Pesta peresmian gelar putri mahkota dibubarkan, tanpa ada pemberitahuan kapan akan dilanjutkan kembali. Suasana istana yang semula penuh kemegahan kini terasa kosong, hanya menyisakan bisikan-bisikan samar dari para pelayan yang masih bergegas merapikan sisa-sisa perjamuan. Malam semakin kelam, awan pekat menutupi cahaya bulan, membuat kegelapan terasa lebih menusuk.
Aku berjalan melewati lorong-lorong sunyi menuju aula utama. Lampu-lampu kristal yang menggantung tinggi memancarkan cahaya keemasan yang suram. Dari kejauhan, aku melihat ayah masih duduk di kursi kehormatannya, tubuhnya sedikit membungkuk, telapak tangannya menutupi wajahnya seolah menahan sesuatu yang tak sanggup ia lepaskan. Entah kekecewaan, kemarahan, atau rasa bersalah.
Aku memilih untuk menghampirinya. Baru saja aku hendak membuka suara, ayah menyentakku lebih dulu.
"Kau akan menyalahkanku lagi?" suaranya terdengar berat, seperti seorang pria yang telah terlalu lama memendam sesuatu.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Tidak, tapi kuharap kau memikirkan kembali semua yang kau lakukan padaku dan aku berharap kau menyesal."
Aku duduk di sebelahnya, mencoba mencari tatapan yang tak kunjung ia berikan kepadaku. Wajahnya tetap tertunduk, tak ada satu pun raut wajahnya yang bisa kubaca dengan jelas.
"Kau ayah yang mengecewakan bagiku," ucapku dengan nada datar.
Ayah mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang mulai memerah. "Apa yang tidak ayah berikan padamu? Kau tumbuh dengan baik, kau mendapatkan semua yang kau inginkan. Aku telah memberikan segalanya untukmu."
Aku tersenyum, bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum getir yang penuh kekecewaan. "Apakah aku benar-benar tumbuh dengan baik bersamamu? Apakah aku tumbuh dengan merasakan cinta seorang ayah? Tidak, Ayah. Kau hanya membesarkan tubuh seorang manusia, bukan seorang anak."
Ayah terdiam, rahangnya mengeras. Aku bisa merasakan betapa sulit baginya menerima kata-kataku, tetapi aku tak peduli.
"Jika kau memang ayah yang baik," suaraku mulai bergetar, tetapi aku tak ingin terlihat lemah, "mengapa kau tidak mencari tahu siapa yang membunuhku? Mengapa kau membiarkan mereka berkeliaran dan hidup dengan baik? MENGAPA?!!!"
Aku berteriak. Semua yang selama ini kupendam akhirnya meledak. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis, tetapi dadaku semakin sesak.
"Kau memelihara pembunuh di istana ini. Kau memberi mereka makanan, pakaian, tempat tinggal, bahkan kehormatan!" Aku menunjuk ke sekeliling aula kosong, seolah-olah ada yang mendengarkanku selain ayah.
Ayah menatapku, kali ini matanya tidak lagi penuh amarah, melainkan kebingungan. "Aku tak mengerti siapa yang kau maksud."
Aku tertawa kecil, tetapi air mataku jatuh. "Lihat? Kau bahkan tidak pernah bertanya siapa yang melakukannya padaku. Kau tidak pernah peduli. Aku harus mati lebih dulu baru aku bisa menarik perhatianmu, Ayah. Apakah itu lucu?" Aku menatapnya tajam, menunggu reaksi darinya.
Ayah akhirnya mengalihkan pandangannya. Ia tampak kehilangan kata-kata, dan itu membuat hatiku semakin sakit. Bagaimana bisa seseorang yang seharusnya melindungiku tampak begitu acuh?
Aku mengusap air mataku dengan kasar. "Tapi tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak butuh perlindunganmu lagi. Aku akan memberitahu keseluruh dunia, seseorang yang amat percaya ternyata yang ingin membunuhku. Aku akan mempermalukan mereka dan membalas semuanya."
Ayah menghela napas panjang, lalu menunduk lagi, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tetapi ia menahannya. Aku berdiri, menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik meninggalkannya sendirian di aula yang semakin terasa dingin.
Langkahku menggema di lorong panjang istana, hati ini dipenuhi dengan tekad yang semakin menguat. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, ini adalah kali terakhir aku mengharapkan sesuatu darinya. Irish... Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dia. Kekecewaan ini semakin membebani pikiranku. Kembali ke kamar, aku duduk di dekat jendela yang menghadap ke halaman istana yang sunyi, membiarkan segala yang terjadi berputar dalam kepala.
Bunga Wolfsbane's. Itu yang mengganggu pikiranku saat ini. Aku ingat betul, bagaimana bunga itu sempat membuatku ragu. Wolfsbane's... atau Delphinium? Awalnya aku kira itu adalah bunga Delphinium yang sering aku lihat di kebun istana. Namun, jika benar itu adalah Wolfsbane's, maka siapa yang menukar bunga itu? Kalau aku pikir-pikir lagi, bahkan ayah pun sempat keliru. Apa selama ini dia tidak menyadari bahwa seseorang dengan sengaja mengganti bunga itu? Jika ayah, sebagai seorang raja yang seharusnya peka, bisa jatuh pada kebohongan ini, maka aku mulai meragukan segala hal yang aku percayai.
Tidak, aku harus melakukan sesuatu.
Aku tahu pembunuhnya adalah Irish. Ingatanku begitu jelas, tapi aku tahu itu tidak cukup untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang akan percaya padaku hanya dengan kata-kata. Aku harus menemukan bukti yang tak terbantahkan, dan jika aku bisa membuat Irish terpojok, mungkin saat itu kebenaran akan terungkap.
Pesta teh yang dia adakan kali ini—aku akan memanfaatkannya untuk menghancurkan semuanya.
Keesokan paginya saat aku melangkah ke ruang makan, suasana ramai dengan tawa dan percakapan ringan para putri bangsawan. Mereka terlihat begitu terpesona dengan segala hal yang ada di sekitar mereka, namun aku tahu ini adalah kesempatan yang tepat untuk menjatuhkan Irish. Semua mata akan tertuju padanya, dan aku harus mengalihkan perhatian mereka.
Aku duduk dengan tenang, menikmati teh yang disajikan, dan berharap rencanaku berjalan lancar. Tiba-tiba, salah satu putri, yang bernama Putri Elisabetta, menunjuk bunga ungu yang ada di meja.
"Aku penasaran karena aku awam soal bunga. Bunga yang terlihat indah ini bunga apa?" tanyanya dengan penasaran ketika melihat bunga ungu dalam vas.
Aku melihat Irish yang tersenyum dengan bangga, seolah sudah siap untuk memberikan jawaban yang sempurna. "Ini adalah Delphinium," jawabnya, dengan nada penuh keyakinan.
Putri Seraphine , yang duduk di sebelahku, langsung menimpali, "Kata mereka, bunga Delphinium memiliki banyak manfaat, apalagi jika kita menjadikannya teh."
Aku memutar bola mataku sedikit, menyadari bahwa Irish terlalu terbawa suasana untuk mengesankan semua orang. Dia pun mulai menjelaskan dengan panjang lebar tentang manfaat bunga Delphinium, seolah dia seorang ahli tanaman yang sudah lama mempelajarinya. Sungguh, sepertinya dia ingin meyakinkan semua orang bahwa dia pantas menjadi putri mahkota dengan pengetahuan yang luas.
Saat itulah aku memutuskan untuk menginterupsi.
"Wah, bagaimana kalau kita buat ini jadi teh dan meminumnya bersama? Aku akan memanggil pelayanku," kataku dengan senyuman di wajah, berusaha menunjukkan bahwa aku juga memiliki niat baik. Tidak ada yang tahu kan kalau itu Wolfbane's, hanya Irish yang tahu.
Semua mata kini tertuju padaku. Para putri yang duduk di meja tampak tertarik, mereka membayangkan keindahan warna bunga itu dan rasa teh yang akan terhidang.
"Oh, pasti menyenangkan!" kata Putri Amara, seorang putri dari negeri seberang, dengan mata berbinar. "Teh dari bunga ini pasti sangat harum."
Putri Verena, yang duduk di sebelah Irish, juga ikut menambahkan, "Putri Lydia tampaknya sangat akrab dengan Putri Irish, ya?" ujarnya sambil tersenyum simpul, mungkin sedikit menggoda.
Aku hanya tersenyum, tapi di dalam hatiku, aku tahu ini adalah langkah pertama menuju kehancuran Irish. Jika mereka semua meminum teh yang terbuat dari bunga Wolfsbane's, yang aku yakin akan beracun, maka tak lama lagi kebenaran akan terungkap. Semua orang akan tahu siapa dia sebenarnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasyDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)