halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!
⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIRhappy reading!
•••Langkah Caramela terhenti di depan papan mading sekolah. Keramaian di sekelilingnya perlahan menghilang, berganti dengan suara detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang.
Tatapan mereka...
Bibir-bibir yang bergerak membentuk kata-kata yang menyakitkan...Ia belum melihat apa pun, tapi firasatnya sudah membisikkan sesuatu yang buruk.
Perlahan, ia melihat ke papan mading.
Lalu dunianya seketika runtuh.
Bukan hanya daftar kelulusan yang terpampang di sana. Tapi, ada banyak foto dirinya, tertempel di antara pengumuman-pengumuman lainnya.
Caramela merasakan darahnya membeku. Satu per satu foto itu menghunus hatinya seperti belati.
Foto ketika ia keluar dari apotek, sedang membeli testpack.
Foto saat ia duduk di depan ruang dokter kandungan bersama Laura, dengan tangan bertumpu di atas perutnya. Walaupun wajahnya tidak terpampang jelas karena menggunakan masker.
Foto dirinya yang sedang memilih susu hamil di rak minimarket.
Tak ada keterangan yang jelas, tapi semuanya sudah cukup untuk membuat orang-orang berspekulasi.
Sebuah kalimat tertulis di atas foto-foto itu dengan spidol merah menyala.
"KEJUTAN! KASIH SELAMAT DONG, BUAT PRIMADONA SEKOLAH KITA YANG MAU JADI IBU!"
Bisikan-bisikan mulai terdengar di sekelilingnya.
"Seriusan? Dia hamil?"
"Pantesan dia keliatan aneh banget akhir-akhir ini,"
"Siapa ayahnya? Jangan-jangan dia sendiri gak tau?"
Caramela menatap kosong ke depan. Suara-suara itu seperti dengungan nyamuk yang menggema di kepalanya, menusuk gendang telinganya, membuatnya ingin berteriak.
Tapi suaranya tercekat.
Dada Caramela terasa sesak, napasnya tersengal. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram lehernya, menekan hingga ia nyaris kehabisan udara.
Mata-mata itu menghakiminya.
Tatapan mereka menusuk, seolah ia adalah sesuatu yang menjijikkan.Beberapa siswa menutup mulut mereka sambil berbisik.
Beberapa lagi terkikik, seolah melihat sesuatu yang menggelikan.
Ada pula yang memandangnya dengan tatapan iba - yang justru membuatnya ingin berteriak lebih keras.Siapa yang melakukan ini?
Siapa pun yang melakukan ini, orang itu benar-benar berniat menghancurkannya.
Bukan sekadar menerornya, tapi mempermalukannya di depan seluruh sekolah.Ia menggigit bibirnya. Jangan menangis. Jangan biarkan mereka melihatmu lemah.
Tapi sulit.
Terlalu sulit.Lututnya bergetar. Napasnya memburu. Dunia di sekelilingnya terasa semakin mengecil, semakin menyesakkan.
Kakinya melangkah mundur, memilih pergi dengan langkah semakin cepat, semakin jauh meninggalkan sekolah.
Telinganya masih dipenuhi dengan bisikan-bisikan yang menyakitkan, tatapan-tatapan yang menghakiminya, dan suara tawa yang terus bergema di kepalanya.
Ia berlari tanpa arah.
Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal, tapi ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin.
Di sepanjang jalan, suara klakson kendaraan berulang kali terdengar.
"Hei! Awas!"
"Gila! Mau mati, ya?!"
"Kalau mau bunuh diri jangan di sini!"
Beberapa kali tubuhnya nyaris dihantam kendaraan, tapi ia tidak memperlambat langkahnya. Kakinya terus berlari, terus membawa dirinya menjauh dari semua yang menyakitinya.
Hingga akhirnya, ia sampai di suatu tempat yang asing.
Sebuah danau yang luas terbentang di hadapannya, airnya tenang, mencerminkan langit mendung yang mulai menggelap. Angin sore berembus, membuat rambutnya yang terurai berantakan.
Caramela terengah-engah. Lututnya terasa lemas.
Ia berjalan gontai ke tepi danau, lalu jatuh terduduk di atas rerumputan yang lembap.
Dan saat itu juga, tangisnya pecah.
Raungannya menggema di udara yang sunyi, mengguncang keheningan di sekelilingnya.
Caramela menangis tanpa peduli, tanpa menahan diri. Air mata mengalir deras di pipinya, tubuhnya bergetar hebat. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya, membiarkan seluruh rasa sakitnya meluap tanpa bisa dihentikan.
Semua terasa begitu menyakitkan.
Kenapa harus dirinya?
Kenapa orang-orang begitu kejam?
Kenapa rahasianya harus terbongkar dengan cara yang sehina ini?
Apa salahnya?
Ia sudah berusaha menjadi orang baik. Ia tidak pernah mengusik hidup orang lain. Tapi dunia seolah tidak berpihak padanya.
Caramela menggigit bibirnya, mencoba meredam suara isakannya, tapi sia-sia. Ia terlalu hancur.
Danau di depannya tetap tenang, seolah tidak peduli pada kehancuran yang sedang terjadi dalam dirinya.
Di tengah isakannya yang semakin lirih, telinganya menangkap suara yang familiar.
"Caramela!"
Caramela terdiam. Napasnya masih tersengal, air mata masih mengalir di pipinya. Dengan gerakan lambat, ia menoleh ke arah suara itu.
"Laras?"
•••
don't forget to vote n comment ‼️

KAMU SEDANG MEMBACA
Caramela (SELESAI)
RandomCaramela Start : 1/1/25 Finish : 18/2/25 ••• Deskripsi : Caramela selalu percaya bahwa hidupnya akan semanis namanya. Namun, dalam satu malam, segalanya hancur. Ia dipaksa menanggung luka yang tak terlihat, meninggalkan bekas yang tak akan pernah h...