Pria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit.
Arkan t...
Pernikahan digelar dengan megah di sebuah gedung berarsitektur klasik. Musik lembut mengalun, tamu berdatangan dengan senyum dan ucapan selamat. Mimik wajah mempelai pria berbanding terbalik dengan wajah cerah para tamu, wajahnya malah terlihat masam dan sedikit kemarahan. Awalnya semua baik-baik saja, ia tersenyum begitu bahagia dalam upacara sakral ini. Namun seketika berubah kala laki-laki tidak jelas dan merepotkan seperti Braga datang dan mengumpat di pesta resepsi pernikahan yang meriah.
"Apa yang lo pikirin, Zan? Bukannya kabur ke Prancis seperti rencana awal malah kembali kejebak sama bajingan ini! Sakit hati gue! Tahu gini dari awal aja lo gue bawa kawin lari!" Braga terus mengutarakan kekesalannya di saat pengantin sedang beristirahat dan makan siang sebelum kembali ke agenda berikutnya.
Zanna hanya meringis dan sesekali tertawa anggun. Sementara Arkan tidak mampu menutupi raut bak ibu-ibu yang kalung emasnya dibilang imitasi. Alias marah dan memiliki keinginan besar untuk men-cor mulut yang terus mengatainya.
"Tutup mulut lo sebelum gue ninju mulut anjing lo itu!" desis Arkan menahan amarah.
"Kenapa? Ngancam gue? Gila, tuhan kok baik banget sama lo anjing? Udah nyakitin calon pacar gue sekarang lo malah dapetin dia secara resmi! Jangan seneng dulu lo dildo geter. Pernikahan belum tentu lepas dari perceraian atau nggak lo mati muda. Jangan heran kalau gue yang maju paling depan kalo istri lo jadi janda!" cetus Braga lagi.
"Nggak akan gue biarin istri gue jadi janda. Jangan harap!" meskipun meladeni Braga adalah hal yang membuang-buang waktu, tetap saja Arkan menyahut.
"Braga, jangan ngomong gitu ih" ucap Zanna dan hal itu membuat Braga seketika terdiam.
Cassy meringis, ia merasa bersalah pada Zanna karena membawa sepupunya yang otaknya sudah di dengkul ini datang sebagai partner-nya menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya. Ia mendelik kesal pada Braga, lalu seketika merubah ekspresinya menjadi lembut ketika berbicara pada Zanna. "Lo cantik banget pake gaun itu," pujinya tulus, karena mau bagaimana pun sahabatnya itu selalu terlihat cantik dimatanya.
"Makasih, Cas. Lo juga cantik."
"Eh, om Revan kenapa nangis mulu ya? Mana sok tegar gitu lagi mukanya padahal matanya yang berkaca-kaca nggak bisa boong," celutuk Cassy.
"Soalnya anaknya nikah sama laki-laki tampang yang-" Braga memindai Arkan dari atas sampai bawah. "-lihat noh! Tampangnya aja gini!"
"Apa? Emang tampang lo kayak penjahat kelamin gitu. Jangan marah! Ini fakta! Gue aja paham gimana perasaan om Revan sekarang. Kasian banget dia punya menantu modelannya begini," lagi Braga mencoba memprovokasi.
"Mentang-mentang orang lagi rame, mulut lo busuk banget! Jangan harap lo baik-baik saja setelah ini," ancam Arkan.
"Tau nih, si ale-ale rasa pisang ini mulutnya nggak bisa diem. Pusing gue dengernya. Yang ikhlas dong! Berarti kan bukan jodoh lu!" Cassy menyahut. "Mending lo pulang duluan deh."
"Nggak tahu lagi gue," Braga bangkit dari duduknya. "Kecewa dan patah hati banget gue," Braga melangkah gontai meninggal meja mereka.
Cassy pun bertanya dengan suara yang lantang, "mau kemana lu?"
"Ngudut!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.