0030 - Pertarungan Mei-Mei Melawan Kempetai

13 2 0
                                    

Samurai tajam dan tipis itu masuk persis ke jantungnya. Kempetai itu terbelalak menyeringai. Suara­nya seperti suara kerbau di­sembelih. Mei – mei tak mau tanggung – tanggung. Samurai itu dia torehkan ke ka­nan. Merobek dada Jepang itu selebar satu jengkal. Samurai itu dia cabut cepat, lalu dia tikamkan ke leher!

Demikian cepat peristiwa itu. Demikian lihai gadis ini menjadi pembunuh orang yang dia benci. Kehidupan keras yang dialami selama tahun – tahun yang hitam di Payakumbuh, membuat hatinya tak mudah terguncang melihat kematian. Umurnya masih sangat muda. Belum cukup delapan belas tahun. Tapi lihatlah...

Kempetai yang satu lagi benar – benar tertegun melihat perkelahian itu. Tak pernah dia sangka seorang wanita bisa berbuat begitu. Tapi dia sadar wanita ini berbahaya. Dengan kesadaran demikian, dia menghantamkan pangkal bedilnya ke tengkuk Mei – mei.

Gadis itu merasa angin bersuit di belakangnya. Cepat sekali dia menjatuhkan diri. Kedua tangan­nya bertelekan di tanah. Namun tangan kirinya terasa lumpuh. Kelumpuhan akibat tembakan dan tendangan tadi.

Dengan tangan kanan bertelekan ke tanah dia menghujamkan kakinya ke belakang. Sebuah cuek belakang yang tangguh. Jepang itu kena hantam pa­hanya. Terasa sakit kena hantam tumit gadis itu. Dia tersurut selangkah.

Kempetai ini memutar bedil, mengarahkan moncong bedil itu kedepan siap untuk menembak, namun saat itu pula Mei – mei berputar sangat cepat. Tangan kanannya yang memegang samurai berayun cepat pula. Samurai itu melesat dalam gelap itu. Dan menancap persis di antara kedua mata si Kempetai.

Begitu samurai pendek itu lepas dari ujung – ujung jarinya, Mei – mei berguling lagi di tanah. Bergulingan dengan cepat ke kanan. Baru dua kali dia bergulingan, bedil Jepang itu menyalak. Namun letusannya melantur entah kemana. Kempetai itu sendiri rubuh.

Mei – mei tersandar ke dinding rumah. Nafasnya memburu.

Suasana sepi.

Salak anjing yang biasanya riuh di malam begini, kini pada terdiam mendengar suara dua kali letusan itu. Mereka menyurutkan diri ke dalam semak atau ke bawah rumah. Sebab sudah beberapa kali ini tentara Jepang itu memburu anjing. Memburunya masuk kampung keluar kampung.

Menurut Jepang, anjing itu harus dibunuhi. Soalnya dia memakan makanan yang harusnya jadi makanan manusia. Tambahan lagi, yang paling parah, anjing – anjing itu sedang dijangkiti penyakit rabies.

Penyakit yang biasanya menulari anjing bila penduduk suatu negeri dilanda kekurangan makanan. Masa itu, penduduk mana di Indonesia ini yang tak kekurang­an makanan di bawah pemerintahan Fasisme Jepang?

Manusia dan anjing memang saling berebutan makanan! Suatu tragedi sebenarnya. Tapi begitulah sejarah mencatatnya. Bagi bangsa Indonesia yang mengalami tahun – tahun penderitaan di bawah kuku Jepang itu, akan tetap mengingatnya sampai mati.

Etek Ani dan si Upik yang sejak tadi duduk berpeluk­an dalam ruangan tengah, yaitu sejak Mei – mei diseret masuk bilik oleh si djun–i, kini menanti dengan tegang.

"Unii. Uni... Uni Mei – mei..." Si Upik memanggil di antara tangisnya.

Memanggil uninya yang tak kunjung keluar dan terde­ngar suaranya dari dalam bilik yang tadi dimasuki dua orang Kempetai itu. Tak ada jawaban dari dalam.

"Uni Mei – mei..." Si Upik mulai menangis. Dia berdiri menuju ke pintu bilik.

"Uni ... buka pintu Uni..."

Tak ada jawaban.

Sepi.

Tiba – tiba Etek Ani mendengar suara halus. Dia mengangkat kepala. Suara itu seperti dari luar.

TIKAM SAMURAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang