"Oliver, mengapa Irish ada di sini?" tanyaku, memandangnya dengan tajam. Aku tidak menyangka setan itu berani mengikuti keberadaanku ke tempat ini. Aku yakin ini baru pertama kali Irish ikut melihat kemah militer ini, apa ia ingin cari muka.
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang memberitahu," jawab Oliver, terlihat sama bingungnya denganku.
Mataku tertuju pada Irish, yang memasang senyum penuh kemenangan sambil melambaikan tangan kecilnya. Lihatlah dia, hanya karena menggandeng Averio, dia sudah bertingkah seolah memenangkan seluruh dunia.
"Wah, aku senang kalian juga ada di sini!" serunya, suaranya dibuat manis dengan senyum yang terlihat terlalu palsu untukku. Namun, sepertinya prajurit-prajurit di sekitarnya termakan akting itu, karena mereka mulai berbisik tentang betapa anggunnya Irish.
Aku mendengus, menahan diri untuk tidak tertawa terlalu keras. "Maaf ya, aku merasa kedatangan kalian sepertinya tidak ada gunanya," ucapku, menambahkan sedikit tawa kecil di akhir kalimatku. Biarkan saja dia merasa sedikit terpojok.
Irish langsung bereaksi, menundukkan kepalanya dengan gerakan yang sok polos. "Maaf, Kak Lydia, aku datang bersama Ayah dan Pangeran Averio," jelasnya, suaranya lembut namun mengandung racun terselubung.
Tiba-tiba dia memegang perutnya dengan dramatis. "Pangeran, sepertinya anak kita senang berada di sini. Kurasa ia akan tumbuh menjadi anak yang tangguh dan selalu memenangkan peperangan seperti Pangeran Averio," katanya dengan nada berlebihan, seolah memastikan semua orang di ruangan mendengar.
Aku tersenyum sinis dan memandangnya dari atas hingga bawah. "Cih, padahal yang selalu memenangkan peperangan hingga dijuluki Dewa Perang adalah Oliver. Apakah mereka gila?" gumamku cukup pelan, tapi sengaja agar tetap terdengar oleh mereka.
"Jaga bicaramu, Putri Lydia. Kau seorang putri, tapi tidak memiliki tata krama," gertak Pangeran Averio. Dia melangkah maju dengan wajah kesal, tapi Irish buru-buru menahan lengannya dengan gerakan yang terlalu teatrikal.
"Wajar Kak Lydia marah. Mungkin Kakak masih kecewa padaku karena sebagai seorang adik, aku malah akan menikah dengan Pangeran Averio yang jelas adalah tunangannya," Irish menambahkan dengan nada sedih penuh kepura-puraan. Dia benar-benar memanfaatkan setiap kesempatan untuk menjatuhkanku.
Pangeran Averio menatapku dengan pandangan mencela. "Putri Lydia, menyerahlah. Aku hanya mencintai Irish seorang. Kau tak perlu kasar pada adikmu. Aku beri kau kesempatan untuk berbuat baik padanya."
Aku tertawa kecil, memainkan cangkir teh melati di tanganku sebelum menyesapnya perlahan. "Kau terlalu percaya diri atau semakin bodoh, wahai Pangeran Averio. Seharusnya kau tahu bagaimana perilaku orang yang terobsesi padamu. Apakah aku menunjukkan tanda-tanda masih menyukaimu?"
Wajah Averio memerah, tapi dia tetap berusaha mempertahankan wibawanya. "Kalau begitu, aku mohon berbuat baik pada Irish. Dia akan menjadi ratu yang menyatukan kedua kerajaan. Bukankah kau sudah tahu itu? Lagipula kau sudah lengser dari gelar Putri Mahkotamu."
Aku tersenyum tipis, menatapnya dengan pandangan penuh tantangan. "Atau mungkin kau yang akan lengser, Pangeran Averio yang polos," balasku, menambahkan nada ancaman yang membuat suasana ruangan terasa lebih tegang.
"Aku tidak peduli dengan kalian berdua," kataku sambil berdiri. Aku berjalan mendekati Oliver, yang menatapku dengan bingung. Dengan sengaja, aku meraih tangannya, membuat Irish dan Averio membelalak.
Oliver tampak terkejut sesaat sebelum senyum kecil menghiasi wajahnya. "Mungkin aku belum bisa menjadi pria baik bagimu, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungimu," katanya lembut sambil mengelus kepalaku.
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat. Apa-apaan ini? Mengapa dia menatapku dengan begitu lembut? Aku memalingkan wajahku, berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)