Keyakinan

296 51 20
                                    


Kota masih lengang ketika Ahyeon membuka matanya pagi itu. Sinar matahari samar-samar menembus tirai jendela, membiaskan cahaya lembut ke dalam kamar apartemennya yang sederhana. Suara adzan subuh yang berkumandang dari masjid di dekat kompleks apartemen membuatnya bangkit, meraih mukena, lalu berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.

Saat ia keluar, matanya menangkap sosok kekasihnya yang masih terlelap di sofa. Gadis itu pasti pulang larut malam karena pekerjaan di kantornya, dan Ahyeon tak tega membangunkannya. Pharita terlihat damai, wajahnya sedikit tertutup oleh helaian rambut hitamnya yang berantakan. Ahyeon tersenyum kecil sebelum melanjutkan ibadahnya.

Setelah selesai sholat, ia duduk di dekat jendela sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna. Tak lama, suara samar-samar terdengar dari belakangnya.

"Sayang..." Pharita memanggil dengan suara serak, matanya masih setengah tertutup. "Pagi..."

Ahyeon menoleh dan tersenyum lembut. "Pagi sayang. Gimana tidurmu?."

Pharita menghela napas panjang sebelum bangkit dari sofa. "Lelah... tapi lebih baik setelah lihat kamu."

Ahyeon tertawa pelan. "Kamu mau mandi dulu? Aku bikinin kopi kalau mau."

Pharita mengangguk. "Boleh, aku mandi dulu ya."

Pharita pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan, Ahyeon berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi dan sarapan pagi untuk mereka.

Setelah hampir 30 menit, Ahyeon menyelesaikan masakannya. Dia menyusun makanannya diatas meja makan.

"Hmm... harum banget. Kamu bikin apa sayang?." Tanya Pharita mendekat kearah meja makan.

"Pancake kesukaan kamu."

Setelah berdoa, mereka mulai makan. Pharita sangat menikmati masakan pacarnya.

"Hari ini kamu bisa temenin aku belanja bulanan? Beberapa bahan udah mulai habis." Tanya Ahyeon ke Pharita.

Pharita menatap Ahyeon, "Bisa sayang tapi agak siang, gapapa? Hari ini Minggu, aku harus ke gereja dulu."

Ahyeon tersenyum mengerti. "Iya gapapa kok."

Setelah 20 menit, mereka sarapan dan Pharita bersiap-siap. Ahyeon mengantarkan kekasihnya ke depan pintu apartemen.

"Hati-hati ya."

Pharita menatap Ahyeon sejenak sebelum tersenyum. "Iya sayang, kamu balik istirahat lagi ya. Nanti aku kabari kamu kalau udah selesai."

Ahyeon mengangguk dan tersenyum. Ini bukan pertama kalinya Pharita pergi ke gereja sendiri, dan mereka berdua sudah terbiasa saling menghormati. Walaupun keyakinan mereka berbeda, tidak pernah sekalipun mereka mencoba mengubah satu sama lain.

Bagi Ahyeon, Pharita adalah seseorang yang mengajarkannya tentang cinta yang tulus—tanpa paksaan.

Ketika pertama kali mereka mulai serius, Ahyeon masih ragu-ragu. Bukan karena ia tidak mencintai Pharita, tapi karena ia tahu bahwa tembok di antara mereka sangat tinggi. Ia ingat saat ia pertama kali mengungkapkan kegelisahannya pada Pharita.

"Apa kamu yakin, Riri? Kita... kita berbeda."

Pharita menatapnya, kemudian menggenggam tangannya erat. "Aku tahu, Ahyeon. Tapi aku mencintaimu, kita jalani dulu ya."

Selama berpacaran mereka benar-benar menghormati satu sama lain.

.

.

.

Ketika bulan Ramadan tiba, Pharita selalu memastikan tidak makan di depan Ahyeon. Bahkan, terkadang ia ikut bangun saat sahur hanya untuk menemani Ahyeon mengobrol sebelum subuh.

OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang