Better

6.5K 179 8
                                    

Tasha

Waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, antara ingin tidur dan takut jika saat bangun nanti aku malah terlambat untuk ke sekolah. Sial, gara-gara Arim mengancamku kemarin, aku tidak bisa fokus dengan segala hal, aku hanya fokus tentang ancaman dia.

Walau sebenarnya perasaanku agak lebih baik setelah aku menceritakan semuanya ke Kak Andra, tetapi tetap saja, aku tetap tidak bisa tenang tanpa memikirkan hal itu. Aku bisa gila jika setiap malam aku insomnia karna memikirkan ancaman Arim tersebut, bagaimana dengan keadaanku nanti di sekolah? Aku bisa mendapatkan surat keterangan dan surat panggilan wali murid karna aku selalu tidur di kelas saat jam pelajaran.

Uhh aku tidak mau hal buruk itu sampai terjadi.

"Ga tidur sha?" Tiba-tiba suara ngebass khas kak Andra terdengar di kupingku, aku juga mendengar ia menutup pintu kamar kami. Aku menengok, dan mendapatinya memegang gelas dan menuju ke tempat tidur, "Eh itu kak.... anu.. aku kebangun,". "Yaudah, minum dulu nih," lalu ia menyodorkan gelas yang ia pegang tadi kepadaku.

"Loh aku kira kakak bawa gelas itu buat kakak, aku juga ga sadar kalau kakak bangun dan pergi ke belakang," aku bingung, aku tidak merasakan gerakan saat ia bangun, apa karna aku sedang tidak fokus?. "Karna kamu lagi ga fokus mikirin masalah kamu yangdiancem Arim itu," asataga, dia membaca pikiranku lagi. "Aku juga tau kalau dari tadi kamu tuh ga tidur, makanya aku bawain kamu air putih ini," tambahnya.

"Well, aku ga pernah janji bukan untuk tidak menggunakan kemampuan alamiahku ini ke kamu?" Katanya, mungkin karna aku terlanjur menunjukkan wajah kesal karna dia selalu memabaca pikiranku. "Kesel tau! Kenapa kamu menyalahgunakan kemampuan kamu itu!". "Ayolah sayang, kamu lucu deh kalau lagi marah gitu," lalu ia mencubit pipi ku dengan kedua tangannya setelah ia meletakkan gelas tadi di atas nakas.

"Sayang, maaf sebelumnya kalau kamu menganggap aku sudah menyalahgunakan kemampuanku ini, tetapi aku bisa gila kalau aku gak tau perasaan istri aku gimana dan aku hanya egois memikirkan pekerjaan. Wanita memang sangat pandai untuk selalu menutupi kesedihan dan keresahannya, dan aku beruntung, sekalipun kamu ga ngasih tau apa yang sedang kamu pikirkan sampai membuat kamu insom begini, tetapi aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Aku takjub, kamu termasuk perempuan yang terbuka akan masalahnya,"

Mungkin dia benar, dan memang dia benar, karna tidak seharusnya aku menutupi apa yang sedang aku pikirkan terhadapnya, "aku pusing kak, aku ga ngerti harus gimana lagi untuk menghadapi Arim. Dia itu tampak innocent tapi aslinya dia itu ular, dia memang ular, atau buaya entahlah dia kejam!" Amukku yang kusertai dengan menyembunyikan wajahku di dada bidangnya.

Tanpa ku rasa, aku telah membasahi kaus putihnya. "Sayang.... ayo menangislah, jika itu bisa membuat kamu jauh lebih baik," katanya dengan nada yang sangat lembut bagaikan seorang ibu menghibur anaknya yang sedang sedih. Dia semakin mempererat pelukan kami, aku merasa nyaman. Aku merasa seperti berada dipelukan seorang ibu. Aku tau ini aneh, tapi itulah yang aku rasakan.

Andra

"Jadi besok sore ada regen? Oh oke, siap gue dateng kok," aku melihat temanku Donny sambil menaruh handphonenya di sakunya, ia berjalan menujuku, dan ia mempercepat langkahnya ketika dia melihatku. "Woi kakak galak!!" Panggilnya, yang suaranya menggelegar sampai satu lobby. "Apaan sih, norak banget lo," lalu dia hanya memamerkan senyum kudanya sambil menaik turunkan kedua alisnya, dan menepuk pundakku dengan keras, "astaga sakit! Bisa ga sih lo stop KDRT ke gue?" bentakku dengan nada sedikit dikemayu-kemayukan.

"Ntar lo pas ngelatih didepan junior kaya tadi aja ya ngomongnya, soalnya gue baru melihat sosok lo saat lo ngomong nada alay kaya tadi," katanya. "Kurangajar lo anak barongsay!"."segala lah lo ngelucu, jayus dasar!" Huh aku sudah mulai lelah saat dia sudah memenangkan pembicaraan ini. "Terserah lo, dan lagi, ngapain lo ada di kantor gue? Mau nyolong?". "Gila lo yak, gue kesini ingin meminta lo untuk menemani gue jadi pelatih gadungan lagi," tunggu ini kesempatan besar!! "Kapan?". "Sore ini," aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkan Arim.

I love You, My Cutie Little GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang