*Chapter 64*

353 81 43
                                    

"Papa.. Papa kok nge-blur sih?"

"Haa?"

Entah karena tidak mendengar jelas suara Gara yang teredam masker oksigen atau karena tidak mengerti yang putranya itu katakan, Adryan nampak mengernyit bingung.

"Papa masih hidup, kan?"

"Heh! Kok ngomong gitu? Papa masih hidup ini. Nyata-nyata papa berdiri di hadapan kamu ini loh." Adryan semakin bingung dengan penuturan Gara. Kali ini ia mendengar jelas suara putranya itu. Hanya saja ia merasa tidak mengerti dengan kalimat yang dilontarkan putranya yang terkesan melantur.

"Abisnya papa keliatan buram dimata Gara. Biasanya kan kalo buram pas ngeliat setan aja." Kata Gara lirih sembari melepas masker oksigen dari hidung dan mulutnya dengan mata menyipit.

"Jadi kamu ngira papa ini setan?"

"Hush! Amit-amit, pa. Jangan ngomong gitu." Gara menegakkan tubuhnya menjadi duduk dan mengucek matanya lagi. Mengerjap-erjap sampai penglihatannya kembali jelas.

Adryan pun menghela napas. Putranya itu duluan padahal yang mulai.

"Udah gak sesak?" Adryan pun mengalihkan topik sembari naik ke atas kasur, menempati sisi kosong sebelah Gara, mengecek saturasi oksigen di smartwatch yang masih melingkar di pergelangan tangan putra bungsu nya.

Brak!

"Garaaaaaaa!" Shino memanggil adiknya dengan nada merengek.

Bahu Gara berjengit kaget mendengar pintu kamarnya tiba-tiba terbuka kasar. Disusul penampakan Shino yang masuk ke dalam kamarnya dengan rusuh. Berjalan tergesa-gesa bahkan sampai tersandung kakinya sendiri dan hampir mencium lantai kalau saja keseimbangannya tidak bagus.

Adryan yang masih memeriksa beberapa fitur health tracker di smartwatch Gara pun tak kalah terkejut. Kepalanya sontak menoleh ke arah si pelaku yang membuat keributan.

"Shino! Kamu ini kebiasaan selalu aja bikin kaget. Emangnya gak bisa buka pintu tuh pelan-pelan? Udah tau adeknya jantungan, malah dibikin kaget terus." Omel Adryan, lalu mengusap dada si bungsu dengan lembut.

"Hehe, Maap, pa.. Lupa." Ucap Shino tersadar akan kesalahannya.

Gara memutar bola matanya jengkel. Lupa kok sering!

"Baru aja.. jantung gue anteng, malah lo bikin.. jedag-jedug lagi, bang, bang.." Ujar Gara dengan napas terengah karna detak jantung nya yang berpacu cepat.

"Tapi smartwatch lo gak bunyi, berarti aman." Balas Shino enteng.

Mata Gara langsung menghunus tajam Shino yang sudah berdiri di samping kasurnya. Memang sih smartwatch nya tidak sampai berbunyi tapi tetap saja jantung nya terasa deg-degan dan itu cukup membuat sesaknya kembali datang.

"Hehe, maap.. maap." Ucap Shino lagi, kini sambil nyengir.

"Mau minum." Pinta Gara setelah dirasa napasnya mulai normal. Namun tenggorokannya terasa kering dan masih sakit.

Shino dengan sigap mengambilkan air minum yang kebetulan masih ada tersisa didalam tumbler yang berada di atas nakas samping kasur. Lalu memberikannya pada sang adik.

"Ini, adekku. Minum pelan-pelan." Ujar Shino memberi intruksi dengan lembut.

"Kenapa lo, bang? " Tanya Gara sebelum meneguk air minum yang diberikan oleh Shino. Melihat tingkah abangnya yang satu itu membuatnya heran.

"Kenapa apanya?" Shino malah balik bertanya.

Gara berdecak sebal, "Ck,lo aneh!" Lalu ia menyerahkan kembali tumbler minumannya kepada Shino agar diletakkan kembali ke atas nakas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang