Jiwa

42 5 1
                                    

Saat kesadaran kembali menyapa, aku merasa diriku terperangkap dalam kegelapan. Namun, kali ini kegelapan itu terasa berbeda, seolah lebih hening, lebih dalam, dan lebih menenangkan. Aku membuka mata perlahan, dan untuk pertama kalinya aku merasakan seolah ada dua dunia yang saling berbenturan dalam diriku. Dunia yang kusadari adalah milikku, dan dunia yang terasa asing—seperti bayangan dari diri yang pernah ada.

Aku mendapati diriku terbaring di sebuah ruangan gelap, tidak ada suara atau cahaya yang memecah keheningan itu. Tubuhku terasa kaku, lelah, seakan baru saja melalui pertempuran besar. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa lelah itu, sesuatu yang menekan jiwaku, membuatku merasa seperti aku bukan lagi diriku.

Aku duduk dengan tubuh yang terasa berat, dan itu baru terasa begitu nyata. Ada suara yang menggema di kepalaku, bukan suara orang lain, melainkan suara yang datang dari dalam diriku sendiri. Sebuah suara yang begitu familiar, tapi juga asing.

"Dalilah... kau akhirnya datang kembali."

Suara itu—suara yang mirip dengan diriku, namun jauh lebih dalam dan penuh kebijaksanaan—berbicara. Aku mencoba untuk menggerakkan tubuhku, tapi sepertinya itu tidak semudah yang kubayangkan. Tubuhku terikat oleh sesuatu yang lebih kuat daripada tubuh fisik ini. Aku merasa seolah aku terjebak, tidak hanya dalam tubuh ini, tetapi juga dalam ruang di luar waktu, ruang yang terbentuk oleh kenangan dan perasaan yang saling tumpang tindih.

Kemudian, suara itu kembali terdengar, lebih lembut kali ini, "Jangan takut. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu ada. Aku selalu ada di dalammu."

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha memahami kata-kata yang baru saja terdengar. Sesuatu dalam diriku mulai terbuka, seperti memori yang terlupakan yang kini datang kembali dengan kekuatan penuh. Aku sadar, aku bukan hanya Lydia, aku adalah dua orang yang berbeda—kembaran yang telah lama hilang.

Tiba-tiba, tubuhku terasa ringan, dan aku berdiri dengan langkah yang mantap, seolah aku telah mengatasi perasaan takut yang selama ini menghantuiku. Aku melihat sekeliling, dan perlahan dunia di sekitarku mulai terbentuk dengan jelas. Istana tempat aku berada kini tampak seperti tempat yang asing, penuh dengan bayangan orang-orang yang telah menyakitiku.

"Semua ini akan segera berakhir," bisik suara itu dengan penuh keyakinan. "Tidak ada lagi yang bisa menahanmu."

Aku tahu saat itu, aku tidak hanya berjuang untuk diriku sendiri. Aku berjuang untuk kembaran yang telah lama terkubur dalam bayang-bayang kehidupanku yang penuh kebohongan. Aku berjuang untuk melepaskan diriku dari beban yang telah diwariskan oleh darah dan kehormatan keluarga yang tidak pernah benar-benar menerima siapa aku sebenarnya.

Saat itu, aku memutuskan—aku akan menghapus segala kenangan yang mengikatku pada masa lalu. Aku akan menjadi diriku sendiri, tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah. Karena aku tahu, dunia ini lebih besar dari sekadar apa yang telah diciptakan untukku. Dunia ini adalah milikku untuk dijelajahi, untuk aku atur, untuk aku bentuk.

Dan saat aku melangkah maju, aku tahu ada sesuatu yang takkan bisa diubah—kebenaran yang telah lama tersembunyi di balik segala kebohongan dan intrik. Kebenaran tentang diriku yang sejati.

Aku merasakan perasaan yang berat saat melihat saudariku tersenyumku. Senyuman itu bukan hanya senyuman kebahagiaan, tetapi juga ada rasa yang tak terungkapkan—sebuah kedukaan yang mendalam. aku hanya menundukkan kepala, berusaha mengendalikan air mata yang hampir tumpah.

"Lydia," aku berbisik pelan, entah mengapa suaraku serak. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku... aku tidak siap untuk menggantikanmu. Tapi aku juga tak ingin kehilanganmu, meski kita sekarang berada dalam dunia yang berbeda."

Saudariku mengangkat tangan, menyentuh pipi kudengan lembut, seperti memberinya ketenangan yang tak terucapkan. "Dalilah, ingatlah apa yang Ibu ajarkan padamu—kita bukan sekedar kembaran, kita adalah dua kekuatan yang saling melengkapi. Hidupku mungkin sudah berakhir, tetapi akau ada untuk menggantikan ku, dan ini saatnya aku pergi."

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang