Hello!:D
Vote dan comment sangat dibutuhkan ya guys, karena tanpa itu, aku juga merasa tidak enak karena mungkin ada yang kurang di hati kalian dalam membaca karyaku ini.
Jadi tolonglah, tinggalkan cuap-cuap kalian di kolom comment, tentang apa saja boleh, masukan, kritik, saran, atau bahkan request. Aku sangat terbuka!:)
Semoga tak bosan membaca cerita cinta ini haha. Walaupun cerita cinta sendiri belum benar, ternyata membuat cerita fiksi tentang konflik cinta dimana kenyataannya cerita aku sendiri belum lurus rasanya aneh tetapi lucu karena bisa sedikit mengkhayal setidaknya.
Curhat deh. Hahahaha.
Terimakasih dan selamat membaca!
********
"Kita tidak bisa memilih siapa, dimana atau kapan kita akan jatuh cinta. Tidak bisa pula kita berdiskusi kepada sang penarik panah asmara untuk mengarahkan panahnya ke arah mana. Yang hanya bisa kita, aku, kau, dan sang penarik panah lakukan hanyalah mengikuti kemana arah angin akan membawa panahmu." - Author
********
Melody's POV
"Kenapa?"
Aku mendengar suaraku menggema, air mukaku kubuat sekaku mungkin. Bertanya, kenapa aku begini? Jujur saja, aku bingung untuk bersikap.
Bahkan perasaanku campur aduk, antara sedih, senang, kecewa, dan kalut dijadikan satu. Dan aku tidak tahu sikap apa itu.
"Aku ingin kita menjauh dulu" Mataku yang sedari tadi memandangnya datar. Kini membulat, terkejut dengan apa yang meluncur dari mulut Andro.
Dia bohong kan? Apa aku salah dengar?
"Ma.. maksudnya?" tanyaku gelagapan. Tidak mengerti apa yang salah dengan telingaku, tidak mengerti apa yang membuat otakku yang biasanya dapat merespon secara cepat kini bahkan tersendat-sendat.
"Aku rasa, lebih baik kita menjauh" Air muka Andro dingin dan datar sekali, membuat ekspresinya sulit di tebak. Aku diam, tidak bisa menanggapi apa yang sedang terjadi di hadapanku.
"Katakan aku pecundang, tetapi untuk sekarang, tolong menjauh dulu" ujarnya lagi, bahkan kata-katanya yang mantap dan tegas itu membuatku masih terdiam dan bingung untuk menanggapi apa.
Aku tidak menanggapi perkataannya, terlalu terkejut bagiku untuk mendengar penolakan dari sahabat lamamu. Terlalu kecewa ketika seorang yang menyandang titel sahabat lama sekarang meminta menjaga jarak.
Dia beranjak berdiri dan menatap lurus ke arahku, tidak aku dapatkan apa-apa selain sikap dinginnya di dalam mata cokelat itu.
Aku kemudian tertawa perih sambil menatapnya. Dia tidak menanggapi, sikapnya bahkan lebih dingin daripada Orion yang terkadang, bisa sedikit menunjukkan keterkejutannya.
"Jadi begitu.." aku mengangguk-angguk. "Bahkan orang dengan titel sahabat atau bahkan aku anggap saudara tidak mendukung pilihanku, setidaknya dengan titel itu." ujarku menatap dirinya, dengan tatapan yang tak aku tutupi.
Sedih, kecewa, marah, berkumpul jadi satu.
Aku berhak marah, aku berhak kecewa, aku berhak sedih atas apa yang dia lakukan sekarang. Panggil aku si Melody egois, tetapi hatiku benar-benar kecewa atas apa yang ia katakan dan langkah yang ia ambil.
"Aku tahu kamu terluka Andro. Maafkan aku tetapi aku mencintai Orion, dengan tulus." ujarku lalu ikut beranjak berdiri, walau tungkai lututku lemas. Aku bisa mendengar suara petir bersahutan di luar, tetapi ku hiraukan, yang tidak bisa ku hiraukan adalah suara hujan deras yang menghujam bumi, seperti keputusan Andro yang menghujam aku.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Melody of Us
RomanceCerita ini tak ubahnya sebuah cerita cinta biasa. Dengan tokoh yang biasa. Seorang yang dingin dan seorang yang begitu aktif, dipersatukan dalam sebuah keinginan panah sang pemanah cinta. Mereka diikat sebuah cincin, tanpa cinta awalnya. Tetapi p...