*Chapter 63*

588 78 30
                                    

Setelah rasa keterkejutannya perlahan mulai reda, Gara lantas bersuara.

"Ada setan nemplok di jendela. Tapi gue gak pa-pa kok. Aman." Ujar Gara berbohong pada saudara-saudaranya yang memandang khawatir ke arahnya. Aman dari mana? Kondisi nya jelas-jelas tidak baik. Rasa terkejutnya membuat napas nya memberat. Padahal sebelum mereka pergi jalan-jalan tadi napasnya sudah mendingan. Kenapa sih setan selalu membuat kondisi tubuhnya drop? Ia sungguh lelah seperti ini terus. Ia ingin sekali kemampuan indigo nya bisa segera hilang.

Shino sontak menegakkan tubuhnya, "Se-setan? Setan apa, Gar? Sekarang masih ada?" Tanya Shino ketar-ketir mendengar kata 'setan'. Bulu kuduk nya seketika meremang saat menyadari ternyata hari sudah senja, waktu dimana setan banyak berkeliaran.

Gara yang mendapat pertanyaan itu lantas menolehkan kepala ke arah jendela kirinya untuk mengecek apa setan itu sudah pergi atau belum.

Sedetik kemudian hembusan napas berat terdengar keluar dari mulutnya. Gara langsung menutup mata dan kembali menolehkan kepalanya ke depan.

"Masih ada." Katanya untuk menjawab pertanyaan Shino. Makhluk itu bahkan terlihat melototkan mata sembari menyeringai ke arahnya. Walaupun terlihat samar-samar dimata Gara.

"Kamu beneran gak pa-pa?" Thaka bertanya dengan raut wajah yang masih nampak khawatir.

Gara tidak menjawab. Tubuhnya membungkuk dengan tangan yang bergerak hendak meraih tabung oksigen yang berada di bawah dasboard,tepat disebelah kaki nya.

Thaka mengernyit, lalu memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan.

"Kenapa?" Thaka kembali bertanya sembari menyentuh pundak Gara. Bingung melihat gerak-gerik adiknya yang bergerak gelisah.

Sebelah tangan Gara terangkat memegang nasal kanula di hidung nya," Gak kerasa.." Ujarnya lirih.

"Oksigennya gak kerasa?" Tanya Thaka lagi, memastikan perkataan adiknya yang kurang jelas.

Gara mengangguk.

Thaka mengambil alih tangan Gara yang hendak meraih regulator untuk menaikkan laju aliran oksigen.

"Gimana? Udah kerasa belum?"

"Belum." Balas Gara dengan tarikan napas yang masih berat.

"Ke rumah sakit aja, Tha." Shino yang sudah sepenuhnya sadar itu bersuara. Ia tidak bisa memajukan tubuhnya karena sedang memangku Silvisya. Jadi hanya bisa memperhatikan bahu sang adik dari belakang yang naik turun lambat dengan perasaan khawatir.

"Iya, ke rumah sakit aja, bang. Takut kenapa-napa." Jerry ikut bersuara. Setuju dengan saran Shino.

"Ke rumah sakit ya, dek? " Thaka bertanya dulu kepada yang bersangkutan. Karena kalau langsung dibawa, takutnya tantrum.

Dan benar saja. Gara menggeleng sebagai bentuk penolakan.

"Udah kerasa. " Kali ini ia berkata jujur. Oksigen dari nasal kanula sudah mulai kembali membantu meringankan rasa sesaknya yang sempat memberat.

"Ke rumah sakit aja. Biar tau kondisi lo kenapa-napa atau gak." Kata Jerry memaksa. Ia tahu bagaimana tersiksa nya ketika sesak napas. Jadi ia hanya ingin kondisi sepupunya itu bisa ditangani dengan baik.

Gara menolehkan kepala nya ke belakang, tempat Jerry berada.

"Gue gak suka dipaksa." Mata Gara melirik sinis. Lalu kembali menoleh ke depan.

"Udah, gak usah maksa Gara, Jer. Dia beneran kemusuhan sama yang namanya rumah sakit." Shino memberi pengertian pada Jerry. Agar dua adiknya itu tidak berdebat.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang