58

10.5K 339 30
                                        

"Kak jangan gila!" Zanna menggeleng mendengar usulan Arkan. Untuk pergi memancing dengan Revan di laut. Bayangkan hanya mereka berdua di tengah laut yang tidak ada siapapun disana, bisa-bisa ketika mereka berkelahi tidak ada yang melerai bahkan salah satu dari mereka pulang tanpa nyawa.

"Tidak apa, sayang. Aku sering pergi memancing dengan papa dulu" sahut Arkan.

"Jadi apa alasanmu membawaku kak?" Zanna bertanya karena mobil sudah berhenti di parkiran dekat beach club.

"Untuk mengajak mama pergi, aku ingin berbicara berdua dengan papa. Kamu tahu? Pembicaraan antara pria" Arkan terkekeh bermaksud bercanda namun reaksi Zanna jauh dari perkiraan. Zanna terlihat begitu khawatir.

"Jangan membuat masalah, kak. Hubungan kita saja tidak direstui jangan buat papa semakin membencimu."

Arkan menangkup pipi Zanna dan mengelusnya dengan ibu jarinya, "kakak nggak ada niatan untuk mancing emosi papa. Percayalah sayang, aku cuman ingin berbicara dengannya."

Lama terdiam dan saling menatap, akhirnya meskipun dengan berat hati Zanna mengangguk setuju. "Baiklah, tapi janji sama aku kalian berdua pulang dengan selamat" ucapnya.

"Janji" Arkan berucap lalu mengecup pelipis gadis itu. Mereka keluar dari mobil bersamaan. Dan melangkah menghampiri pasangan suami istri yang hendak naik ke kapal yacht.

"Ma," Zanna memanggil membuat pasangan suami istri itu menoleh. Mereka pun saling berpandangan dengan bingung ditambah ada Arkan di sana sudah lengkap dengan alat dan pakaian mancingnya.

"Ngapain kamu kesini?" Revan bertanya sinis.

"Mau mancing bareng papa, mau ngapain lagi?" Arkan mengedikkan bahu cuek.

"Tidak ada yang mengundangmu kesini. Pergi!" ketus Revan.

"Jangan galak begitu, pa. Padahal dulu kita sering mancing bersama. Papa kan tidak jago mancing. Mending aku ikut, selain papa ada temannya, salah satu diantara kita harus ada yang jago mancing bukan? Ya, biar nggak sia-sia pergi ke tengah laut," Arkan berucap dengan nada jenaka.

Zanna berdehem. "Ma, di sini ada cafe yang katanya makanannya enak-enak. Mama mau temenin aku kesana? Aku pengen banget kesana tapi maunya sama mama" tanpa suara Zanna menggerakkan mulutnya berkata, 'please ma'.

Arabella yang paham pun mengangguk. "Boleh, mama juga males panas-panas di laut. Takut gosong"

"Yuk, ma" ajak Zanna ceria dan menggandeng tangan Arabella untuk menuju cafe yang tidak jauh dari pantai.

Arkan hendak nyelonong naik ke kapal, tapi Revan menahannya. "Saya tidak izinkan kamu naik ke kapal saya"

"Dasar pelit, numpang saja tidak boleh" guman Arkan tetapi tetap naik tanpa perdulikan tatapan marah Revan yang terus menghunus tajam padanya. Dan tanpa rasa malu menaruh barang-barangnya dan seenak hati memerintah nakhoda seolah kapal itu adalah miliknya.

"Dasar berandalan!" desis Revan kesal lalu menyiapkan alat pancingnya.

"Yang ini saja, pa" Arkan mengulurkan umpan miliknya ketika Revan hendak memakai umpan palsu yang tampilannya saja tidak menarik. Ayolah umpan itu harus berwarna cerah dan cantik.

Dengan cemberut Revan menerimanya. Ya, memang selama ini ia selalu bodoh dalam hal memilih umpan ikan. Bukannya mendapatkan ikan ia malah selalu pulang dengan kesia-siaan.

Mereka berdua bersamaan melempar umpan ke laut dan duduk bersisian menunggu umpannya dimakan oleh ikan dalam hening.

Revan berusaha tak melihat Arkan sementara Arkan berusaha memulai pembicaraan tanpa menyulut amarah pria sensitif di sampingnya.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang