori

412 56 19
                                    


Pharita duduk di balik meja kasir toko bunga kecilnya, Blooming Petals. Tangannya sibuk menata kembali daftar pesanan, tapi pikirannya mengembara pada salah satu pelanggan setianya—Ahyeon.

Ahyeon, mahasiswi yang selalu muncul dengan senyuman ramah, hampir setiap hari datang ke tokonya untuk memesan buket bunga. Pharita selalu ingat bagaimana Ahyeon dengan detailnya memilih jenis bunga untuk kekasihnya, Rora.

"Harus ada baby's breath, Kak. Rora suka banget bunga itu," ujar Ahyeon dengan senyum lebar.

Dan Pharita selalu melakukannya dengan sempurna. Tapi sudah hampir satu bulan Ahyeon tidak muncul di tokonya, bahkan tidak ada pesanan pengantaran bunga ke rumah Rora. Pharita mencoba mengabaikan rasa khawatirnya, tetapi setiap hari tanpa kehadiran Ahyeon membuatnya semakin gelisah.

Hari itu hujan. Pharita berdiri di balik jendela toko, memandangi jalanan yang basah. Di tangannya ada buket bunga mawar yang baru selesai dia susun untuk pelanggan lain. Tapi perasaan hampa tetap ada di hatinya.

"Kenapa dia tidak datang lagi," gumamnya dengan gelisah.

"Siapa?" tanya Chiquita, adiknya, yang bekerja paruh waktu di toko itu.

"Ahyeon," jawab Pharita tanpa berpikir panjang.

"Oh, kakak cantik yang sering banget pesan bunga buat pacarnya?" Chiquita terkekeh. "Kak Rita kangen? Emang sih kakak itu sering banget beli bunga. Lumayan juga buat omzet."

Pharita menggeleng, meski tidak bisa menyangkal bahwa toko memang lebih ramai saat Ahyeon sering memesan. Namun, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam. Kehadiran Ahyeon, cara dia berbicara dengan antusias tentang kekasihnya, bahkan cara dia mengucapkan terima kasih, memberikan warna di hari-harinya.

Dan sekarang semuanya terasa sepi.


———


Seminggu kemudian, bel pintu toko berbunyi. Pharita yang sedang sibuk menata stok bunga baru mengangkat kepalanya. Matanya membelalak saat melihat siapa yang masuk.

Ahyeon.

Tapi kali ini, wajahnya tidak secerah biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Ahyeon," sapa Pharita pelan. "Sudah lama nggak ke sini."

Ahyeon tersenyum tipis. "Iya, Kak. Maaf ya, akhir-akhir ini lagi sibuk."

Pharita menutup bukunya dan mendekat. "Kamu baik-baik aja?."

"Baik...," jawab Ahyeon sambil tersenyum. Dia terlihat lebih kurus dan matanya menyiratkan kelelahan.

"Hari ini aku mau pesan satu tangkai mawar putih," lanjut Ahyeon dengan nada pelan.

Permintaan itu membuat Pharita mengerutkan keningnya. Ahyeon biasanya membeli buket bunga penuh warna untuk kekasihnya. Satu tangkai mawar putih? terasa... berbeda.

Meski penasaran, Pharita tidak bertanya. Dia hanya mengangguk dan dengan hati-hati memilih mawar putih yang paling segar di tokonya.

"Oke, tunggu sebentar ya." Pharita memilih mawar putih paling segar di toko, lalu membungkusnya dengan rapi. Saat menyerahkannya, Ahyeon hanya tersenyum kecil.

"Terima kasih, Kak Rita," ucap Ahyeon singkat sebelum pergi meninggalkan toko.

Hampir setiap hari, Ahyeon membeli satu tangkai mawar putih.

Pharita mencoba menahan rasa penasarannya, tapi kegelisahannya semakin besar. Apa yang terjadi dengan Ahyeon? Kenapa sekarang hanya membeli satu tangkai bunga?

OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang