Pengakuan

45 2 0
                                    


Malam itu, aku tidak bisa tidur. Pikiranku terus dipenuhi dengan peristiwa hari ini—Irish yang mempermalukan dirinya sendiri, kebohongannya yang terbongkar, dan reaksi Oliver saat aku menceritakan semuanya lewat telepon.


Tapi itu tidak cukup. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya secara langsung. Aku bangkit dari tempat tidur dan meraih mantelku. "Helena, siapkan Mobil dan cari pelayan yang bisa berkendara, bilang ini perintahku. Aku akan pergi ke kemah militer," perintahku tegas.

Aku melangkah keluar dari istana dengan langkah mantap, hanya dihentikan oleh suara Helena yang memanggil. "Tuan Putri, apakah Anda yakin ingin pergi sekarang?" tanyanya dengan cemas, matanya memandangku penuh perhatian.

Aku menoleh sekilas, memandangnya dengan senyuman tipis. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama, Helena. Ada sesuatu yang penting yang harus kuselesaikan, dan aku butuh tahu jawabannya sekarang."

Helena mengangguk pelan, menyadari betapa seriusnya aku. "Jika Tuan Putri memutuskan begitu, maka aku akan ikut menemani. Tidak ada yang tahu jalan ke sana sebaik kita."

Sambil mengangguk, aku melanjutkan langkahku menuju mobil yang sudah siap di halaman istana. Supirku, seorang pelayan pria yang telah lama bekerja di istana, membuka pintu dengan sopan. "Tuan Putri, kita siap berangkat kapan saja," katanya dengan suara lembut, seolah sudah tahu betapa terburu-burunya aku.

Aku masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Helena yang duduk di sebelahku. Perjalanan malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Suasana malam yang gelap terasa berat, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan yang sesekali melintas.

Aku bergegas menyusuri jalan setapak menuju kemah militer, langkahku cepat, penuh ketegangan. Aku harus segera bertemu dengan Oliver, menceritakan apa yang terjadi, dan mendapat pemikirannya. Aku harus memastikan dia tahu tentang kebohongan besar yang sedang mengguncang istana—tentang Irish, kehamilannya yang palsu, dan segala sesuatu yang terkait dengan itu.

Namun, saat aku tiba di depan kemah, suasana sekitar sepertinya tidak ada yang mengindikasikan keberadaan Oliver. Aku melirik sekeliling, melihat prajurit-prajurit yang sibuk dengan tugas mereka. Aku tak sabar, jadi aku bertanya pada salah satu prajurit yang lewat.

"Apakah Oliver ada di sini? Aku harus bertemu dengannya secepatnya," kataku dengan sedikit terburu-buru.

Prajurit itu melirikku sejenak, bingung. "Tuan Oliver? Oh, dia mungkin di dalam. Tapi, yang benar-benar bisa membantu adalah..."

Aku baru saja akan melangkah masuk ke arah yang ditunjukkan oleh prajurit tersebut ketika tiba-tiba aku mendapati diriku berada di ruang kemah yang salah. Ruangan itu penuh dengan prajurit yang sedang beristirahat, dan mereka langsung menatapku dengan mata terbelalak. Aku merasa canggung, tapi buru-buru membalikkan badan.

"Maaf, aku salah masuk. Aku hanya mencari Oliver," ucapku terbata, mencoba menahan rasa malu.

Beberapa prajurit mulai tertawa ringan, melihatku dengan tatapan penuh rasa kagum. Salah satu dari mereka, yang tampaknya lebih berani, berkata sambil tersenyum lebar, "Wah, Putri Lydia. Apa yang membawamu ke sini? Mencari Yang Mulia Oliver, ya? Atau justru mencari yang lain?"

Aku bisa merasakan mataku sedikit terbelalak mendengar godaan itu. Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dikatakan. Beberapa prajurit lainnya mulai ikut menggodaku dengan pujian.

"Betapa cantiknya Putri Lydia hari ini. Rasanya kemiliteran jadi lebih indah dengan kehadiran nona," ujar salah satu dari mereka, sementara yang lain ikut tertawa.

Aku merasa sedikit risih dengan pujian yang berlebihan itu, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang. "Terima kasih, tapi aku hanya mencari Oliver," kataku, sedikit lebih keras agar mereka tahu aku tidak datang untuk bergosip.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang