Ketika aku terakhir kali melangkah ke dalam kamar yang pernah menjadi tempatku tumbuh, aku hampir tidak mengenali ruangan ini. Semuanya terasa asing—barang-barangnya, bahkan aromanya. Aku teringat bagaimana dulu setiap sudut kamar ini begitu penuh dengan kenangan, namun entah bagaimana, semuanya berubah ketika Irish memutuskan untuk membuat ruangan ini menjadi kamar bayi. Ruangan itu sempat dipenuhi dengan segala hal yang berbau masa depan yang tidak pernah aku inginkan—dan itu adalah salah satu hal yang paling membuatku merasa jauh dari rumah.
Aku ingat saat itu, betapa hatiku merasa perih melihat kamar yang dulu penuh dengan kehangatan kini dipenuhi barang-barang yang tidak pernah kuinginkan. Tentu, Irish mungkin sengaja mengubahnya menjadi kamar bayi seakan itu adalah simbol dari kebahagiaan yang dia harapkan. Namun, bagiku, itu lebih terasa seperti pengingkaran—seperti membuang kenangan-kenangan yang tak bisa kuulang lagi. Itu penghinaan.
Tapi sekarang, saat aku melangkah masuk ke dalam kamar ini lagi, segala sesuatu yang pernah hilang terasa kembali seperti semula. Barang-barang yang dulunya ada di sini kini kembali ke tempatnya. Aroma bunga yang pernah memenuhi udara, aroma kayu dari furnitur yang lama, bahkan bau harum lilin yang menyatu dengan udara—semuanya kembali. Kamar ini kembali menjadi rumah bagi aku.
Aku menyentuh meja rias yang dulu selalu kuperhatikan, tempat aku menyimpan segala perhiasan dan benda kesayanganku. Sekarang, meja itu kembali seperti dulu, tak ada lagi mainan atau barang-barang bayi yang tak pernah kuinginkan. Sebaliknya, ruangan ini kini terasa nyaman dan hangat, seperti memelukku kembali setelah sekian lama.
Aku berjalan pelan ke jendela, melihat keluar, dan merasakan perasaan lega yang luar biasa. Aku menghirup udara dalam-dalam, merasa aroma kamar ini meresap ke dalam diriku. Semua yang dulu hilang kini kembali, dan ada kebahagiaan yang mengalir pelan di hatiku. Aku bisa merasakan air mata yang mulai menggenang, tapi kali ini, air mata itu bukanlah air mata kesedihan. Itu adalah air mata kebahagiaan.
Sambil berdiri di dekat jendela, aku menatap ke luar dan tersenyum. "Terima kasih, Ayah," bisikku pelan, meski dia tidak ada di sini. Aku tahu, meskipun dia mungkin tidak pernah mengerti perasaan ini, dia telah memberikan kembali sesuatu yang sangat berharga—kenangan dan tempat yang pernah menjadi rumahku.
Dengan langkah yang ringan, aku memanggil Oliver yang sedang berdiri di luar kamar, menatapku dengan ekspresi penuh perhatian. "Oliver, masuklah! Kamu harus melihat ini!" aku berkata dengan antusias, membuka pintu lebih lebar untuk mengundangnya masuk.
Oliver melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada aku yang sudah berdiri di tengah ruangan dengan senyum lebar di wajahku. "Lidya, kenapa kamu terlihat begitu... bahagia?" tanya Oliver dengan senyum kecil, matanya penuh rasa ingin tahu.
Aku tidak bisa menahan diri. Aku melompat ke arahnya dengan penuh semangat, berbicara seolah-olah aku sudah menunggu momen ini sejak lama. "Kamu tahu, ini kamar yang dulu aku tinggali, dan sekarang... sekarang semuanya kembali seperti semula!" Aku tertawa dengan kegembiraan yang murni. "Lihat! Meja rias ini, kursi ini, bahkan aroma ini—semuanya sama persis seperti dulu! Ini seperti mimpi! Aku tidak tahu kenapa, tapi ini benar-benar membuatku merasa seperti pulang."
Aku berhenti sejenak, menarik napas panjang dan melanjutkan dengan penuh semangat. "Lihat, Oliver, dulu ketika aku pertama kali kembali, kamar ini penuh dengan barang-barang yang membuatku merasa asing, seperti ada yang hilang. Tapi sekarang, semuanya sudah berubah. Ini adalah tempat yang aku kenal. Semua kenangan indahku di sini, dan sekarang rasanya seperti aku menemukan kembali diriku sendiri." Aku tertawa kecil, merasa seolah-olah aku baru saja mengungkapkan perasaan yang sudah lama terpendam.
Oliver berdiri di sana, mendengarkan setiap kata yang aku ucapkan dengan senyuman lembut di wajahnya. Aku bisa melihat betapa dia menikmati mendengarkan ceritaku, meskipun mungkin itu hanya tentang sebuah ruangan. Namun, bagiku, ini jauh lebih dari sekadar kamar. Ini adalah simbol dari rasa damai yang aku cari selama ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Main Princess✔️
FantasíaDalilah terperangkap di tubuh kembarannya sendiri, sejak kematian dirinya beberapa hari yang lalu. Highest rank #2 | Pahlawan (13 February 2025) #13 | 2023 (13 February 2025) #22 | Jiwa (13 February 2025)