Hara dan Jian akhirnya menyerah pada dorongan orang tua mereka yang tiada henti. Di ruang tamu rumah, mereka duduk saling berhadapan, memandangi bayi yang sedang tertidur pulas di keranjang kecil di depan mereka.
Bayi laki-laki dengan wajah imut yang tengah tertidur pulas. Jika diperhatikan wajah itu tidak ada kemiripan dengan Hara maupun Jian. Dalam hati kedua pria itu sebenarnya masih meragukan. Dan keduanya benar-benar akan berniat untuk kembali melakukan tes DNA. Kembali kepada Hara dan Jian, yang merasa bingung harus melakukan apa. Bi Ijah dan Pak Yoga ikut menimbrung di ruang tamu memperhatikan bayi yang berumur hampir satu tahun itu.
"Apa kita harus mulai... nyanyi atau apa?" tanya Jian dengan nada bingung, sementara Hara merespons dengan tatapan heran kepada lelaki jakung disebelahnya itu.
"Nyanyi? Ini bayi, bukan penonton konser. Bayi butuh makan, tidur, dan ganti popok, bukan karaoke," jawab Hara dengan setengah tertawa.
Jian mendengus sambil mengalihkan pandangannya. "Kau tahu soal popok, aku tahu soal manajemen. Mungkin kita bisa bekerja sama seperti... um, merger perusahaan?"
"Sungguh analogi yang mengerikan," gumam Hara, menggeleng. Tapi dia tersenyum kecil. Setidaknya Jian mencoba, walau perumpamaannya jauh dari kenyataan.
Tidak ingin mendengar tuan muda mereka bertengkar akan pembahasan mengenai bayi. Bi Ijah dan Pak Yoga berusaha menengahi.
" Aduh den, kata bibi mah dibawa ke kamar aja biar tidurnya lebih nyenyak."
"Iya den, Pak Yoga bantu nata barang-barang bayinya ke kamar."
Saran dari pekerja mereka ini tidak langsung diterima begitu saja karena setelahnya Hara dan Jian kembali meperdebatkan akan ditaruh dikamar siapakah bayi ini. Mengingat keduanya tidur di kamar yang berbeda.
Dan pada akhirnya, bayi itu menempati satu kamar tamu--yang disulap menjadi kamar untuk bayi laki-laki itu yang, hey siapa namanya?
***
Malam pertama dengan bayi di rumah benar-benar mengubah hidup Harayanza dan Jiandra.
Setelah perdebatan kamar siapa yang akan ditempati bayi itu, keduanya akhirnya sepakat menempatkannya di kamar tamu yang mereka sulap menjadi kamar bayi. Namun, keputusan itu tidak serta-merta membuat segalanya berjalan mulus.
Tepat pukul dua dini hari, tangisan nyaring menggema di seluruh rumah. Harayanza yang sedang tertidur pulas langsung terbangun dengan panik. Dengan rambut berantakan dan mata mengantuk, ia buru-buru keluar kamar dan hampir bertabrakan dengan Jiandra yang baru saja keluar dari kamarnya dengan ekspresi setengah sadar.
"Kau dengar itu?" tanya Harayanza, meski pertanyaannya tidak perlu jawaban.
"Menurutmu?" Jiandra menguap lebar. "Sudah kuduga ini bakal terjadi cepat atau lambat."
Mereka berdua masuk ke kamar bayi, mendapati si kecil menangis keras dengan tangan mungilnya terangkat. Harayanza menatap Jiandra. "Kau bawa botol susu, kan?"
"Aku kira kau yang ambil," Jiandra balas menatapnya.
"Kenapa harus aku?"
"Kau yang pertama keluar kamar!"
Harayanza memutar bola matanya. "Astaga, sudah. Aku ambil susunya, kau coba tenangkan dia!"
Jiandra, yang tidak punya pengalaman menggendong bayi, hanya bisa menatap bocah kecil itu dengan bingung. Dengan canggung, ia mencoba mengangkatnya, tapi bayi itu justru menangis semakin keras.
"Hei, hei, kenapa dia makin keras?" tanya Jiandra panik.
Dari dapur, Harayanza yang tengah menyiapkan susu meneriakkan jawabannya, "Mungkin karena kau seperti sedang mengangkat koper, bukan menggendong bayi!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Matchmaking || SUNGTARO
FanfictionMenceritakan bagaimana hubungan pertemanan yang menjadi kacau karena pertengkaran, hingga mengharuskan mereka menjalin sebuah komitmen untuk hidup bersama. Kedatangan bayi diantara mereka, akankah menjadi pertimbangan agar keduanya kembali bersama?