halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!
⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIRhappy reading!
•••Langit sore tampak mendung ketika Caramela sampai di rumah. ia melangkah dengan lesu karena kelelahan setelah hari yang terasa begitu panjang dan penuh tekanan.
Namun, sebelum ia sempat melangkah masuk ke dalam kamar, suara Tuti menghentikannya.
"Non Mel, ada paket punya Non Mel," ujar Tuti sambil menunjuk ke meja di ruang tamu.
Caramela mengernyit. "Paket?" Ia mencoba mengingat-ingat, tapi seingatnya, ia tidak memesan apa-apa.
"Iya, tadi ada tukang paket yang nganter, tapi abis Mbok terima, dia langsung pergi. Gak bilang apa-apa lagi, cuma bilang paket atas nama Caramela Liora," jelas Tuti dengan wajah sedikit heran.
Rasa penasaran membuat Caramela melangkah ke meja, di mana sebuah box berwarna coklat lusuh tergeletak.
Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup berat saat ia angkat. Ada sesuatu yang terasa sangat tidak beres.
Jantung Caramela mulai berdebar lebih cepat. Perlahan, dengan tangan sedikit gemetar, ia merobek selotip yang menutup box itu. Begitu tutupnya terbuka, napasnya tercekat.
Mata Caramela membelalak, tubuhnya menegang. Detik berikutnya, teriakan panjang meluncur dari bibirnya.
"Aaaaaahhh!!!"
Di dalam box itu, terdapat bangkai anak kucing. Tubuhnya penuh luka, dan yang lebih mengerikan, ada banyak paku yang menancap di tubuh mungilnya. Darah kering mengotori bulu-bulu halusnya, menciptakan pemandangan yang begitu mengerikan. Bau anyir langsung menusuk hidung, membuat perut Caramela mual.
Tuti yang baru saja selesai mengangkat jemuran, berlari tergopoh-gopoh ke dalam rumah. "Ada apa, Non Mel!?"
Begitu melihat isi box itu, Tuti menjerit kaget, tangannya langsung menutup mulut. "Ya Allah, Gusti! Astaghfirullah! Ini apa!?"
Caramela terduduk lemas, tubuhnya gemetar hebat. Kepalanya terasa pusing, dadanya sesak. Ini bukan kebetulan. Ini adalah teror.
Siapa yang mengirim ini padanya?
Dan… apa pesan yang ingin disampaikan dengan cara sekejam ini?
Tuti menenangkan diri sebisanya, lalu dengan tangan bergetar, ia segera menutup box itu. "Non Mel, kita lapor polisi aja! Ini udah gak beres!" katanya dengan nada panik.
Caramela menggeleng lemah, masih sulit berpikir jernih. "Tapi... siapa yang ngelakuin ini, Mbok? Aku gak punya musuh," ucapnya pelan, meskipun dalam hati ia tahu itu tidak benar.
Suasana rumah masih tegang, lalu pintu utama terbuka. Elvio masuk dengan wajah lelah, dan kemeja kerjanya tampak kusut.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat ekspresi pucat Caramela dan Tuti yang masih tampak terguncang.
Dahinya berkerut. "Ada apa ini?" tanyanya, berjalan mendekat.
Tuti masih terlihat syok, tangannya saling menggenggam erat. Caramela, yang duduk di sofa dengan tatapan kosong, menoleh ke arah Elvio. Napasnya tersengal seolah baru saja mengalami mimpi buruk.
"Caramela?" Elvio semakin khawatir, kini berdiri tepat di hadapan Caramela. "Apa yang terjadi?"
Caramela menelan ludah, lalu berusaha membuka mulut. Namun, sebelum ia bisa mengeluarkan kata-kata, Tuti sudah lebih dulu menjawab dengan suara bergetar, "Tuan El, barusan... barusan ada paket buat Non Mel,"
Elvio mengerutkan kening. "Paket? Paket apa?"
Caramela akhirnya bisa bersuara, meskipun suaranya terdengar serak. "Paket itu... isinya bangkai anak kucing yang ditusuk paku, Om."
Elvio membeku. Matanya membesar, raut wajahnya berubah drastis dari lelah menjadi penuh amarah. "Apa?!"
Tuti mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Mbok liat sendiri. Tadi Mbok yang terima paketnya. Tukang paketnya langsung pergi, gak bilang apa-apa."
Elvio mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras.
•••
don't forget to vote n comment ‼️

KAMU SEDANG MEMBACA
Caramela (SELESAI)
RandomCaramela Start : 1/1/25 Finish : 18/2/25 ••• Deskripsi : Caramela selalu percaya bahwa hidupnya akan semanis namanya. Namun, dalam satu malam, segalanya hancur. Ia dipaksa menanggung luka yang tak terlihat, meninggalkan bekas yang tak akan pernah h...