45

9K 291 20
                                        

Revan membolak-balik dokumen yang menumpuk dan membacanya dengan seksama. Ia mempelajari laporan-laporan keuangan dan kinerja di perusahan serta dengan teliti mempelajari surat-surat kontrak kerja sama dengan perusahaan lain tanpa melewatkan satupun.

Namun fokusnya teralihkan pada suara pintu yang dibuka tiba-tiba. Revan mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya lalu menoleh ke arah pintu. Kini Zanna berdiri di sana dengan mimik wajah yang menggambarkan kekhawatiran dan kesedihan. Dia memakai dress yang memukau namun sedikit berantakan dan Revan memang tahu bahwa Zanna pergi ke acara kelulusan setelah diberitahu oleh istrinya. Putrinya itupun menghampirinya dengan tergesa-gesa. Dan begitu berdiri tepat di hadapannya, mata Zanna berkaca-kaca. Matanya sembab dan bengkak, sudah pasti putrinya ini habis menangis entah karena apa, dan ia pun ingin tahu pasti penyebabnya.

"Pa..." Zanna memanggil Revan namun tenggorokannya tercegat tak tahu harus memulai dari mana.

"Kenapa anak kesayangan papa menangis? Siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Revan tak sabar. Dan ia pun berjanji dalam hati bahwa siapapun yang membuat putrinya menangis ia akan memberi orang itu pelajaran.

"Aku tidak ingin ke Bandung, Pa. Aku gak mau ke tempat dimana ada kak Arkan di sana" air yang menumpuk di pelupuk mata kini luruh jatuh ke pipi.

"Beri tahu papa apa alasannya. Bukankah kamu setuju kuliah di Bandung? Kakakmu yang bilang ke papa"

Zanna menggeleng. Ia sama sekali tidak pernah mengiyakan ajakan Arkan untuk bersamanya di Bandung. Namun pria itu yang mengambil kesimpulan sendiri dan mengontrolnya sesuka hati. "Aku sama sekali tidak ingin ke sana pa. Aku tidak pernah setuju saran kak Arkan" Zanna menyeka air mata sialan yang tidak mau berhenti mengalir. "Aku ingin ke luar negeri, pa. Tempat dimana kak Arkan tak akan pernah tahu keberadaanku. Aku berharap papa merahasiakan kepergianku darinya"

"Kamu ada masalah sama kakak kamu? Papa tahu kakak kamu keras, tapi asal kamu tahu dia menyayangi kamu" ujar Revan namum membuat tangis Zanna semakin parau.

"Papa enggak ngerti!"

"Cerita sama papa ada masalah apa supaya papa ngerti" ucap Revan.

"Pa, aku minta tolong sekali ini saja kabulkan keinginanku" Zanna menatap Revan dengan pedih. Hatinya begitu sakit dan pikirannya begitu kacau. Yang dia inginkan adalah menjauh sejauh-jauhnya dari kakak yang terobsesi padanya. Rasa sayang Arkan padanya sangatlah tidak normal. Ia ingin pergi dan memulihkan mentalnya yang dihujam berkali-kali oleh kebringasan Arkan.

Revan terperangah dengan tangis Zanna yang menusuk dan membuat hatinya ikutan sakit. Akhirnya ia bangkit berdiri dan menarik putrinya ke dalam pelukan untuk menenangkannya. "Papa tidak memaksa kamu untuk cerita sekarang. Tapi papa mohon apapun yang terjadi kamu kasih tahu papa. Papa akan bantu" bujuknya.

"Aku hanya ingin pergi, pa. Pergi ke tempat yang jauh" ucap Zanna lalu menyembunyikan wajahnya di dada Revan.

 Pergi ke tempat yang jauh" ucap Zanna lalu menyembunyikan wajahnya di dada Revan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang