26

80 9 4
                                        

Pagi itu, ketukan keras di pintu membangunkan Weir dari tidurnya yang baru dua jam.

Dengan mata setengah terbuka, ia menoleh ke samping dan tersenyum puas melihat "karyanya" yang masih menghiasi tubuh Korn. Bekas merah ungu di leher dan dada pasangannya menjadi bukti panasnya malam tadi.

Perlahan, Weir melepaskan pelukan, menggeliat kecil, lalu bangun dari kasur. Semalam, setelah Korn terlelap ia membersihkan tubuh sang kekasih, memanggil room service untuk merapikan kamar, hingga ruangan kembali bersih seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Weir menggerutu kecil sambil meraih ponselnya. Jam 6 pagi? Siapa yang berani mengganggunya pagi begini? Dengan malas, ia menyeret kaki menuju pintu. Begitu dibuka—matanya langsung melebar.

Di hadapannya berdiri Singto dan Krist, wajah keduanya penuh tanda tanya. Seketika rasa ngantuknya hilang begitu sahaja.

"...Daddy? Papa?" suaranya serak. 

Kedua orang tuanya mendapat kabar dari anak buah bahwa Weir dan Korn menginap di kamar yang sama dan tidak keluar sejak kemarin. Mereka datang sendiri untuk memastikan. Rasanya aneh, pagi Weir kata mereka sudah putus, tapi malamnya malah satu kamar?

Singto menatap tajam. "Apa yang kamu lakukan semalaman dengan Korn di sini?"
Jantung Weir berdegup kencang. "A-aku..." Weir gagap.

Krist tidak bicara. Ia langsung berjalan melewati Weir, menuju ranjang tempat Korn masih terlelap tanpa izin. 

Panik, Weir buru-buru menyusul, "Pa! Jangan—" tapi terlambat—selimut Korn sudah sedikit melorot, memperlihatkan lehernya yang penuh bekas ciuman.

Singto langsung menyusul, ia tidak terkata melihat apa yang baru sahaja di lihat Krist. Ia langsung menatap ke arah Weir meminta penjelasan. 

Weir yang di pandang kedua orang tuanya langsung gugup, tatapan tajam seolah menembus jantungnya. Weir segera menarik kedua orang tuanya ke sofa, mencoba menghalangi mereka membangunkan Korn.

"Apa ini, Weir? Bisa jelaskan?" suara Krist dingin menusuk.

"P-pa... ini nggak seperti yang—AUHH! Papa!!" jerit Weir saat telinganya dicubit keras.

"Ingin alasan apa huh? Sudah jelas apa yang berlaku saat ini" Krist membentak, ia benar-benar murka.

"Kalian belum menikah, tapi berani tidur satu ranjang?! Dulu daddy sama papa-mu nggak pernah begitu sebelum resmi menikah. Kami menunggu waktu yang tepat."  ujar Singto, wajahnya penuh kekecewaan.

Weir meringis, mencoba melepaskan cubitan Krist. "Ya... gapapa kan, biar impas..."

Keduanya langsung menatap. "Impas? Maksudnya?"

Wajah Weir langsung pucat.Sial. Lidahnya terpeleset. Tanpa sadar ia telah membongkar rahsianya, "Nggak, nggak—AUHH! Sakit, Pa!" jeirt Weir kala cubitannya semakin keras.

Krist menuntut ingin tahu, "Apa maksudmu 'biar impas'? Jelaskan sekarang!"

Weir menelan ludah, akhirnya menyerah. Ia tidak bisa berbohong pada sang papa. "Dulu... aku yang di bawah... gara-gara Phi Korn nggak sengaja minum dua gelas obat perangsang. Malam tadi kan, aku di atas.. Jadi sekarang imbang."

Krist memicingkan mata. "Saat kalian di Paris waktu itu?"

Weir mengangguk cepat. "I-iya... tapi jangan marahin Korn! Dia nggak sengaja..."

Krist melepaskan cubitan, mengembuskan napas berat, jelas menahan marah. Sia-sia sahaja dirinya marah, semua sudah terjadi.

"Kalian harus menikah." ujar Singto memutuskan. Tiada gunanya marah-marah, itu tidak akan menyelesaikan apa-apa.

MINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang