Cinta

44 5 0
                                    

Waktu telah berakhir, kesepakatan telah dibuat. Saatnya untuk kembali ke tempatku. Nenek akan pulang ke tempatnya; aku tahu banyak urusan yang harus diselesaikan. Lalu aku, aku akan bersama pelayanku dan Bruno tentunya, menikmati kekayaan yang sekarang aku miliki. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa kosong.

Aku bahagia bersama uang dan kekayaan, tapi untuk apa semua itu jika aku tidak bisa membahagiakan seseorang? Sepanjang perjalanan pulang, rasa sunyi menyelimuti hatiku. Bahkan ketika gerbang kastil milikku – pemberian dari Ayah – mulai tampak di kejauhan, rasa itu tidak juga sirna.

"Nona, mengapa Anda menangis?" Aku tersentak dari lamunanku ketika suara lembut Helena terdengar. Pelayanku yang setia itu memandangku dengan penuh perhatian.

Aku mencoba tersenyum. "Aku bahagia, bisa memiliki semua ini," kataku dengan nada yang kupaksakan.

Namun, Helena menggeleng pelan. "Apakah Anda yakin, Nona? Saya pikir, Anda sedih karena hal lain."

Aku tidak menjawab, hanya menatap lurus ke depan sembari melangkah menuju kastilku. Helena tahu isi hatiku lebih baik daripada aku sendiri. Ada luka yang tidak bisa kuungkapkan, sesuatu yang membuat semua ini terasa hambar. Tidak ada lagi ibu yang menjadi tujuanku berusaha, tidak ada lagi kehangatan yang membuatku merasa hidup.

Ketika kami tiba di kastil, seorang penjaga menghampiri dengan secarik kertas di tangannya. "Nona Lidya, ada surat dari Kerajaan," katanya, menyerahkan surat itu kepadaku.

Aku membuka kertas itu dengan enggan, membaca setiap kata yang tertulis di sana:

"Kau masih seorang Putri Utama. Datanglah ke Istana Rebel. Beberapa raja dari berbagai kerajaan akan datang."

Lalu ada tambahan yang membuatku tertawa, meski entah mengapa terasa pahit:

"Hanya diingat untuk datang sebagai seorang Putri Mahkota, bukan sebagai anak, ya?"

Aku tertawa kecil, lalu berhenti seketika. Aku bahkan lupa mengapa aku tertawa. Aku tidak merasakan apa-apa selain kehampaan. Setelah membersihkan diri, aku berbaring di ranjang, mencoba memejamkan mata. Namun, pikiranku terus dipenuhi bayangan masa lalu.

Dalam mimpi, aku melihatnya.

"Lidya, jangan bersedih ya. Bukankah di sini ada aku?" Wajahnya buram, tapi suaranya terdengar jelas – lembut, penuh janji. Dia mengulurkan tangannya, dan aku, tanpa ragu, memberikan tanganku.

"Aku berjanji akan selalu ada untukmu, dan kau akan jadi ratuku. Aku janji aku akan selalu membuatmu bahagia" katanya. Suaranya menghangatkan hatiku. Aku ingin terus mendengarnya, ingin terus berada di dekatnya.

"Kalau kau sedih, cari aku saja ya, Lidya." Dia memelukku. Pelukannya sangat hangat, begitu nyata. Aku ingin melihat wajahnya lebih jelas, ingin memastikan siapa dia. Ketika aku menatap matanya, aku tahu siapa dia.

"Averio," bisikku.

Aku terbangun dengan napas terengah-engah. Nama itu bergema di kepalaku. Averio. Aku mengenali wajahnya dari mimpi itu. Tapi ini membingungkan. Apakah ini hanya mimpi, ataukah potongan ingatan milik Lydia, kembaranku? Mengapa aku merasa sakit seperti ini? Mengapa rasanya begitu nyata?

Dadaku terasa sesak. Jika ini adalah perasaan cinta yang pernah dirasakan Lydia, maka aku tidak sanggup. "Lidya, berhenti mencintai Averio," bisikku.

 "Aku tak sanggup merasakan ini."

Pagi tiba, dan aku mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Istana Rebel. Sepanjang perjalanan, rasa cemas bercampur dengan kebingungan. Aku tidak tahu apa yang menantiku di sana. Istana Rebel adalah tempat kenangan, tempat aku dan Dalilah pernah menghabiskan banyak waktu bersama Ayah. Namun, sekarang, tempat itu terasa asing.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang