21

81 0 0
                                        

Raka menepuk pelan bahu sahabatnya tersebut dia sangat menyayangi Bima meskipun keduanya kerap bertengkar namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam Raka sangat menyayangi nya persahabatan keduanya telah terjalin cukup lama, baru kali ini dia melihat Bima begitu terpukul atas kepergian seseorang.

"Bim apa gak sebaiknya lo hubungin om Valen? "

" gue gak sanggup Ka, gua yakin papah bakal benci banget sama gua, karena gua gak becus jagain Anaya "

"Tapi gimanapun om Valen papahnya Anaya Bim dia berhak tau apa yang terjadi sama putrinya"

Tari yang sedari tadi menangis memperhatikan kembali mayat gadis tersebut dia memperhatikan jaket pink yang di pakai mayat tersebut jelas ini milik Anaya

Namun pikiran Tari seolah di tarik paksa dengan kejadian tadi pagi dimana Tari bersama Anaya tengah mengobrol di dalam kelas

Flashback on

" jaket pink lagi? Baru lagi Nay? "

" engga kok Tar ini udah lama cuma jarang aku pake karena aku sayang banget sama jaket ini "

"Nay kamu hampir tiap hari loh pake jaket pink "

" emang kenapa Tar? Aku aneh ya? "

" engga aneh sih, cuma jadi kaya ciri khas yang pake jaket pink itu pasti kamu"

" dasar kamu Tar, enggak lah banyak kok yang lain "

" iya , tapi yang jelas jaket kamu ini bukan dari toko oren kann? "

" ya bukan " sahut Anaya sambil tersenyum

Flashback off

***
" Bim apa gak sebaiknya kita melakukan autopsi? " pertanyaan Tari membuat Bima bangkit.

" maksudnya "

"Kita cuma tau ini jaketnya Anaya kan kita belum tau pasti ini Anaya atau bukan".

" iya bener kita terlalu gegabah " sahut Raka

"Bim sebaiknya kamu hubungi Anaya"

Bima seolah baru sadar akan hal itu

"Anaya udah gw antar pulang ke rumah lo HP nya ilang " Virgo yang baru datang seolah memberi harapan pada semuanya.

"Anjing sia- sia dong air mata gua ini " umpat Raka yang  langsung di tertawakan Virgo karena kebodohannya

" trus yang meninggal ini siapa? "Ucap Raka bertanya lagi

Bima seolah tak perduli dia segera berlari meninggalkan tempat tersebut.

***

Sementara Anaya kini tengah berkumpul bersama keluarga besar Bima Laura akan mengadakan pesta barbeque

"Nay kamu ada alergi gak? , biar mama pisahin "

" aku engga punya riwayat alergi sih mah, cuma beberapa makanan aku kurang suka aja " ucap Anaya

Laura tersenyum dia begitu kagum terhadap calon menantunya tersebut

Anaya tengah menyiapkan bumbu untuk acara nanti malam

Sementara Bima ia telah tiba di depan gerbang dia menekan klackson dengan tidak sabaran

" Bima baru pulang Nay ? "

"Iya mah tadi aku pulang di anter Virgo "

" itu lutut kamu kenapa?"

" tadi jatuh mah, udah gk apa- apa juga"

Bima langsung masuk melewati keluarga besarnya yang tengah berkumpul

"Bim kamu baru pulang ?" Pertanyaan itu terlontar dari salah satu kerabat Bima namun Bima tidak menjawab pikirannya hanya terfokus pada satu hal saat ini.

" ya udah nanti di ganti perbannya ya Nay "

"Iya mah "

Laura yang baru keluar dari dapur bingung melihat Bima yang berjalan setengah berlari ke arahnya

"Mah ,Anaya dimana?"

"Ada di dapur Bim"

Setelah mendengar jawaban Laura Bima langsung menghampiri Anaya lalu memeluknya dengan erat

"Bim kamu kenapa?" Tanya Anaya dia merasakan Bima memeluknya semakin erat.

Bima tidak mengatakan apapun selain dia memeluk tubuh Anaya seerat mungkin bayangan gadis korban tabrak lari tersebut membuatnya semakin posesif terhadap Anaya

Bima melepaskan pelukannya lalu membingkai wajah Anaya

"Kamu mandi dulu gih nanti malam kita mau barbeque an " ucap Anaya sambil tersenyum.

Namun Bima hanya menatap Anaya sampai gadis itu merasakan perubahan pada sikap Bima

"Sayang kamu kenapa?"

Lagi- lagi Bima tidak menjawab dia justru kembali merengkuh Anaya lalu mencium dahi Anaya berulang kali

***

Acara barbeque sudah di mulai
Seluruh  keluarga besar Bima benar-benar datang semua

" kamu benar-benar beruntung mba dapat mantu seperti Anaya udah cantik pinter masak dan lihat Bima dari tadi nempel terus sama Anaya "

" iya mba berkat Anaya juga kita bisa lihat Bima sering tersenyum kaya sekarang "

"Dan ya Bima terlihat lebih ganteng berkali-kali lipat saat dia tersenyum"

"Emphh enak banget sosis bakarnya " puji salah satu saudara sepupu Bima

"Panji kamu gak nyamperin Bima"

"Abang sibuk sama calon kakak ipar tante "

"Abang kamu emang bucin parah" ucapan Laura tersebut membuat semua orang tertawa.

"Seperti Baskara kan Ra, ? "

"Iya , Bima memang sangat mirip papanya"

Bima mengajak Anaya pergi dari belakang rumah kupingnya terasa panas sedari tadi bagaimana tidak Bima dan Anaya jadi pusat perhatian dimana keduanya mengenakan kaos couple berwarna senada

Awalnya Anaya ingin mengenakan mini dress yang sudah disiapkan Laura namun baju itu sudah masuk tong sampah begitu Bima melihat baju dengan tali spageti itu tanpa banyak bicara Bima langsung membuangnya.

  kini keduanya tengah duduk di balkon lantai 2 di depan kamar Bima.

" kenapa ke sini? " tanya Anaya

"Aku cuma pingin berdua sama kamu, emang gak boleh? "

"Tapi kamu gk biasanya kaya gini? "

"Emang aku kek gimana? " tanya Bima sambil tersenyum dia mulai mengikis jarak di antara keduanya.

"Bim aku tau kamu, pasti ada yang aku gak tau kan? "

Baru saja Bima hendak bercerita namun dering telpon memaksa Bima menjawabnya terlebih dahulu

" Gimana? "

" oke gua ke sana sekarang "Bima menutup panggilan tersebut

" aku harus pergi ada urusan "

"Tapi kamu harus cerita nanti setelah pulang "

" iya janji " ucap Bima dia membawa Anaya turun dari kamarnya.

Bima mengenakan jaket kulit hitam lalu bergegas mengambil kunci motor kesayangannya

Baru kali ini Anaya melihat Bima memakai jaket hitam kulit lengkap dengan sarung tangan kulit yg Bima kenakan jika hari" biasa Bima berpakaian rapih dengan seragam sekolah atau setelan kantornya.

Mengapa Bima terlihat tampan berkali-kali lipat dengan style seperti itu

Namun  yang paling menyita perhatian Anaya adalah raut wajah Bima yang berubah drastis semenjak telpon tadi.

𝑴𝒊𝒏𝒈𝒈𝒖 𝟗 𝒎𝒂𝒓𝒆𝒕 𝟐𝟎𝟐𝟓

BimaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang