Revan berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya. Menatap kosong langit malam yang gelap dengan gelas berisi sampanye ditangannya. Berharap alkohol dapat meringankan pikirannya yang kalut namun yang terjadi malah ia semakin tak bisa berhenti memikirkan tindakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Sudah dua hari ia menghindari interaksi dengan keluarganya. Bukannya ia marah pada mereka, melainkan ia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Otaknya tak berhenti memikirkan solusi apa yang harus ia lakukan. Jalannya seolah buntu, dan hal inilah yang menyebabkan ia lebih suka mengurung diri di ruang kerjanya. Berusaha menenangkan diri meskipun saat ini rasanya tak mungkin.
Revan menyesap alkoholnya hingga habis, sudah satu botol alkohol yang ia habiskan tetapi belum cukup untuk membuatnya mabuk. Ia berbalik hendak mengambil satu botol lagi di rak koleksi minuman alkoholnya. Dan ketika mengitari meja kerjanya, tak sengaja pandangannya bertemu dengan Handcame dan Macbook milik Arkan. Ia berhenti dan menatap kedua benda itu dengan benci karena kembali menyulut amarahnya. Semenjak benda itu disimpan olehnya ia sama sekali tak pernah mengecek isinya karena sampai kapanpun ia tidak akan sanggup. Menjadikan benda yang berisi video-video sialan yang dijadikan bajingan itu untuk memanipulasi putrinya sebagai barang bukti saat penyidikan saja ia tak sanggup. Sampai mati ia tidak akan rela mempertontonkan putrinya yang dijamah paksa oleh orang lain. Membayangkan tangisan putrinya dan tubuh yang tak layak diekspos itu dilihat orang lain membuatnya tidak akan pernah sanggup. Ia membanting gelas ditangannya lalu mengambil handcam dan Macbook itu bersamaaan kemudian membantingnya juga. Ia menginjak-injak benda itu dengan sekuat tenaga melampiaskan kemarahannya.
Lelah dan terengah, Revan bersandar di dinding dengan matanya tak lepas dari kedua benda yang kini hancur berserakan di lantai. Perlahan ia menunduk dan mengumpulkan serpihan-serpihan itu kemudian melangkah keluar menuju halaman belakang. Sebelum itu, ia sempat meminta pak Adam untuk datang ke halaman belakang dan membawakan bensin.
Sesampainya, Revan membuang benda rusak ditangannya ke tempat sampah. Dan tak lama pak Adam menghampirinya dengan sebotol bensin. "Ini pak bensinnya. Ini buat apa, pak?" pak Adam menyerahkan botol ditangannya kepada Revan. Revan mengambil botol itu tanpa ada niatan untuk menjawab. Begitu melihat raut muka tak mengenakan majikannya membuat pak Adam beringsut pergi takut terkena amukan. Ia tahu betul bahwa keluarga majikannya terkena masalah yang membuat suasana rumah yang biasanya hangat menjadi mencekam.
Begitu pak Adam pergi, tinggallah Revan seorang diri di halaman belakang tepat di depan tempat sampah. Ia menyirami tong besi itu dengan bensin di tangannya. Lalu merogoh saku untuk mengambil pemantik rokok yang akhir-akhir ini sering ia gunakan. Melempar pemantik tersebut ke dalam tempat sampah dan berakhir isi dalam tempat sampah tersebut terbakar. Tak puas hanya dengan menghancurkannya kini ia membakarnya berharap vidio memalukan Zanna lenyap dari bumi tak bersisa.
Revan terus menerus memandangi api yang masih berkobar. Hingga sebuah sentuhan halus di pinggang mengagetkannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Arabella kini memeluk pinggangnya dari belakang.
"Aku langsung menyusul kesini begitu pak Adam bilang kalau kamu sedang berada disini, mas" suara lembut Arabella tetap membuat Revan tak bergeming. "Kamu sedang apa? Aku khawatir sama kamu kalau kamu terus-menerus diam seperti ini"
"Aku merasa gagal, sayang. Aku gagal menjaga anak-anak kita. Aku terlalu sibuk sama urusan lain sehingga tanpa sadar bahwa hal mengerikan telah terjadi di rumah ini" Revan membuka suara masih memandang api yang kini mulai meredup.
"Ini bukan sepenuhnya salah kamu. Itu juga salah aku mas. Ini kesalahan kita berdua. Kita yang terlalu abai pada putri kita" sahur Arabella kemudian pindah posisi ke depan Revan. Ia menyentuh wajah suaminya dengan kedua tangan. Ibu jarinya mengelus bawah mata suaminya yang menggelap dan terlihat lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
RomancePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
