Enjoy~
Riji mematikan kran air setelah menyirami tanaman yang berada di depan rumahnya. Matahari hampir tenggelam, langit berwana jingga kemerahan dan burung-burung kecil mulai kembali ke sarangnya.
Pemuda itu tinggal bersama saudaranya, kalian bertanya kemana orang tua mereka? Sangat disayangkan nasib dua pemuda itu. Orang tuanya telah pergi menghadap sang pencipta setelah kecelakaan pesawat.
Saat selesai menggulung selang dan meletakkan pada tempatnya. Ia menatap ke jendela, melihat sosok saudaranya, Makoto. Tengah duduk di depan kanvas besar di studionya. Makoto selalu menghabiskan waktu di sana.
Sejak kecil, sang saudaranya menunjukkan bakat luar biasa dalam melukis dan kini ia telah menjadi seorang seniman terkenal. Lukisan-lukisannya dijual dengan harga mahal, dipamerkan di galeri-galeri bergengsi. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Riji sedikit tidak nyaman yaitu..
semua lukisan Makoto selalu tentang dirinya.
Tentu saja, Riji paham alasannya
“Kamu adalah satu-satunya inspirasi sejatiku. Ekspresi yang alami, wajah yang sempurna bahkan kehadiran mu saja bisa menghidupkan setiap lukisan. “
Riji dengan semua pikiran positifnya menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang seorang saudara tapi semakin lama, perasaan aneh semakin tumbuh di dalam Riji.
Hingga pada hari ini, rasa penasaran menguasainya. Riji ingin melihat lukisan terbaru Makoto. Biasanya, saudaranya tidak keberatan menunjukkan hasil karyanya. Tapi kali ini berbeda. Beberapa hari lalu, Makoto terlihat sangat sibuk dan tidak mengizinkan siapa pun masuk ke studionya.
Ketika Riji turun ke lantai bawah, ia melihat meja makan telah tertata rapi dengan makanan favoritnya. Makoto memang selalu memperlakukannya dengan sangat baik, terlalu baik.
Prince treatment. Anjay.
Setiap hari, saudaranya menyiapkan sarapan dan makan malam seolah memastikan Riji tidak perlu bergantung pada siapa pun selain dirinya.
Saat Makoto masih sibuk di studionya, Riji memanfaatkan kesempatan itu. Ia berjalan perlahan menuju ruangan yang selalu tertutup rapat. Untung saja, kali ini pintu studio sedikit terbuka membuat celah kecil yang memungkinkan Riji mengintip ke dalam. Di dalam studio, Makoto berdiri dengan kuas di tangan, matanya fokus pada lukisan besar yang hampir selesai.
Riji menahan napas dan merasa merinding saat apa yang terlukis, bukan karena sang kakak menggambar dirinya.
Tetapi..
Ekspresi pemuda dalam lukisan itu. Wajahnya pucat, matanya kosong seolah-olah tidak memiliki jiwa.
Tapi apa yang lebih mengerikan?
Di sudut bibir pemuda di kanvas itu ada setetes warna merah tua yang sedikit kental tengah menetes perlahan.
"Apa maksudnya ini?," gumam Riji tanpa sadar.
Makoto tiba-tiba berhenti melukis. Seolah mendengar sesuatu, ia menoleh perlahan ke arah pintu. Riji segera mundur dan bersembunyi di balik dinding.
“Anjir. Nih mulut emang,” runtuk Riji sambil menabok pelan bibirnya pelan.
"Riji?.”
“Astaghfirullah, ya allah suaranya. “
Suara Makoto terdengar lembut tapi ada sesuatu dalam nada suara saudaranya yang membuat Riji merasa alarm merah untuk segera pergi. Ia melangkah cepat tanpa menimbulkan suara menuju ruang tamu dan pura-pura duduk di sofa, membuka majalah fasion yang kebetulan ada di sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Halu Bersama
Short StoryIsinya tentang kegiatan pership-an seperti rioncaine, magil, maji, ginji, crowjaki. Ada beberapa kapal Nt/hantu KoCain (Makomi Caine) Marin (Marcel Garin) MaE (Makomi Mirae) Dibuat have fun saja gaes~