"Masuk, Kak."
Trisha mempersilahkan Jihan untuk masuk kedalam rumahnya.
Jihan duduk diruang tamu selagi Trisha mengambilkan nya minum dan juga camilan.
Trisha yang menghubungi Jihan untuk datang. Ia ingin menceritakan tentang apa yang terjadi. Berharap, Jihan bisa menerima keputusannya dan akan membujuk Jevan untuk juga bisa mengerti keinginan Trisha.
"Kakak pasti udah tau kan, kalau aku-" Jihan mengangguk sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Berapa bulan?" tanya Jihan.
"Masuk empat bulan."
"Kapan kamu tau?"
"Dari awal aku telat menstruasi."
"Kamu bilang Jethro saat itu juga?"
Trisha mengangguk, tapi ia menunduk lebih dalam.
Jihan menelan ludahnya, merasakan sesuatu yang tidak beres. "Apa kalian memutuskan untuk, aborsi waktu itu?"
Air mata Trisha mulai menetes, ia hanya menjawab dengan anggukan, sambil menggigit bibirnya agar tidak terlalu keras menangis.
Jihan duduk di samping Trisha lalu memeluk tubuh itu, membuat Trisha menumpahkan segala kesedihannya.
"Aku tau aku salah, Kak. Aku minta maaf."
Jihan hanya bisa menepuk pelan punggung Trisha sambil terus mendengar ceritanya.
"Dari awal aku pacaran sama Jethro. Aku udah tau kalau dia mau dijodohin, tapi aku terlanjur suka sama dia jadi aku nggak peduliin itu.
Tapi demi tuhan, aku sama sekali nggak ada niat jahat untuk Jethro hamilin aku, biar dia nggak jadi di jodohin."
"Kenapa kamu nggak mau dia untuk tanggung jawab?" Jihan memberikan tisu kepada Trisha.
Trisha mengelap air matanya, lalu kepalanya menggeleng.
"Waktu dia tahu kalau aku hamil," Trisha mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan, "Dia kasih aku uang satu juta untuk aborsi.
Disitu aku rasanya campur aduk. Aku marah. Aku sedih. Bisa ya, dia ambil keputusan secepat itu tentang hal yang kita 'perbuat' berdua. Tapi aku inget, kalau ini jalan yang aku ambil di awal. Aku yang milih untuk sama-sama dia, padahal aku tau dia bukan buat aku."
Jihan menggenggam tangan Trisha, "Kamu harus tetap minta dia untuk tanggung jawab, Sha."
Trisha tersenyum kecil, "Kakak tau? Ibunya Jethro udah tau soal kandungan ku, dan kalimat pertama yang keluar dari mulut beliau adalah 'kamu yakin itu anak dari Jethro?'"
Mendengar itu, hati Jihan rasanya terbakar.
"Dari situ aku semakin sadar, aku nggak mau Jethro untuk tanggung jawab." Trisha memegang perutnya. "Anak ini nggak salah apa-apa. Yang salah adalah aku dan Jethro. Aku nggak mau, kalau dia akan menghadapi kejamnya mulut orang-orang yang mempertanyakan kehadirannya nanti. Aku nggak mau, dia tumbuh dilingkungan yang nggak menginginkan dia.
Aku yakin aku bisa besarin dia sendiri, sebagai Ibu sekaligus Ayahnya."
Terjadi jeda beberapa saat karena Jihan tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia membenarkan, tetapi juga menolak pilihan itu.
"Aku punya kakak kandung perempuan, sekarang dia lagi kerja di luar negri. Dia orang kedua yang tau soal kehamilan ku dua bulan lalu. Dia bilang, 'Kalau nggak ada yang mau menerima keputusan mu, jangan khawatir, kamu akan Kakak bawa kabur kesini. Kita tinggal sama-sama disini. Kakak juga nggak sudi punya adik ipar kayak gitu. Good Choice.'. " Trisha tersenyum mengingat kalimat Kakak nya itu.
"Aku tau Kakak aku marah, tapi dia langsung dukung keputusan aku tanpa tanya apa alasannya.
Aku kasih tau Kak Jevan juga berharap kalau Kak Jevan akan dukung keputusan aku. Tapi aku salah, Kak Jevan malah marah. Walaupun tentu aku bisa maklumi itu.
Aku minta Kakak kesini buat bantu ngerayu Kak Jevan. " Trisha berganti menggenggam tangan Jihan.
"Tolong kasih pikiran terbuka untuk keputusan aku. Aku beneran mengambil keputusan ini dengan dan tanpa pakasaan siapapun. Aku tau aku siap jadi Ibu. Aku tau aku bisa."
Jihan menghela nafas, merasa berat dengan permintaan Trisha. Karena, Jihan sendiri pun masih belum sepenuhnya bisa memahami keputusan Trisha. Tetapi disisi lain, ia mengerti kenapa Trisha mengambil keputusan seperti ini.
"Nggak janji, tapi bakal aku coba."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
BECAK
ChickLitPerkumpulan anak BEM Kocak. Slice of life yang pemeran utamanya Jihan.
