Aku masih duduk terdiam, menatap wajah Oliver yang tampak lelah namun penuh perhatian. Setelah semua yang terjadi, aku tidak tahu harus berkata apa. Namun keheningan itu tidak bertahan lama, karena langkah kaki terdengar mendekat. Aku mengenali suara langkah itu sebelum dia muncul dari balik semak.
"Oliver... Kau di sini?" Suara Irish terdengar lembut namun penuh keingintahuan. Dia berdiri di sana, dengan gaun putih yang tampak sempurna dalam cahaya rembulan, seperti seorang malaikat yang baru turun dari langit.
Oliver menghela napas pelan, lalu berdiri. "Irish, ada apa?"
Irish melangkah mendekat, matanya yang berkaca-kaca menatap Oliver dengan penuh harap. "Aku mencarimu. Aku... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Semua orang membicarakan Lydia, dan aku merasa bersalah. Aku hanya ingin memastikan kau tidak marah padaku."
Aku menatap mereka berdua, mencoba menahan perasaan campur aduk di dadaku. Irish berpaling ke arahku, senyumnya yang lembut dan suaranya yang bergetar seolah mencoba menunjukkan penyesalan.
"Lydia, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa tersisih. Averio dan aku... kami tidak pernah ingin menyakitimu," katanya, menundukkan kepala seolah menahan air mata.
Aku hanya diam. Namun, Oliver tampak tidak nyaman dengan situasi ini. "Irish, kau tahu ini bukan saat yang tepat. Lydia sudah cukup terluka."
Irish menggeleng pelan, air matanya mulai mengalir. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini. Aku tidak ingin kehilangan Averio, tapi aku juga tidak ingin kehilangan kau, Oliver. Kau sahabat terbaikku. Kau selalu ada untukku, dan aku takut jika semuanya berubah."
Perkataannya membuat dadaku terasa sesak. Aku melihat wajah Oliver yang tampak terguncang, namun dia tetap berusaha tenang. "Irish, kau tidak bisa memiliki semuanya. Aku bukan seseorang yang bisa kau pertahankan hanya karena kau tidak ingin merasa kehilangan. Aku punya hidupku sendiri."
Irish terisak, suaranya semakin lirih. "Aku hanya takut..."
Aku merasa ingin pergi dari situasi ini, tapi kakiku seolah tertanam di tanah. Irish melirikku, matanya yang berlinang air mata tampak penuh rasa bersalah. "Lydia, aku tahu aku salah. Tolong, maafkan aku. Aku tidak ingin kita menjadi musuh."
Aku membuka mulut untuk merespons, tapi sebelum aku sempat berkata apa-apa, Irish terisak lebih keras. Tiba-tiba, dia jatuh berlutut, tangannya menutupi wajahnya. "Aku tahu aku buruk. Aku tahu aku egois. Tapi aku benar-benar mencintai Averio, dan aku juga peduli pada kalian berdua. Tolong, jangan benci aku."
Keributan itu menarik perhatian beberapa orang dari aula utama, termasuk Averio. Dia segera menghampiri kami, matanya langsung tertuju pada Irish yang terisak di tanah. "Irish! Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
Irish mengangkat wajahnya, matanya yang basah menatap Averio. "Aku hanya ingin minta maaf pada Lydia, tapi aku merasa semuanya menjadi salah. Aku tidak tahu harus bagaimana..."
Averio berbalik menatapku dengan tajam. "Lydia, apa yang kau lakukan? Kenapa kau selalu membuatnya merasa bersalah?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawabku dengan suara pelan namun tegas. Tapi Averio sudah tidak mendengarkan.
Oliver tiba-tiba melangkah maju, berdiri di antara aku dan Averio. "Cukup, Averio. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini, jadi berhenti menyalahkan Lydia."
Averio menatap Oliver dengan mata menyala. "Kenapa kau selalu membelanya?"
Oliver menghela napas panjang. "Karena dia tidak bersalah. Kau terlalu buta oleh Irish untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lydia berusaha menjauh dari semua ini, tapi kalian terus menyeretnya kembali."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)