Sangat Menyakitkan

45 5 1
                                    


"Kamu adalah rumah yang kuinginkan, tetapi aku hanyalah pengembara yang tak pernah benar-benar diterima."


~Lydia~

***


Aku berdiri di tengah aula megah, tanganku masih dalam genggaman Oliver. Musik lembut mengalun, dan kami bergerak perlahan di lantai dansa yang berkilauan. Sejujurnya, aku tak tahu harus merasa apa. Semua orang di sekitar memandang kami, beberapa dengan keterkejutan yang jelas, beberapa dengan sorot sinis. Namun, di saat ini, hanya Oliver yang tampak nyata bagiku.

"Kau tahu, Lydia," suara Oliver memecah keheningan di antara kami. "Aku tidak pernah menyangka malam ini akan seperti ini."

Aku tersenyum kecil, meski hati ini terasa berat. "Aku juga tidak, Oliver. Tapi kau sepertinya punya cara untuk membuat kejutan."

Dia tertawa ringan, tapi aku bisa merasakan beban di balik suaranya. Aku menatapnya, mencoba membaca pikirannya. Sesaat matanya melirik ke arah lain, dan aku tahu siapa yang ada di pikirannya.

"Irish?" tanyaku pelan, meski aku sudah tahu jawabannya.

Dia tampak terkejut, tapi tak menyangkal. "Ya. Aku memikirkannya."

Aku menggigit bibirku, menahan semua emosi yang berputar-putar di dadaku. "Kau masih menyayanginya?"

Dia terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Aku... aku rasa begitu. Tapi tidak seperti dulu."

Jawabannya membuatku ingin tertawa—bukan karena lucu, tapi karena ironis. Bagaimana bisa seseorang begitu terjebak dalam perasaan yang tidak membawanya ke mana-mana?

"Aku tahu dia penting bagimu," ucapku, mencoba menahan sindiran yang hampir keluar. "Tapi Oliver, kau pantas mendapatkan lebih dari sekadar menjadi bayangan."

Dia menatapku, seolah kata-kataku menyentaknya keluar dari pikirannya. "Bayangan?"

"Ya," jawabku tegas. "Kau tahu apa yang dia lakukan, kan? Dia memilih Averio. Tapi dia juga tidak ingin kehilanganmu. Itu bukan cinta, Oliver. Itu ego."

Aku bisa melihat sesuatu berubah di matanya. Rasa sakit? Penyesalan? Aku tak yakin. Tapi aku tahu aku harus melanjutkan. "Kau tahu, aku dulu berpikir Irish hanya gadis manis yang penuh cinta. Tapi sekarang, aku melihatnya dengan jelas. Dia memanfaatkan kebaikanmu."

Dia menghela napas panjang, seolah semua yang kupikirkan juga ada di benaknya. "Aku rasa kau benar, Lydia. Aku ingin percaya bahwa dia hanya bingung, bahwa dia tidak bermaksud menyakitiku. Tapi... mungkin aku terlalu lama memaafkannya."

Aku mengangguk pelan, meski hatiku terasa sedikit getir. "Kau berhak untuk menghargai dirimu sendiri, Oliver. Kau tidak harus terus terjebak di lingkaran itu."

Saat itu, dia menatapku dengan pandangan yang berbeda—lebih dalam, lebih tulus. "Kau tahu, Lydia, aku mulai kehilangan rasa hormat padanya. Dia membuatku merasa... kecil. Tapi kau berbeda. Kau tidak berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirimu."

Kata-katanya membuat hatiku berdesir, meski aku tahu aku tak boleh berharap lebih dari ini. "Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk berpura-pura," jawabku jujur.

Dia tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya malam ini, aku merasa ada seseorang yang benar-benar memahamiku. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Lydia. Tapi aku janji, aku akan ada untukmu."

Aku hanya mengangguk, menahan air mata yang mulai menggenang, "Bukan kah kau sudah mengatakannya tadi?" aku tersenyum lebih tepatnya agar air mataku tidak terjatuh.

Aku merasa kelelahan dan aku memilih beristirahat pada sudut istana, aku membiarkan Oliver pergi setelah percakapan kami. Aku memperhatikan langkahnya yang hendak keluar dari Istana. Pria itu hendak berbincang dengan seorang Raja dari kerajaan lain, kebetulan mereka berteman.

Belum sempat aku berjalan menuju sudut istana, aku mulai merasakan sesuatu ketika aku berdiri  di tengah ruangan, aku mulai sadar aku dikelilingi tatapan penuh amarah dan kebencian. Bahkan, Ayahku, sang raja, menatapku tajam seperti aku adalah musuh terbesar yang pernah dilihatnya. Irish berdiri tak jauh dariku, wajahnya dihiasi air mata yang mengalir deras, membuatnya tampak seperti seorang martir. Aku tahu semua ini hanyalah dramanya, tapi aku juga tahu tak ada yang akan percaya padaku.

"Lydia," suara ayah menggema, tajam dan penuh wibawa. "Kau telah mempermalukan keluargamu di depan semua orang. Bagaimana kau bisa menyakiti adikmu seperti ini?"

Aku mendongak, menatap langsung ke mata ayah. "Menyakiti? Aku bahkan belum menyentuhnya," jawabku dingin, meski darahku mendidih.

Sebelum ayah sempat membalas, Irish melangkah maju. Dengan suara yang terdengar lemah tapi cukup keras untuk didengar semua orang, dia berkata, "Ayah, kakak tidak salah. Aku hanya... sedang meminta maaf padanya. Aku merasa bersalah, dan aku tak tahu mengapa jadi begini."

Tangisannya semakin menjadi, menarik simpati dari semua yang hadir. Beberapa orang di sekitar mulai berbisik, sementara aku berdiri mematung, memendam amarahku yang hampir meledak.

"Meminta maaf?" Aku menatap Irish dengan tatapan menusuk. "Kau meminta maaf dengan menangis di tengah kerumunan, menarik perhatian semua orang, dan membuatku terlihat seperti penjahat? Luar biasa sekali cara memohon maafmu, Irish."

"Lydia, cukup!" Ayah menghardikku, wajahnya memerah karena marah. "Kau tidak menghormati adikmu. Dia hanya ingin berdamai, tapi kau—"

"Dia hanya ingin perhatian, Ayah," potongku dengan suara rendah tapi penuh ketegasan. "Kau tahu itu, aku tahu itu. Tapi kau memilih menutup mata."

Irish terisak semakin keras. "Aku hanya berkata, aku dan Oliver tidak bisa menjadi sahabat seperti dulu," katanya dengan suara yang terdengar penuh kepolosan. "Aku tidak ingin kehilangan dia."

Aku mendengus, rasa muak meluap. "Tentu saja. Kau ingin Averio, tapi kau juga ingin Oliver tetap di sisimu. Kau tak pernah puas, bukan?"

Perdebatan memanas. Ayah melangkah maju, tangannya melayang cepat ke pipiku. Tamparan keras itu membuat kepalaku sedikit berputar, tapi aku tetap berdiri tegak. Tidak ada rasa sakit di pipiku yang bisa mengalahkan sakit di hatiku.

"Lydia," suara ayah rendah dan penuh ancaman, "kau benar-benar memalukan. Aku memberimu segalanya, tapi kau memilih menjadi penghancur keluargamu sendiri. Kau pantas menerima semua ini."

Aku menatap ayah dengan mata penuh air mata yang takkan kubiarkan jatuh. "Ayah, pernahkah kau menganggapku sebagai seorang putrimu dengan tulus dan kasih?" tanyaku lirih, namun penuh penekanan.

Ayah tak menjawab, hanya menatapku dengan kemarahan yang tak dapat disembunyikan. Seolah aku adalah akar dari semua masalahnya. Aku tersenyum pahit, menoleh pada Irish yang terus terisak.

"Kau bahkan tidak tahu apa yang dilakukan jalang itu," ucapku pelan, tapi cukup keras untuk membuat semua orang terdiam.

Irish membelalakkan mata, terisak semakin keras. "Kakak... mengapa kau berkata seperti itu?" katanya dengan suara yang bergetar, seperti seseorang yang baru saja dikhianati. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu."

"Jalang?!" Suara Averio menggelegar. Dia maju dengan pedang terhunus, matanya penuh dengan kemarahan. "Kau tidak berhak berkata seperti itu tentang tunanganku!"

Dia mengacungkan pedangnya ke arahku, dan aku hanya menatapnya tanpa rasa takut. Aku tersenyum, senyum yang penuh dengan kelelahan dan kepasrahan. "Tunanganku? Averio, kau benar-benar tidak mengenali dirimu lagi."

Aku menutup mataku, menarik napas panjang sebelum berbicara lagi. "Averio, kau berbohong saat bilang aku harus mencarimu saat aku sedih?"

Dia terdiam, pedangnya tetap terangkat.

"Apakah aku ratumu sekarang? Kau bilang, dengan menjadi ratumu, aku bisa lebih bahagia bersamamu." Suaraku mulai bergetar, tapi aku terus berbicara. "Rio-ku yang dulu... bukan yang sekarang. Dan aku akan menghapus semua kenangan ini."

Suasana hening. Semua orang terpaku pada apa yang kukatakan. Tubuhku terasa ringan, lelah. Aku tidak tahu kapan aku mulai merasa seperti ini, tapi aku tahu sesuatu dalam diriku telah berubah.

Dan sebelum aku bisa berkata lebih jauh, segalanya menjadi gelap.

Tidak ada yang tahu bahwa kata-kata terakhir itu bukanlah milikku. Itu adalah Lydia—kembaranku. Aku hanyalah penjaga tubuh ini, dan kini aku merasa lelah.

"sangat menyakitkan, sakit sekali"


The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang