UPDATE UPDATE!!!
BEPP, PENGUMUMAN YA BEP.
HARI INI ADALAH CHAPTER TERAKHIR ARMAN.
Sorry banget wkwkw, udah waktunya tamat cerita ini, Semua pertanyaan yang belum ke bahas di cerita ini, bakalan di bahas hari Jumat di epilogue, yang masih bingung dengan nasib Sela dan temennya, nanti aku jelasin aja sekalian di epilogue ya bepp, Udah emang waktunya tamat cerita ini haha.
Jangan pada kaget ya Bep kalo rasanya kayak keburu-buru, tapi emang gak kerasa udah hampir 60 chapter aja, udah harus move ke cerita selanjutnya aja nanti.
Anyways, selamat membaca deh, buat yang nanya 3S Arman, Adil Jepri, mohon maaf banget, kayaknya di season 1 ini gak bakalan ada haha, aku kayak gak rela kalo Adil di buat untuk berdua di cerita ini, mungkin nanti di Season selanjutnya, kalo ada hahah.
Jangan lupa di vote dan komen ya Bep.
See you di hari Jumat.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
CHAPTER 58
THIRD POV
Ini minggu terakhir Arman setelah satu bulan berada di rumah sakit, ia sudah bisa bicara dengan lancar kembali, perban masih melilit kepalanya erat, sudah empat kali dilakukan penggantian perban, sepertinya lukanya sudah kering, tapi masih perlu dilakukan perawatan, Arman juga sudah bisa duduk tegap di atas kasur, solid food juga sudah di perbolehkan, meski memang harus makanan yang tidak terlalu keras.
Untuk ankle kakinya, masih di perlukan waktu lebih lama untuk penyembuhannya, dua minggu pertama setelah ia sadar, Arman sempat mengeluh karena ia merasa kecewa atas ketidak berangkatanya ke Italy kemarin, tapi Adil, Jepri, Mira serta orang tuanya selalu menghiburnya, Arman sadar apa yang keluarganya ucapkan itu semata hanya untuk membuatnya tidak patah semangat dan sedih, itu membuatnya melihat apa yang menimpa kepada dirinya dengan perspective yang berbeda, ia yang selalu merasa menyesal, kecewa dan marah pada dirinya sendiri berubah menjadi lebih tenang, menghargai semua pengorbanan keluarganya, menerima apa yang sudah terjadi juga tidak lupa untuk terus berusaha agar bisa bangkit setelahnya.
Dokter juga mengatakan bahwa Arman sudah bisa discharge dan boleh pulang kapan saja, rekam medis Arman saat ini juga sudah di ambil oleh Abas, sebagai acuan untuk perawatan Arman di rumah sakit nanti di kampung halaman.
Nadhifa datang meNgunjungi Arman kemarin, meski sempat bersedih sedih, tapi akhirnya Nadhifa merasa senang karena telah melihat keadaan Arman yang semakin membaik, ia tidak menginap, langsung pulang hari itu juga karena ada urusan keluarga esok hari yang tidak bisa di tinggalkan, mungkin, jika pria lain, mereka akan merasa kecewa karena harus di tinggal sang kekasih di saat sakit seperti Arman, tapi entah kenapa, Arman malah sebaliknya, ia merasa senang Nadhifa pulang hari itu juga, hatinya kebas, tidak merasakan spark yang seperti dahulu ia rasakan ketika pertama kali ia bertemu dengan wanita cantik itu, ia memang merasa senang ketika melihat Nadhifa datang menjenguknya, tapi cukup hanya itu saja, tidak ada perasaan lebih yang ia rasakan, Arman berfikir, apakah dirinya mengalami falling out of love? Ia takut, ia takut jika itu akan menyakiti hati Nadhifa lagi, setelah beberapa kali ia mengecewakannya.
“Mau besok aja?.” Tanya Abas kepada semua orang yang ada di ruangan Arman.
“Boleh tuh Yah, Mira juga cutinya tinggal sisa dua hari, besok pulang, besoknya masih bisa istirahat di rumah dulu.” Jawab Mira.
“Ar! Gimana? Kamu udah beneran sehat?.” Kali ini Arman yang Abas tanya.
