47

7.9K 269 56
                                        

Gigi Zanna bergemelatuk sejak baru turun dari bandara. Salah sendiri ia datang di akhir-akhir bulan tahun ini yang dimana sebagian besar benua Eropa sedang mengalami musim dingin termasuk negara yang ia datangi yakni Perancis. Meskipun ia memakai jas yang tebal tetap tidak membuatnya hangat. Padahal salju tidak turun tapi tetap saja bagi dirinya yang terbiasa hidup di negara tropis merasa sangat kedinginan.

Sebenarnya ia berencana ke negara ini sejak sebulan lalu, namun masih ada beberapa yang mesti dia urus. Ia belum mendaftar di universitas yang ia inginkan atas usulan papanya. Papanya mengatakan ia sebaiknya menikmati waktunya di negara ini untuk beradaptasi dan memulai perkuliahan tahun depan saja. Dan papanya juga berharap tidak sampai setahun ia tidak betah dan memilih balik ke Indonesia. Ia hanya tersenyum dalam hati mendengar itu. Sebaliknya ia malah ingin berlama-lama di negara ini sampai Arkan bisa menyembuhkan obsesinya.

Papa dan mamanya ikut mengantarnya dan akan melihat-lihat sebentar bagaimana kondisi tempat barunya sebelum akhirnya balik ke Indonesia.

Ia tinggal sendiri di sebuah apartemen, Cassy memaksa ikut dengannya dan tinggal bersama tapi ia tetap tidak enak hati merepotkan sahabatnya itu. Sebab ia amat sangat tahu bahwa Cassy memiliki impian yang besar untuk kuliah di Universitas Melbourne, dan kampus impian sahabatnya ada di Australia bukan di negara yang ia datangi kini.

 Sebab ia amat sangat tahu bahwa Cassy memiliki impian yang besar untuk kuliah di Universitas Melbourne, dan kampus impian sahabatnya ada di Australia bukan di negara yang ia datangi kini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hari demi hari berlalu, dan pagi ini Zanna sarapan dengan coklat panas, telur, dan roti panggang. Zanna tidak bisa berbahasa Perancis dan hanya bisa berbahasa inggris hal itu membuatnya terkadang kesulitan. Tapi ia tetap mencoba berbicara dengan bahasa Perancis meskipun kedengaran amat sangat payah dan semrawut. Meskipun begitu mereka sangat menghargainya karena sudah berusaha.

Tubuhnya tidak kedinginan karena ruangan memiliki penghangat. Ia menatap ke luar jendela apartemennya. Arkan tetap berusaha menghubunginya padahal ia sudah mengabaikan pria itu dengan memblokir nomor dan emailnya. Bahkan di sosial media pun Zanna memblokirnya agar pria itu tak akan pernah bisa lagi mendengar kabarnya. Seperti dugaannya Arkan sangatlah keras kepala, berkali-kali ia memblokir pria itu berkali-kali pula Arkan mengganggunya dengan berganti-ganti akun email dan nomor telfon. Pada akhirnya ia mematikan ponselnya.

Ia sudah mengganti sim card baru dan menghapus akun emailnya, dan untuk sementara tidak menggunakan sosial media. Yang mengetahui nomor barunya hanya orang tuanya dan sahabatnya Cassy. Dan sekarang ia merasa damai tidak ada lagi gangguan dari kakaknya.

Sebenarnya menjadi pengangguran tidaklah semenyenangkan yang ia kira. Awal-awal memang memang ia menikmati tapi lama-kelamaan ia menjadi bosan. Rutinitasnya hanya sarapan di pagi hari, jalan-jalan di siang hari, dan malamnya sendirian di kamar apartemennya. Bukan ia tak menyukai negara ini, kalau boleh jujur Perancis sangatlah indah, hanya saja melakukan aktivitas yang itu-itu saja membuatnya jenuh. Ia butuh pekerjaan atau hobi baru untuk menghabiskan waktu agar otaknya tak hanya memikirkan pria yang menjadi alasannya kabur ke sini.

 Ia butuh pekerjaan atau hobi baru untuk menghabiskan waktu agar otaknya tak hanya memikirkan pria yang menjadi alasannya kabur ke sini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pada malam yang gelap dengan sekeliling kamar yang senyap dan dingin, Zanna berbaring di atas tempat tidur. Dia bukan tertidur pulas melainkan hanya berbaring akibat badannya yang terasa tak enak sejak tadi pagi. Sebenarnya waktu siang sudah agak mendingan tapi entah kenapa malamnya kambuh lagi. Ia memilih untuk mencoba tidur berharap setelah istirahat besok paginya ia kembali pulih.

Apakah ia sakit? Tapi ia tak merasa tubuhnya panas kalaupun misalnya ia demam. Ia hanya merasa pusing dan mual. Kemarin pun seperti ini dan ternyata terulang lagi pagi ini dan berlanjut sampai malam.

Merasa kantuknya tak kunjung datang, ia menelepon Cassy. Begitu panggilan terhubung suara ceria sahabatnya menyapanya.

"Lo bilang sedang berlibur tapi kenapa wajah lo keliatan gak bersemangat gitu?"

"Ya, gua sakit terus ngerasa bosan di tempat tidur. Makanya gue telfon lo"

"Sakit?"

"Cuman pusing sama mual biasa. Ini terjadi tiap pagi. Terkadang saat gue mencium makanan olahan daging. Tapi yang paling parah saat pagi pas baru bangun tidur"

"Zan, lo hamil?"

"Tidak Cas, cuman kelelahan"

"Kenapa lo biarin? Lo harus ke dokter. Kalau cuman sakit ringan kayak lo bilang harusnya lo udah sembuh. Lo hamil Zan!"

Zanna bangkit pelan-pelan dari tempat tidur sembari mengerutkan alis. "Enggak Cas. Gua gak hamil"

"Lo udah dateng bulan?"

"Seharusnya enggak sih. Dokter bilang gua gak akan datang bulan karena kontrasepsi yang gua pake"

"Lo yakin?"

Zanna mengangguk. Tapi sebenarnya dalam hati ia juga khawatir. Tak mungkin Arkan menipunya karena jelas-jelas di depan matanya sendiri ia melihat suster yang memberikan suntikan padanya. Ia juga ingat bahwa masih ada tiga hari lagi sebelum jadwalnya untuk menerima suntikan lagi. Sebaiknya memang ia harus ke dokter.


INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang