Hai! Update lagi hihi.
Semoga suka ya<3 Please leave some comments and votes.
Maaf kalau part ini kependekan:( Oh ya, baca ceritaku yang lain ya, Queen of The South Sky!:D
Terimakasih dan selamat membaca.
******
"Apa takdir sedang menguji cinta kita? Jika memang begitu, tolong sayangku, buktikan pada takdir itu bahwa cinta kita ada. Bahwa cinta kita bukan suatu kesalahan. Bahwa cinta kita abadi sampai bumi ini melebur jadi satu dalam kegelapan angkasa."
******
"Jadi, apa yang ingin kau jelaskan, Tuan Hermawan?" tanya Gita yang sedang berkacak pinggang.
Setelah keributan yang ditimbulkan Gita. Orion pun menggotong Gita dan Ardi ke dalam ruangannya, tempat dimana semua kejadian kacau ini dimulai.
"Aku yang ingin bertanya itu darimu. Darimana kau dapatkan informasi sialan itu?" tanya Orion yang kini menatap Gita dengan frustasi. Ardi sedari tadi diam saja, dia tipikal orang yang tidak ingin masuk ke dalam permasalahan yang ruwet dan njelimet seperti ini.
"Tentu dari korbannya sendiri" ucap Gita mantap. Orion menepuk dahinya dan mengacak rambutnya, benar-benar frustasi.
"Pantas saja." gerutu Orion sambil mengepalkan tangannya. Berita itu benar-benar membuatnya terkejut. Bercinta? Dengan Sheila? Sampai tanaman cabai berbuah durian, dia tidak akan pernah mau.
"Apa maksudmu?" ucap Ardi. Kini lelaki itu angkat bicara dengan sebelah alis terangkat, tetapi Gita makin kesal dengan tingkah Orion yang makin tidak terlihat berdosa atau bersalah.
Sesuai dengan fakta, perempuan lebih bermain emosi sedangkan pria bermain dengan logika. Saat-saat seperti ini, mungkin Ardi lah yang mengerti kemana arah permasalahan ini berujung.
"Tentu saja, informasi itu tidak benar" ujar Orion sambil memutari meja kerjanya dan memilih duduk. Dia benar-benar sudah lelah.
Ardi tersenyum singkat dan Gita menganga lebar.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu bodoh!" gerutu Gita lalu berjalan ke arah meja kerja Orion.
"Tentu saja aku tidak melakukan itu kepada orang yang bukan tunanganku, Gita! Kau kira selama ini aku begitu menyukai Sheila? Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya Orion panjang lebar.
"Tentu saja aku tidak percaya padamu, Melody tidak mungkin berbohong ketika dia begitu mencintaimu, bodoh" tandas perempuan itu.
Jantung Orion berdetak lebih cepat ketika nama gadis-nya itu disebut. Lalu indra pendengarannya menangkap beberapa kata.
Begitu mencintaimu?
"Tunggu" ujar Orion dengan cepat. Hatinya kini terasa lebih kacau dari sebelumnya. Gadis-nya mencintainya? Apakah itu sungguhan? Dia pernah mendengar pernyataan langsung dari mulut Melody ketika Dia memergoki Melody bersama Andro dulu.
Tetapi, dia pikir Melody hanya mengelak dari pertanyaan Andro. Karena bagaimanapun Melody sudah bertunangan dengannya, suka atau tidak. cinta atau tidak.
Tidak pernah terpikir Melody akan mencintainya secepat ini, bahkan ketika mendapat kabar buruk yang menyesatkan itu.
"Kau bilang apa?" tanya Orion memastikan hal itu bukanlah suatu khayalannya semata.
"Dia, mencintaimu. Cukup, tidak ada pengulangan" ujar Gita yang kini berbalik dan menarik Ardi yang tengah bersender pada rak buku, dan mencari kemungkinan apa yang dapat di simpulkan dari semua kejanggalan ini.
"Aku akan percaya kalau kau buktikan, Orion. Kalau tidak, jangan harap ada penerimaan maaf dariku atau dari tunanganmu." ujar gadis itu, lalu membuka pintu ruangannya. Orion hanya diam di tempat. Tampak shock dengan apa yang baru saja dia dengar.
Bukan, bukan ancaman Gita. Tetapi kabar bahwa Melody mencintainya.
"Dan oh. Jangan harap juga tunanganmu akan kembali kalau kau tidak bisa buktikan" tandas Gita. Lalu keluar dari ruangan Orion, diikuti Ardi.
"Kau bisa menelponku jika butuh bantuan" pesan Ardi, dijawab dengan anggukan kepala Orion. Lalu tinggal lah dia sendiri, dengan pikiran dan hati yang sedang berkecamuk.
Dia mencintaiku. batinnya.
Dan aku melakukan hal bodoh ketika aku mendapatkan cintanya. gerutunya.
Aku bersumpah, akan kubuktikan bahwa semuanya tidak benar sama sekali, dy. Dan kita akan bersatu dengan perasaan yang sama.
***************
Dua hari kemudian..
"Ini berkas yang harus di tanda tangani" ujar Keno. Orion mengambil map itu dengan cepat dan meneliti setiap katanya, setelah memakan waktu dua menit, lelaki itu membubuhkan tanda tangannya dan memberikan map itu pada Keno.
"Ayolah, pak bos. Kenapa murung begitu?" goda Keno pada teman semasa kuliahnya itu, dan ah ya, bos-nya yang bahkan belum mengadakan kelulusan.
"Diamlah" gerutu Orion yang kini melamun lagi. Dia masih mencari bagaimana caranya membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Terlalu banyak racun yang masuk ke dalam otak Melody.
"Soal tunangan lo , apa ada hubungannya dengan mantan sekretaris lo itu?" tanya Keno lagi. Orion kini berganti menatapnya dengan tajam, namun menyiratkan jawaban benar.
"Maaf, bukan maksud gue menyampuri urusan kalian" lanjut Keno sambil mengangkat kedua tangannya.
Orion menghela nafasnya dan mengangguk sekilas. "Ada sesuatu yang terjadi di ruangan gue dan menimbulkan kesalahpahaman." ujarnya, sedangkan mata Keno membulat.
"Lo affair? Serius?" tanya Keno tak percaya. Orion yang menghadapi reaksi Keno hanya berdecak.
"Sudahlah" gerutu Orion yang kini beranjak berjalan keluar ruangannya. Tidak ada gunanya berbicara dengan Keno. Hasilnya akan sama seperti berbicara dengan Gita.
"Yah, kalau lo gak melakukannya, kenapa tidak berikan bukti saja?" tanya Keno ketika dia sudah berada di luar ruangan Orion. Orion mengunci ruangannya dan melengos.
"Sedang gue cari" gumam Orion lalu mengeluarkan kunci mobilnya.
"Bukannya bisa di dapat dengan mudah?" tanya Keno lagi. Orion menatapnya dengan tajam meminta penjelasan.
"Mata lo jangan nusuk gitu dong"
Orion memutar bola matanya dan memilih berjalan meninggalkan Keno, sampai lelaki itu menyebutkan satu kalimat, yang membuat Orion menghentikan langkahnya.
************
Orion tersenyum penuh kemenangan ketika dia sedang menonton sebuah kejadian lampau dari televisi kecil di ruang keamanan kantornya.
Kata-kata Keno tadi memang brilian, Orion bahkan sampai melupakannya dan menghabiskan dua hari terbuang sia-sia.
"Tolong di copy-kan pak." ujar Orion sambil menyodorkan flashdisk pada petugas keamanan yang berjaga di ruang pengendali CCTV.
Setelah di copy, Orion bergegas berjalan ke areal parkirnya. Tetapi dia berhenti di depan mobilnya, sambil berpikir. Flashdisknya menggantung, terikat dengan kunci mobilnya.
Tidak mungkin dia menemui Melody sekarang, walaupun satu bukti sudah berhasil dia dapatkan.
Sudah dibilang, racun yang diberikan wanita itu kepada tunangannya terlalu banyak. Tidak mungkin hanya dengan satu bukti, dia mendapatkan kepercayaan Melody kembali.
"Sial, bukti apa yang harus aku berikan ketika aku sendiri tidak tahu salahku apa saja." gerutunya dan kemudian memilih masuk kembali ke dalam kantornya. Berusaha menemui Keno yang mungkin dapat mengeluarkan ide cemerlangnya lagi.
"Orion"
Tetapi langkah Orion terhenti mendengar namanya di panggil seseorang.
Seseorang yang tak pernah ia sangka, akan menemuinya di saat seperti ini.
************
To be continued...

KAMU SEDANG MEMBACA
The Melody of Us
RomantizmCerita ini tak ubahnya sebuah cerita cinta biasa. Dengan tokoh yang biasa. Seorang yang dingin dan seorang yang begitu aktif, dipersatukan dalam sebuah keinginan panah sang pemanah cinta. Mereka diikat sebuah cincin, tanpa cinta awalnya. Tetapi p...