“Kalo di tanya sehat sih jawabannya udah pasti enggak ya Yah, kaki Arman masih bengkak gini, tapi cuman itu aja sih, sisanya, Arman udah ngerasa sehat kok.” Jawab Arman, Abas mendengus sambil terkekeh.
“Yaudah deh, deal, kita besok pulang ya, jadi hari ini Ayah langsung urus administrasinya ya, Kak Mira yang urusin booking tiket kita.”
“Gak usah Om, urusan pesawat biar Jepri aja yang urus.” Sanggah Jepri, Abas menatap bingung ke arah Jepri.
“Beneran Jep? Gak ngerepotin tah?.”
“Aman om, gak, nggak ngerepotin kok, kalian tinggal prepare aja, urusan transport, pesawat, biar Jepri yang urus.” Abas mengangguk setuju, ia mengajak Anisa untuk ikut dengannya mengurus administrasi Arman, tidak lama dari itu, ponsel Mira berdering, ia keluar dari ruangan untuk mengambil panggilan tersebut.
“Gak kuat gue, pengen cepet sembuh, pengen ngerokok.” Ujar Arman.
“Gila! Isi kepalanya rokok mulu, jangan dulu ah!.” Adil bergerak ke arah kasur Arman, duduk di kasurnya.
“Ini juga, makanannya kenapa gak di abisin?.” Lanjut Adil, ia mengambil kotak stainless steel di depan Arman, masih ada lauk dan sepotong porsi karbohidrat yang tersisa.
“Kenyang Dil.” Jawab Arman, Jepri mendekat, berdiri di belakang Adil dan memegang bahunya.
“Kalo pengen cepet sembuh ya kudu makan banyak nyet.” Ujar jepri, Arman medelik ke arah Jepri.
“Apaan dah lu? Geli anjing, gue bukan bocah yang perlu dinasihatin kayak gitu apalagi dari lu, gak cocok!.” Ketus Arman, Jepri langsung terbahak, Adil sampai harus menyikut perut Jepri untuk menyuruhnya berhenti.
“Kalian ini, gak dimana mana, kalo ketemu, berantem mulu dah! Pusing Adil, Nih AAAAAA.” Ucap Adil sambil mendekatkan sendok berisi makanan ke arah Arman, mau tidak mau Arman harus menerima suapan dari Adil.
“Najis lu, bukan bocah bukan bocah tapi di suapin aja baru mangap itu mulut.” Arman hendak bicara namun tidak jadi ketika Adil melotot ke arahnya, menyuruhnya untuk makan yang benar. Sampai habis makanan Arman di suapi Adil, Adil menyimpan kotak makan itu di meja, ia berjalan masuk ke dalam toilet, meninggalkan Arman bersama Jepri berdua, Jepri masih sesekali terkekeh melihat Arman, berhenti kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka, sama-sama diam, hanya suara keran air yang Adil nyalakan yang terdengar.
“Jep!.” Panggil Arman, wajahnya serius, tidak ada tatapan marah di matanya.
“Hmm? Kenapa nyet? Mau minum?.”Tanya Jepri, ia bersiap hendak mengambil minum yang ada di meja sebrang tempat ia berdiri, Arman menggelengkan kepalanya.
“Kagak, lu kagak liat ini gelas gue pegang?.” Arman mengangkat gelasnya.
“Terus ngapa? Manggil gue?.” Tanya Jepri, Arman diam selama beberapa saat, ia tersenyum lebar, giginya hingga terlihat, senyumnya lepas dan bebas, Jepri merasa canggung dan aneh melihat itu.
“Lu kenapa anjing?.” Tanya Jepri, Arman menggelengkan kepalanya, menghentikan senyuman lebarnya.
“Thank You Jep.” Ujar Arman singkat, wajahnya kembali serius, benar benar tulus mengucapkan kalimatnya barusan, Jepri merasa kaget, tapi kemudian, sekarang giliran Jepri yang tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali, lalu mengankat jempolnya di depan dada ke arah Arman.
--
“Lewat sini Om!.” Ucap Jepri sambil mengarahkan ke salah satu lobby di bandara, wajah Abas dan yang lainnya bingung, mereka biasanya jika pulang dari singapura tidak pernah melewati lobby khusus ini, di ujung lobby, ada ruang pemeriksaan yang sama seperti di ruangan sebelumnya, hanya saja disini lebih private dan sepi, masih ada petugasnya juga, Abas mengumpulkan passport dan visa mereka, menunjukannya kepada petugas yang berjaga.
Tidak lama dari itu, Jepri di temani petugas bandara, mengajak mereka ke arah luar, Abas mendorong kursi roda yang Arman gunakan, memandang ke arah depan sana, terlihat pesawat yang tidak sebesar pesawat komersil biasanya, terlihat mewah dan futuristik, tapi dengan ukuran yang lebih kecil dari pesawat komersil.
“Private Jet?.” Tanya Abas, Jepri mengangguk.
“Ayah saya yang booking, kalo saya yang langsung booking udah pasti nggak bakalan d approve Om, makannya saya minta Ayah saya kemarin Buat langsung hubungin temennya, buat kepulangan kita.” Jawab Jepri, Abas mengangguk mengulum senyum, ia sadar, keluarga Jepri ternyata bukan keluarga sembarangan, karena memang, proses perizinan penyewaan private Jet itu bukanlah hal yang simple, bahkan cenderung ribet, kecuali memang punya koneksi yang kuat dan tentu saja, uang yang tebal, kemarin ketika Abas menyewa private Jet ia bisa langsung dapat karena memang sedang mengalami emergency dan memang private Jet yang di sewa juga sedang avail, jika tidak begitu, sulit untuk mendapatkan private jet dengan booking yang mendadak.
Dari ujung pintu pesawat yang terbuka, ada segaris besi yang memanjang hingga tangga terakhir di bawah, kursi kecil terpasang di ujungnya, pramugari private jet membantu Arman duduk di kursi kecil itu, sedangkan Jepri, Adil dan yang lainnya naik melewati tangga duluan, menunggu Arman yang diangkat oleh stair lift, kursi rodanya di lipat dan dibawa masuk kedalam pesawat oleh pramugari, Arman di bantu duduk di kursi pesawat, duduk berdua bersama Mira, Adil bersama dengan Jepri, dan Abas dengan Anisa, bersiap untuk take off.
“Jep, billnya nanti kasih ke om ya!.” Titah Abas, Jepri menggelengkan kepalanya.
“Gak usah Om, udah Jepri urus.” Tolak Jepri, ia tidak mau sampai Abas yang harus membayar, Abas pasrah saja, ia tahu, jika ia memaksa Jepri untuk membiarkannya mengganti biaya semua ini, Jepri pasti tidak akan membiarkannya Pesawat mulai melaju dan take off, meninggi dan terbang, perlahan semua yang ada dibawah terlihat semakin mengecil, hening suasana di dalam pesawat, tidak ada yang bercengkrama, mungkin karena sudah lelah juga, mereka bahkan langsung tertidur, kecuali adil dan Jepri.
“Seneng?.” Tanya Jepri, Adil menatapnya dan mengangguk.
“Coba kalo terbangnya ke Eropa ya Jep, duh, gue kok malah ngomong ke mana aja, makasih ya Jep, buat semua ini.”Jepri melihat situasi, ia mencuri satu kecupan pada pipi Adil.
“Sama-sama sayang.” Bisik Jepri.
“Nanti gue ajak lu ke Europe deh, hadiah kelulusan lu.” Lanjut Jepri.
“Beneran?.” Jepri mengangguk.
“Kita ke Jerman dulu tapi, mau ketemu ponakan.” Jawab Jepri, Adil menjabat tangan Jepri.
“Deal!.” Ujarnya sambil tersenyum lebar.
--
Cepat memang, tidak sampai dua jam mereka sudah landing, di sambut oleh mobil besar yang menjemput mereka di luar bandara, melaju langsung menuju rumah Abas.
Cuaca mendung sendu, tapi tidak mempengaruhi suasana hati mereka semua yang berbahagia karena kepulangan Arman, membuka pintu rumah, suara meriah dari kejutan yang diberikan oleh teman-teman Arman, ada Rai dan Hasbi, ada Rima juga yang ikut, Rendi, Nadhifa, Putri serta Alya juga ada di rumah, mereka menghias ruang tengah dengan banner ucapan selamat datang kembali khusus untuk Arman, tepuk tangan meriah serta sambutan yang meriah untuk Arman, wajahnya memerah malu, ia tidak menyangka bahwa akan ada kejutan meriah ketika ia sampai di rumah, begitu juga dengan Abas, Anisa, Jepri dan Adil, mereka sama-sama kaget karena memang tidak mengetahui tentang kejutan ini, semua itu di urus oleh Mira dan Nadhifa, Mira menyuruh Nadhifa untuk mengajak teman-teman Arman menyiapkan kejutan di rumah, maka tidak heran jika dia saja yang terlihat santai dan ikut bertepuk tangan atas penyambutan Arman.
“Beuhh jadi makin cakep lu kalo ada baret baret luka gini di wajah.” Ujar Alya, ia mengambil alih tugas Abas dan mendorong kursi roda Arman masuk, Abas dan Anisa langsung mendudukan diri mereka di atas sofa, merasa kelelahan.
“Tapi kepala lu masih di perban gini Ar? Lu yakin udah beneran sembuh?.” Tanya Hasbi.
“Udah, ini cuman biar lukanya gak kena debu aja.” Jawab Arman, wajahnya terus tersenyum melihat teman-temanya yang hadir.
“Capek gak Ar?.” Tanya Rai, Putri langsung mendelik ke arah Rai.
“Bego banget pertanyaan lu! Baru nyampe ya jelas capek lah!, dari tadi pagi kagak bener pikiran lu.” Ke bar-baran Putri muncul lagi sambil memarahi Rai, Arman tertawa melihat tingkah mereka.
Adil berdiri disamping Jepri, berada di belakang semua orang yang ada di ruang tengah, matanya berbinar melihat kebahagiaan di depannya, Arman yang telah kembali pulih, semua teman-temannya yang datang menghibur, dan Jepri, yang selalu ada untuknya, semua itu tidak pernah ia fikiran beberapa tahun yang lalu, hidup dan tumbuh serta menjadi bagian dari keluarga Arman, ia bahkan tidak pernah tahu hidupnya akan menjadi lebih baik, ia sempat mengira bahwa masa depannya harus terhenti ketika ia hampir putus sekolah, tidak pernah ada dalam kepala Adil pada saat itu bahwa dirinya akan menjalin hubungan tanpa status dengan Arman, bertemu dengan Jepri, mencintai dua pria sekaligus meski memang pada akhirnya, ia memilih Jepri untuk menjadi kekasihnya.
Tidak ada ia pernah mengira, bahwa dirinya akan menemukan teman-teman baru, atau cinta, cinta indah yang selalu Jepri berikan dan buktikan dengan setiap tingkah lakunya, membuatnya berfikir, bahwa ini adalah hal yang benar benar harus ia syukuri, tidak perlu memikirkan hal panjang yang belum tentu akan terjadi, untuk lebih mengapresiasi siapapun yang memberikan kebahagiaan kepadanya saat ini, mengapresiasi mereka yang ada dan pernah memberikan cerita pada hidupnya saat ini, biarlah ia jalani takdir yang diberikan kepadanya, hari demi hari, di nikmati saja, terasa setetes air mata jatuh dari matanya, mengalir ke pipi.
Tangan besar Jepri menggenggam tangan Adil, meremas lembut dan mengusapnya hangat, genggamanya terlepas, tangan Jepri mengusap air matanya, mereka saling menatap, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Jepri, tapi sorot matanya seolah bertanya, apakah Adil baik-baik saja? Adil menggelengkan kepalanya, tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Jepri.
“Jep, gue bahagia.” Ujar Adil singkat, Jepri tersenyum lembut dan mengusap kepala Adil, merangkulkan tangannya pada bahu Adil, mereka memandang kembali ke arah depan, menikmati pemandangan yang begitu penuh dengan kebahagiaan dan canda tawa.
END.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arman
RomanceBercerita tentang Adil yang sejak kecil hidup susah setelah ditinggal Ayahnya hingga ia hampir putus sekolah ketika ia SMA, sehingga mau tidak mau ia harus bersedia untuk di urus dan disekolahkan oleh orang tua angkatnya, ia kira hidupnya akan mulai...
