Ketika ayah berada didepan memimpin barisan, aku melihat Irish berdiri anggun disamping ayah dengan senyumnya yang penuh kepura-puraan. Ia tampak berbicara dengan Ayah, sesekali tertawa kecil seperti seorang anak yang tengah meminta perhatian orang tuanya. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, meskipun aku tahu apa yang ia lakukan.
"Apa kau tidak ingin menyapa Ayahmu?" Oliver berdiri di sampingku, mencoba membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng pelan, menahan emosi yang kian memuncak. "Jelas aku tidak mau," jawabku dingin.
Oliver memandangku dengan tatapan penuh empati. "Lydia, kau tahu bagaimana Ayahmu, kan? Mungkin dia hanya sedang..."
Aku mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Aku tidak butuh penghiburan. Aku butuh keadilan.
Namun, hatiku terusik oleh sebuah pertanyaan yang terus menghantui pikiranku. Aku memutar tubuh menghadap Oliver, suaraku pelan namun penuh ketegangan. "Apa kau yakin aku lengser?"
Oliver tampak terkejut dengan pertanyaanku. "Tidak ada pemberitahuan resmi tentang itu. Mungkin itu hanya rumor yang tak perlu kau pedulikan?" jawabnya, mencoba menenangkanku.
"Tapi bukankah itu tidak sopan?" Aku mengepalkan tanganku, menahan kemarahan yang mulai membara. "Tidak membicarakan hal sebesar itu terlebih dahulu padaku?"
Oliver menghela napas, menatapku dengan penuh perhatian. "Itulah rumor, Lydia. Mereka tidak perlu kau biarkan merusak hatimu."
Namun, sebelum aku sempat membalas ucapannya, suara Ayahku menggema di aula, membuat semua orang terdiam.
"Prajuritku yang setia, hari ini aku ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting dan kuharap kalian menyebarkan mandat ini keseluruh kerajaan Azalea dan kerajaan Canavero, agar seluruh rakyat dapat mengetahui hal ini ," ucapnya dengan nada tegas. Matanya menyapu seluruh ruangan, namun tak sekalipun menatap ke arahku.
Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Perasaan itu semakin kuat ketika Irish berjalan mendekati Ayahku dengan langkah penuh percaya diri, seolah dia tahu apa yang akan dikatakan.
"Aku tahu banyak dari kalian yang bertanya-tanya tentang masa depan kerajaan ini. Karena itu, aku ingin menegaskan posisi Putri Mahkota. Sebagai pemimpin yang bijaksana, aku telah mempertimbangkan dengan matang..." Ayah berhenti sejenak, membuat suasana semakin tegang.
"Mulai hari ini, Irish akan menerima lebih banyak tanggung jawab kerajaan, termasuk tugas-tugas yang sebelumnya diemban oleh Lydia."
Suasana di aula seketika hening. Aku merasa dunia runtuh di sekelilingku. Mataku melebar, menatap Ayahku dengan tak percaya.
"Tidak!" Aku berseru tanpa sadar. Semua mata langsung tertuju padaku.
Ayah menoleh ke arahku dengan tatapan tajam, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. "Lydia, jaga sikapmu. Ini keputusan yang telah kupikirkan dengan matang."
"Keputusan? Apa ini keputusan yang kau buat sendiri, Ayah? Atau karena rayuan Irish yang selalu bersikap seperti korban?" Suaraku bergetar, antara marah dan terluka.
Irish memasang wajah polos yang membuatku semakin muak. "Kak Lydia, aku tidak bermaksud merebut apa pun darimu. Aku hanya ingin membantu Ayah..."
"Cukup, Irish!" Aku memotong, air mataku sudah menggenang. "Kau tahu betul apa yang kau lakukan. Kau selalu berusaha menjatuhkanku, dan sekarang kau berhasil!"
Ayah melangkah maju, suaranya keras dan penuh otoritas. "Lydia, cukup sudah! Irish adalah adikmu. Kau seharusnya mendukungnya, bukan menjatuhkannya di depan orang banyak."
Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari pedang sekalipun. Aku terdiam, menatap Ayah dengan pandangan kosong.
"Jadi, aku yang salah?" tanyaku pelan, hampir seperti bisikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)