Arkan mengemudi mobilnya dengan cepat. Sebelah tangan Arkan yang tak memegang setir merogoh ponsel dan mencari kontak Zanna. Ia menelpon gadis itu tetapi tidak diangkat. Berulang kali menekan nomor gadis itu tetapi tetap tidak ada jawaban. Hampir-hampir melempar ponsel lantaran kesal, ia segera menelpon Braga untuk mencari informasi akan keberadaan gadis nakal itu.
"Bro, kenapa nelpon gue ada u-"
"Lo dimana?" potong Arkan cepat ketika panggilan tersambung.
"Acara prom night. Nyariin Zanna? Tenang, dia ada sama gue" jawab Braga.
"Share lokasi sekarang!" titah Arkan.
"Buat apa? Mau nyusul? Ayolah, biarkan gua punya kesempatan deketin adek lo"
"Share lokasi sekarang!" tegas Arkan tak mau dibantah.
"...oke" ucap Braga setelah hening beberapa saat lalu menutup telpon.
Tak lama sebuah pesan akan titik lokasi Braga dan Zanna muncul. Arkan memindai titik lokasi tersebut dan setelah tahu kemana ia akan menuju, ia pun mematikan ponsel dan melemparnya ke jok disampingnya yang kosong.
Jarak yang ditempuh Arkan dalam perjalanan menuju hotel tempat acara prom night diadakan semakin dekat, namun rasa tidak tenang justru semakin menguat. Apabila ada yang bertanya mengapa setelah lelah bekerja seharian dia justru menyusul gadis yang selalu berhasil membuatnya sakit kepala alih-alih beristirahat, maka salahkan saja adik nakalnya itu. Setelah mengetahui bahwa Zanna kini berada di acara pesta kelulusan membuat sisi posesif Arkan terbangun.
Ia sangat tahu dan sangat paham bahwa Zanna bukanlah gadis yang susah diatur. Apabila ia berkata tidak maka gadis itu akan tetap mematuhinya meski di awal harus berdebat dan merenggut. Zanna tidak pernah membangkang atapun melawan kehendak Arkan secara berlebihan. Tapi itu tidak sepenuhnya cukup untuk menghentikan rasa khawatir yang terus saja membayangi pikirannya. Apalagi penyebabnya kalau bukan ia sangat amat takut kehilangan gadis itu. Ia tahu bahwa ini semua adalah kegilaan. Ia juga menyadari bahwa obsesinya akan gadis cantik itu kini semakin dalam dan seolah tak memiliki dasar. Akan tetapi dia sudah menerima kenyataan dan berdamai kalau reaksinya akan selalu berlebihan kalau menyangkut Zanna. Semua hal tentang Zanna tidak akan pernah ada dalam kategori normal.
Acara kelulusan katanya? Siapa yang tahu apa yang akan menimpa gadis itu kalau ia tidak ada di sana untuk mengawasi. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi kalau minumannya diam-diam diberi obat oleh orang lain. Bagaimana kalau pantat dan dadanya disentuh orang mesum. Hanya anak remaja, tentu saja menjadi sasaran empuk oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Sialan.
Kenapa jalan yang menghubungkan dirinya akan gadis itu terasa panjang dan lama?
Zanna, Zanna, Zanna!
Nama itu terus berputar-putar di kepalanya.
Malam ini ia akan menyeret Zanna pulang. Mau tidak mau gadis itu harus menurut. Setelah malam ini ia akan membawa Zanna ke Bandung, menemaninya, dan selalu berada di sisinya. Betapa bahagianya, setelah lelah bekerja ia mendapati Zanna di apartemennya menyambut kepulangannya. Dan ia akan mudah mengajak gadis itu bercinta tanpa satupun gangguan. Seminggu tidak menyentuh Zanna membuat hasratnya berkumpul dan hampir sampai dibatasnya. Mungkin ia tidak akan membawa Zanna langsung pulang, melainkan menginap di sebuah hotel dan menghabiskan malam yang indah. Membayangkan ia akan berkumpul dengan gadis itu membuatnya kembali bersemangat. Suasana hatinya membaik dan tanpa sadar kini sudah sampai di basement hotel.
Ia menuju resepsionis memesan satu kamar dan melangkah lebar memuju aula pesta. Begitu masuk hingar-bingar orang dan suasana remang dengan lampu yang menyakitkan mata menyambutnya. Semakin masuk ke dalam ia menemukan Braga mengampiri dan menyapanya. Tapi tak dibalasnya karena fokusnya tertuju pada gadis yang duduk di ujung, depan meja bar bersama seorang laki-laki.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
RomancePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
