Wolfsbane's sebagai Racun

21 2 0
                                    

Aku memandang Irish dengan tatapan membara, amarah yang menyala di dalam diriku membuat tubuhku seakan terbakar. Saking terkejutnya, bahkan aku tak bisa berkata-kata. Rasanya aku ingin melontarkan seluruh amarahku, tapi tubuhku terasa kaku, terbelenggu oleh kekesalan yang tak terucapkan.

"Kau, beraninya!!" suaraku terdengar tajam, menggetarkan udara di sekitar kami.

Irish menatapku dengan tatapan yang entah mengapa terasa penuh penghinaan, tapi ia mencoba untuk tetap tersenyum dengan sikap yang terlihat sedikit berpura-pura menyesal. "Maaf, Kak Lydia, aku mungkin terlihat hebat memanah, namun aku juga manusia. Terkadang panahanku juga sering meleset, dan tadi aku tidak mengendalikan diri," jelasnya, suaranya lembut, tapi senyumnya yang miring tak bisa aku abaikan. Senyum liciknya itu seolah menyembunyikan niat jahatnya.

"Aku baru tahu, kalau meleset bisa tepat pada dada seseorang," jawabku dengan tajam, menahan amarah yang hampir meledak.

"Nona Irish pemenangnya!" sorak salah satu undangan yang menonton kami. Suara tepuk tangan dan sorakan mulai menggema, seakan-akan mereka tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat hasil akhir, bukan perjuangan dan ketidakadilan yang terjadi.

"Dia layak menjadi ratu, karena kehebatannya!" tambah suara lain dari kerumunan, menyetujui kata-kata itu tanpa tahu bahwa di balik kemenangan itu, ada sesuatu yang sangat kotor.

Irish berjalan dengan langkah angkuh, seolah-olah dia telah memenangkan seluruh dunia. Namun, dengan langkah penuh kebanggaan itu, ia tiba-tiba merendahkan dirinya, berusaha menutupi kesombongannya. "Aku akan belajar dari Kak Lydia, bagaimanapun dia lebih berpengalaman," ucapnya dengan nada yang terlihat seperti sebuah sandiwara, berusaha membuat semua orang percaya pada kerendahan hatinya.

Namun, kebohongan itu tak bisa kutelan begitu saja. Saking marahnya, dadaku terasa semakin sakit, seolah hati ini terbelah. Tiba-tiba, aku terbatuk keras, darah segar mengalir dari mulutku, dan aku merasakan tubuhku kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, aku terjatuh ke tanah dengan tubuh yang lemas, dan rasanya sakit ini jauh lebih parah daripada sebelumnya.

"Lydia!!!" Oliver berteriak panik, berlari menghampiriku dengan langkah cepat, diikuti oleh wanita cantik bernama Cleora. Keduanya terlihat khawatir, namun tatapan Oliver lebih mencemaskan, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Oliver memeluk tubuhku yang terjatuh, membantuku berdiri dengan tangan yang gemetar. "Lydia, apa yang terjadi padamu?" ucapnya, suaranya penuh kecemasan.

Cleora, yang sebelumnya diam, kini menatapku dengan intens. "Anda seperti dalam pengaruh racun," ujarnya pelan, namun kata-katanya seperti belati yang menusuk, membuat seluruh ruangan terdiam sesaat.

Selir Rosalina, yang sudah lama tidak bersuara, akhirnya membuka mulutnya. "Jangan sembarangan bicara, kau bisa membuat seluruh istana panik dan hancur. Lagipula, kau gadis dari mana?" ujarnya dengan nada sinis, seolah menganggap Cleora hanya seorang pengacau.

"Saya hanya menduga, karena saya sering menangani kasus keracunan," jawab Cleora dengan nada tenang, namun kata-katanya semakin membuat semua orang berbisik-bisik, saling berbisik dengan penasaran, mencoba mencari tahu kebenaran dari ucapan tersebut.

"Siapa Anda sebenarnya!! Beraninya tanpa diundang memasuki wilayah Azalea!" tegas Gilbert, asisten kepercayaan ayah. Ia terlihat marah, namun ada juga rasa khawatir yang tak bisa disembunyikan.

Cleora menatapnya dengan tenang, namun matanya yang tajam seperti mampu menembus segala keraguan. "Saya hanya seorang dokter yang datang bersama keluarga Canavero. Tak ada niat buruk, hanya berusaha membantu," jawab Cleora dengan nada datar, tapi juga penuh keyakinan.

Namun, tiba-tiba, Cleora menoleh ke arahku dengan tatapan serius. "Namun, kenapa kau memegangi dadamu?" tanyanya dengan lembut, namun matanya yang tajam mengamati gerak-gerikku. Aku merasa seolah seluruh tubuhku terperangkap oleh pandangannya.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang