Dalam deram guruh dan suitan angin di luar surau, dalam kesepian yang kelam itu, dia merasakan sesuatu yang ganjil. Mereka sebenarnya harus merasa aman dengan guruh dan angin ribut itu.
Apalagi kalau hujan sempat turun. Sebab dengan demikian, Jepang yang mencari mereka tentunya menarik diri ke pos dan mereka dengan aman bisa menguburkan jenazah Mei-mei. Kemudian dengan aman pula bisa melarikan diri dari kepungan tentara Jepang.
Namun tidak demikian halnya dengan si Bungsu. Ada firasat lain yang membuat hatinya tak enak dalam kesunyian di loteng surau kecil itu. Nalurinya yang tajam, yang terbiasa mencium marabahaya, yang telah terlatih ketika hidup lebih dari setahun bersama binatang-binatang buas di belantara Gunung Sago, kali ini mencium bahaya yang tersembunyi.
"Ada apa...?" Datuk Penghulu bertanya melihat perobahan air muka anak muda itu. Si Bungsu tak segera menjawab. Dia masih tetap duduk di dekat mayat Mei-mei. Namun matanya berkilat aneh. Wajahnya jadi tegang.
"Kita terperangkap..." katanya perlahan.
Datuk Penghulu menegakkan kepala.
"Perangkap...?" desisnya sambil coba menangkap suara-suara yang menyelingi suitan angin dan gemuruh guruh di luar surau.
Namun dia tak menangkap suara apa-apa. Tapi dia percaya pada anak muda ini. Dia sudah beberapa kali membuktikan bahwa indera dan naluri anak muda di depannya itu memang amat tajam. Datuk itu segera teringat pada imam yang turun tadi. Apakah Imam itu mengkhianati mereka?
Ternyata Jepang itu memang mengetahui persembunyian mereka dari Imam tersebut. Ketika Datuk Penghulu membawa Imam itu naik sore tadi, seorang penduduk pribumi yang telah lama jadi tukang tunjuk, jadi mata-mata Jepang, melihat mereka. Dia segera saja melaporkannya kepada seorang letnan yang tak jauh dari sana.
Letnan itu lalu menanti di rumah Imam. Begitu imam itu muncul di rumahnya, dia jadi terkejut. Di rumahnya, di ruang depan sudah berkumpul dua anak gadisnya dan isterinya. Mereka dikawal oleh enam orang serdadu Jepang dengan bedil dan bayonet terhunus.
"Nah, kini katakan cepat siapa yang ada di surau itu Pak Imam..." Letnan Jepang itu segera buka suara.
Imam itu jadi pucat. Namun rasa nasionalnya yang tebal menolak untuk membuka rahasia.
"Tak ada siapa-siapa. Di sana hanya seorang perempuan yang akan sembahyang. Tak ada. Boleh lihat ke sana.." Imam itu berkata pasti.
Sebab dia tahu, loteng surau itu dari bawah kelihatannya hanya terbuat dari bambu. Padahal loteng itu berlapis dua. Bahagian atasnya terbuat dari papan. Garim serta penjaga mesjid lainnya tidur di sana. Jalan naik ke atas berada di bahagian belakang, dan tersembunyi dari pandangan orang.
Letnan itu tak mengulangi pertanyaan. Tapi tangannya langsung bekerja. Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Demikian kuatnya tamparan itu, sehingga imam itu terpelanting dan mulutnya berdarah.
Isteri dan anak-anaknya terpekik dan mulai menangis. Imam itu menatap dengan penuh kebencian pada Jepang-Jepang tersebut.
"Jahanam. Kalian takkan selamat di negeri ini...!" katanya.
Letnan itu menggerakkan kaki. Ujung sepatunya yang keras mendarat di dagu Imam tersebut. Kembali Imam ini terpelanting. Kali ini giginya copot beberapa buah. Isterinya memburu dan memeluknya. Ketika anak gadisnya juga mendekat. Letnan itu menyambar tangannya. Gadis itu terpekik dan meronta. Tapi letnan itu merenggut pakaiannya hingga robek.
"Nah, Imam, bicaralah yang sebenarnya. Kalau tidak, anakmu ini akan kubawa ke kamar," ujar letnan itu menyeringai.
Si Imam melompat bangkit ingin menghantam letnan tersebut. Tapi sebuah tendangan dari seorang prajurit membuat dia terjajar.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKAM SAMURAI
ActionTIKAM SAMURAI adalah bagian dari sebuah serial karya Makmur Hendrik, yang menggabungkan seni bela diri silat dengan elemen sejarah. Cerita ini berfokus pada perjalanan seorang pemuda bernama Si Bungsu dari desa Situjuh Ladang Laweh di kaki Gunung Sa...