Langkah Pertama yang Dingin

27 1 0
                                    

Aku menahan tawa di balik tembok, menunggu reaksi mereka. Sejauh ini, rencana berjalan dengan sangat baik.

Helena, yang menyamar dengan rambut palsu, melipat tangannya dan menghela napas seakan-akan dia sangat prihatin. "Kalian tahu, ada yang berspekulasi bahwa Nona Irish yang menyebabkan kematian Nona Lidya," katanya dengan suara rendah, penuh konspirasi.

Pelayan lain yang mendengarnya langsung bereaksi, salah satunya, seorang wanita dengan celemek kotor akibat pekerjaan dapurnya, melotot dan menepis pernyataan itu dengan penuh keyakinan. "Kau jangan sembarangan bicara!" ujarnya dengan nada hampir marah. "Nona Irish itu seperti malaikat. Membunuh semut pun ia tak mampu!"

Aku hampir tertawa mendengar pernyataan itu. Malaikat? Itu konyol! Mereka benar-benar tidak tahu apa-apa. Aku, yang seharusnya sudah mati, tahu betul seberapa mengerikannya "malaikat" yang mereka puja itu. Bahkan, dia bisa membunuhku dengan tatapan manis dan senyuman penuh kepalsuan.

Helena tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya semakin pelan seolah-olah membisikkan rahasia kelam. "Bukankah aneh? Tiba-tiba bunga yang selama ini kita kira Delphinium ternyata adalah bunga iblis? Terlihat mirip, bukan?"

Beberapa pelayan tampak berpikir. Yang lain mulai berbisik-bisik, saling bertukar tatapan penuh tanda tanya. Salah seorang yang tadi sibuk menyusun kain kini menoleh dengan minat yang lebih besar.

"Apa hubungannya dengan Nona Irish?" salah satu dari mereka bertanya, nadanya sedikit ragu.

Tiba-tiba, seorang pelayan yang tampaknya berasal dari daerah lain ikut menyela dengan nada mendesak, seolah-olah baru menyadari sesuatu. "Saya juga berpikir begitu!" katanya penuh semangat. "Di daerahku, bunga iblis itu ekstraknya digunakan sebagai racun untuk berburu! Kami mengolahnya menjadi cairan pekat yang cukup kuat untuk membunuh buruan hanya dengan satu panah!"

Mendengar itu, aku yang bersembunyi di balik tembok hampir tersedak udara. APA?!

Oh, ini jauh lebih menarik dari yang aku duga. Aku hanya berniat menyebarkan gosip murahan untuk menggerakkan opini publik, tapi ternyata aku justru mendapatkan informasi baru!

Aku menutup mulut dengan tangan, lalu bergumam pelan, "Oh~ jadi begitu ya~"

Salah satu pelayan, yang tampaknya memiliki otak lebih dari sekadar alat untuk menyanggah topi, mulai berpikir lebih dalam. "Wah, apakah tidak ada edukasi untuk itu? Misalnya akulturasi budaya dari daerah kalian ke daerah kami? Dengan begitu, semua orang bisa membedakan bunga iblis dengan tumbuhan lain yang mirip dan memanfaatkannya dengan benar!"

Aku nyaris ingin bertepuk tangan. Bagus! Sangat bagus! Bahkan aku sendiri tidak memikirkan ide ini.

Tapi aku harus tetap pada rencana awal. Aku harus memanaskan suasana lebih jauh, memastikan api ini tidak padam begitu saja.

Helena, yang sudah membaca situasi dengan baik, memasang ekspresi penuh simpati yang jelas-jelas dibuat-buat. "Intinya, aku merasa bahwa semua ini ada kaitannya dengan Nona Irish," ucapnya dengan nada penuh kesungguhan, seakan-akan dia adalah hakim yang baru saja menemukan bukti kasus besar. "Seorang pembunuh... tidak pantas menjadi menantu keluarga kerajaan, apalagi mendampingi Putra Mahkota."

Sejenak, ada keheningan. Kemudian, bisikan-bisikan kecil mulai menyebar.

"Kalau memang benar begitu, maka..."
"Apa Putra Mahkota tidak tahu?"
"Astaga, kalau ini benar..."

Aku tersenyum puas. Bagus. Sangat bagus.

Saat obrolan mulai mereda, para pelayan kembali ke pekerjaan mereka, masih sibuk membicarakan gosip yang baru saja kami tiupkan ke telinga mereka. Aku bisa melihat percikan keraguan mulai tumbuh di benak mereka, seperti api kecil yang siap membesar. Sempurna.

The Main Princess✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang