46

9K 320 28
                                        

Lagi dan lagi, Arkan berkunjung ke rumah berharap gadis pemalu itu mau keluar dari persembunyiannya. Namun, seperti hari-hari sebelumnya ia tak kunjung bertemu gadis itu lagi. Jangan ditanya betapa rindunya ia. Ia ingin segera bertemu dan berbicara. Tiga minggu ini, dalam kesendirian, ia sudah merenung dan introspeksi diri. Ia cukup tahu bahwa segala hal tentang reaksinya akan gadis itu selalu berlebihan, kecemasan takut akan ditinggalkan membuatnya menggila dan berujung menyakiti gadis itu, apalagi kalau bukan karena obsesinya yang terus berkembang dan tak memiliki jalan untuk kembali.  Sejujurnya ia amat sangat menyesal atas perbuatannya di malam terakhir ia betemu gadis itu sebelum bersembunyi darinya. Ia tak seharusnya memperlakukan Zanna seperti perempuan hina padahal dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin menjadikan gadis itu ratunya penguasa akan cinta dan kasih sayangnya. Akan tetapi perasaan takut bahwa akan miliknya dirampas orang lain yang menjadikan ia kehilangan kendali dan berlagak menjadi antagonis yang kejam di depan gadisnya. Ia ingin sekali saja Zanna memperhatikannya, berharap Zanna membalas perasaannya meskipun seujung kuku. Ia amat sangat percaya diri bahwa cintanya yang besar dapat membahagiakan mereka berdua. Selama Zanna di sisinya ia tak masalah gadis itu belum mencintainya seperti ia yang tergila-gila padanya. Ia yakin suatu hari akan berhasil membuat gadis itu hanya memandangnya. Aaah! Ia sangat merindukan tubuh mungil itu di dekapannya. Ia ingin meminta maaf dan berharap semua baik-baik saja dan kembali seperti semula.

"Pa, bujuk Zanna keluar. Aku ingin ngomong sebentar saja" Arkan berbicara pada papanya yang duduk di seberangnya. Setiap pagi ia akan berkunjung untuk sarapan bersama berharap gadis itu ada di meja makan bersama orang tua mereka.

Terlihat Revan berhenti bergerak. Perlahan ia mendongak menatap putranya yang duduk di hadapannya. "Papa gak bisa bujuk dia kalau dia sendiri tidak mau. Sekarang ceritakan apa masalah kalian supaya papa bisa bantu"

Arkan mendesah putus asa. Lagi-lagi bujukannya tidak mempan. "Pa, izinkan aku bertemu. Aku akan berbicara dengan Zanna dan semua akan baik-baik saja. Aku dan Zanna tidak akan bertengkar lagi"

"Zanna tak ingin bertemu denganmu, Arkan. Mama juga khawatir padanya" sahut Arabella.

"Kenapa ia terus bersembunyi dan mengurung diri di sana? Kenapa kalian semua bisa menemuinya sementara aku tidak?!" Arkan meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, tiba-tiba ia tak lagi berselera makan. "Bahkan kedua temannya saja bisa masuk ke kamarnya, sedangkan aku memohon-mohon di sini tetapi tetap tidak bisa!" Arkan begitu frustasi, ia harap segera bisa menemui gadisnya. Segera.

"Papa, minta maaf tapi Zanna tak mau bertemu denganmu" Revan menghunus tajam pada Arkan. "Dari awal papa sangat penasaran apa yang sudah kamu lakukan pada adikmu. Papa harap kamu tidak terlalu menyakitinya Arkan, atau kamu akan tahu akibatnya"

"Papa mencurigaiku? Apa yang papa curigai?" Arkan balik menatap Revan menantangnya. "Apa yang salah dengan perasaanku padanya? Aku mencintainya. Kami tidak sendarah. Lalu apa masalahnya?!"

"Apa maksudmu?!" bentak Revan. Sementara Arabella menutup mulut lantaran terkejut.

"Aku muak menutupinya selama ini. Dan sekarang aku akan jujur, pa." ujar Arkan. "Aku meminta izin untuk menikahi Zanna. Aku sungguh minta maaf ma, pa. Seharusnya aku jagain Zanna dan tak membiarkannya menangis. Dan aku malah membuatnya menangis, keinginanku untuk memilikinya malah menyakitinya. Tapi aku berjanji sama kalian, bahwa aku akan melindungi Zanna setelah aku memilikinya. Berikan aku restumu, pa"

Sedetik setelah Arkan menyelesaikan ucapannya, tanparan keras mendarat di pipinya. Perlahan ia menyentuh bekas tamparan yang sangat perih itu. Sudah ia duga akan jadi seperti ini.

"Kamu ngomong apa?!" bentak Revan.  "Dia adik kamu! KAMU GILA HAH?!"

"Mas!" Hardik Arabella. Ia memandang sedih putranya. "Mama gak paham apa yang buat kamu jadi gini, nak. Tapi Zanna adik kamu. Meskipun dia buka adik kandung kamu tapi kamu udah mama anggap anak kandung mama sendiri. Mama gak bisa restuin hubungan kalian"

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang