Cerita hanyalah karangan Penulis. Saya berusaha memberikan karya-karya yang baik.
🍭Story tentang couple Satzu, Mitzu, Jitzu atau salah satunya.
🍭Atau mungkin hanya sekedar POV saja.
Mentari pagi menyapa Tzuyu dengan semburat jingga lembut. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi kamarnya, namun pikirannya masih dipenuhi teka-teki. Di atas meja belajarnya, tertumpuk surat-surat cinta anonim, masing-masing ditulis dengan gaya dan bahasa yang berbeda, namun semua ditujukan padanya. Selama berbulan-bulan, surat-surat itu datang silih berganti, membuat hatinya berdebar-debar.
Ia selalu curiga pada dua orang: Sana, sahabatnya yang periang dan selalu menggoda, atau Jihyo, seniornya yang anggun dan misterius. Sana, dengan coretan-coretan hurufnya yang ceria dan penuh emoji, kerap meninggalkan pesan-pesan menggoda yang membuat pipinya memerah. Sementara Jihyo, dengan tulisan tangannya yang rapi dan kata-kata puitis, selalu berhasil menggetarkan hatinya. Ia selalu membayangkan Sana sedang menulis surat-surat itu sambil tertawa geli, atau Jihyo dengan tatapan sendu di balik meja kerjanya.
"Mungkin Sana kali ini," gumamnya, membuka surat terbaru. Tulisan tangannya kali ini lebih rapi dari biasanya, dengan hiasan bunga-bunga kecil yang diukir dengan teliti. "Atau Jihyo? Kata-katanya begitu puitis..."
Ia membaca isi surat itu dengan hati berdebar. Kata-kata manis dan penuh cinta mengalir di setiap baris, mengungkapkan perasaan yang begitu dalam dan tulus. "Saranghae Tzu," tulis pengirim surat itu di bagian akhir. Kalimat sederhana namun begitu bermakna, membuat dadanya bergetar.
Ia mencoba menebak, menganalisis setiap detail, setiap gaya bahasa, setiap hiasan kecil yang menghiasi surat-surat itu. Ia membandingkan dengan gaya tulisan Sana dan Jihyo, namun tetap tak menemukan kesimpulan pasti. Permainan tebak-tebakan ini, meskipun menegangkan, juga membuat hatinya berbunga-bunga.
Suatu hari, ia memutuskan untuk mencari tahu. Ia mengatur pertemuan dengan Sana dan Jihyo secara terpisah, mencoba mengorek informasi dari keduanya. Namun, keduanya sama-sama menyangkal, bahkan mereka tampak sama terkejutnya dengan surat-surat itu. Sana tertawa lepas, mengatakan bahwa ia terlalu sibuk untuk menulis surat cinta, sementara Jihyo hanya tersenyum misterius, mengatakan bahwa ia tak pernah punya waktu untuk hal-hal romantis.
Kekecewaan menyelimuti Tzuyu. Ia merasa seperti sedang bermain dalam sebuah misteri yang tak terpecahkan. Siapa gerangan pengirim surat-surat itu? Apakah ia salah menebak? Apakah ada orang lain yang diam-diam menyimpan rasa padanya?
Lalu, suatu malam, saat ia sedang sendirian di perpustakaan, ia menemukan sebuah buku tua yang terjatuh dari rak. Di dalamnya, terselip sebuah surat. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang sangat familiar, namun berbeda dari surat-surat anonim sebelumnya. Tulisan tangan yang rapi, namun dengan sentuhan yang lebih lembut dan personal. Ia membaca surat itu dengan hati berdebar-debar.
Surat itu bukan berisi pengakuan cinta, melainkan sebuah pengakuan yang lebih dalam, lebih menyentuh. Surat itu mengungkapkan sebuah rahasia yang telah lama terpendam, sebuah rahasia yang menghubungkan dirinya dengan seseorang yang tak pernah ia duga. Pengirim surat itu adalah Mina, teman masa kecilnya yang selama ini ia anggap hanya sebagai seorang teman biasa.
Saat membaca nama Mina di akhir surat, dunia Tzuyu seakan berhenti berputar. Pikirannya melayang, mengingat semua detail kecil yang selama ini ia abaikan. Ia teringat senyum lembut Mina, tatapan matanya yang selalu membuatnya merasa tenang, dan kedekatan mereka yang selama ini ia anggap sebagai persahabatan biasa. Sebuah perasaan hangat, bercampur dengan keterkejutan dan kebingungan, memenuhi dadanya. Ia merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Semua teka-teki akhirnya terpecahkan, namun jawabannya jauh melampaui ekspektasinya. Ia tak pernah membayangkan bahwa Mina, teman masa kecilnya yang pendiam dan selalu mendukungnya, menyimpan perasaan yang begitu dalam untuknya. Sebuah senyum tipis mengembang di bibirnya, diselingi dengan rasa tak percaya dan sedikit rasa malu karena telah salah menebak selama ini. Ia merasa bodoh karena telah terlalu fokus pada Sana dan Jihyo, sementara jawabannya ada di depan matanya selama ini.
Mina mengungkapkan perasaannya yang telah lama terpendam, perasaannya yang begitu dalam dan tulus. Ia menjelaskan mengapa ia mengirim surat-surat anonim itu, mengapa ia memilih untuk tetap anonim. Ia takut ditolak, takut kehilangan persahabatan mereka.
Dengan hati berdebar, ia mencari Mina. Ia ingin mengungkapkan perasaannya, ingin tahu apakah perasaannya sama. Pertemuan mereka dipenuhi ketegangan dan emosi yang campur aduk. Mina, dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan perasaannya dengan jujur dan tulus. Dan Tzuyu? Ia menyadari bahwa ia juga menyimpan perasaan yang sama.
"Saranghae Tzu," kata Mina, suaranya lembut. Kali ini, bukan dari selembar kertas, melainkan dari lubuk hatinya yang terdalam dan secara langsung. Dan kali ini, Tzuyu tahu, itu bukan sebuah teka-teki, melainkan sebuah jawaban yang telah lama ia cari.
"Saranghae Minari" balasnya dengan senyum bahagia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.