0034 - Pernikahan yang Tak Terselesaikan

10 2 0
                                    

Hari itu pecah kabar di kota Bukittingi tentang pembantaian tentara Jepang tersebut. Kempetai dan pasukan Jepang memeriksa dan memasuki seluruh hutan bambu di Tarok dan Padanggamuak. Mereka mencari tempat persembunyian Datuk Penghulu dan si Bungsu.

Sampai sore seluruh rimba bambu itu mereka periksa dengan le­bih dari dua ratus tentara. Namun kedua orang yang mereka cari itu tak kelihatan batang hidungnya. Bahkan dekat rumah Datuk Penghulu yang terbakar itu, tak kelihatan ada bekas kuburan.

Syo-i Atto yang pada malamnya memimpin penyergapan dan memperkosa perempuan-perempuan itu menjadi penunjuk jalan. Dari dia komandan Garnizun Jepang di Bukittinggi mendapatkan kabar bahwa setidak-tidaknya ada dua orang yang mati tadi. Yaitu isteri dan anak Datuk Penghulu.

Setelah tak berhasil mencari jejak Datuk Penghulu, kini Kempetai mulai memeriksa seluruh tanah perkuburan kaum di kota itu. Mereka mencari kubur­an yang baru digali. Kalau ada yang baru maka dise­lidiki, kuburan siapa itu. Mereka berharap menemukan kuburan anak dan isteri Datuk Penghulu.

De­ngan menemukan kuburan itu, mereka berharap dapat mencium jejak kedua orang tersebut. Penjagaan dan peme­riksaan di seluruh tempat dalam kota dilakukan dengan ketat dan keras.

Setiap kendaraan, motor, pedati, bendi, gerobak dan tempat-tempat yang mencurigakan di periksa dengan cermat. Tapi kedua orang itu lenyap seperti embun di siang hari.

Tapi kemanakah lenyapnya kedua orang itu? Kemana pula mayat si Upik dan ibunya mereka sembu­nyikan? Ternyata kedua orang itu tak pergi jauh. Mereka bersembunyi di sebuah surau kecil di Kampung Tarok itu juga.

Entah karena apa, surau itu ternyata tak diperhatikan oleh Jepang. Padahal puluhan ten­tara Jepang lalu lalang di depannya. Mungkin karena surau itu letaknya di pinggir jalan. Atau mungkin karena Tuhan memang melindungi mereka, surau itu tak sempat diperiksa.

Di bahagian belakang surau itu ada pekuburan. Terlindung di balik pohon pisang. Subuh tadi kedua mayat anak dan isteri Datuk Penghulu telah mereka kuburkan di belakang surau itu. Mereka dibantu oleh garim di surau tersebut.

Ketika balatentara Jepang memeriksa seluruh isi kota, kedua orang itu naik ke loteng surau itu. Di atas loteng itu pula Mei-mei terbaring. Loteng surau itu cu­kup lebar untuk menampung enam orang dewasa. Jalan naik dan turunnya dari belakang. Yaitu dari arah kuburan.

Di balik tanah perkuburan kecil itu terda­pat hutan bambu. Di hutan bambu itu sejak tadi puluhan tentara Jepang telah mondar-mandir. Kedua mereka mendengarkan pencaharian itu dengan tegang dari atas pagu surau.

Si Bungsu tiba-tiba mendengar suara Mei-mei memanggil. Gadis itu diba­ringkan di atas sehelai tikar dan diselimuti dengan kain panjang. Dia telah diberi obat-obatan yang dibuat oleh si Bungsu.

"Uda..."

"Moy-moy..."

Si Bungsu mendekat dan memegang tangan gadis itu dengan lembut.

"Uda..."

"Ya Moy-moy..."

"Mana Bapak...?"

Si Bungsu menoleh pada Datuk Penghulu, kemudian mengangguk perlahan. Datuk itu mendekati mereka.

"Saya di sini, Nak..."

"Pak, maafkan saya. Saya tidak bisa membantu Ibu dan Upik..."

"Tenanglah nak. Jangan menyesali dirimu. Memang janjian mereka sudah begitu..."

"Tapi... harusnya saya bisa membantu mereka..."

"Jangan dipikirkan juga, Nak..."

Mei-mei menangis.

TIKAM SAMURAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang